annur2.net – Masih dalam suasana sejuk kota Malang, Ahad, 3 Agustus 2025 Pondok Pesantren Wisata An-Nur II “Al-Murtadlo” kembali menyambut tamu demi terjalinnya hubungan baik diantara keduanya. Dalam kunjungan terbaru ini An-Nur II kehadiran yayasan yang bergerak di bidang sosial dan keagamaan.
Pengurus Yayasan Berbagi Kebahagiaan Anak Yatim melaksanakan kunjungan berorientasi kepada kehidupan pesantren. Agar nantinya anak-anak yatim yang ada di yayasan tersebut bisa mendakwahkan ajaran Islam
“Semoga anak-anak yang dikenalkan pondok pesantren bisa meneruskan perjuangan mendakwahkan agama Islam.” Salah satu ujar sambutan dari perwakilan rombongan, Kiai Mahmud.
Mereka membawa 24 anak yatim baik laki-laki maupun perempuan. Yayasan tersebut mengetahui An-Nur II dari salah satu alumni yang berada di desa Waru, Sidoarjo. “Dari alumni yang ada di daerah Waru situ.” Ungkap Ustaz Muhammad Rohimin, ketua rombongan kunjungan.
Jamuan Masyayikh untuk Para Tamu
Meski Dr. KH. Fathul Bari, S.S., M.Ag., sedang menjalankan ibadah umrah, kunjungan tetap berjalan dengan semestinya. Ag. Helmi Nawali, S.S., M.Ag., mewakili beliau menyambut kehadiran para tamu dari Sidoarjo.
Gus Helmi menceritakan salah satu kisah yang ada pada zaman Nabi Nuh kala itu. Nabi Nuh saat bertemu seekor anjing yang jelek rupanya.
Beliau mengutip dari kitab Umdat al-Qāriʻ karya Syekh Badruddin Al-‘Aini. Kala itu Nabi Nuh sedang berjalan kemudian bertemu seekor anjing.
Anjing tersebut buruk rupa yang tidak nyaman jika terus melihatnya. Dalam benaknya terlintas pikiran rupa buruk anjing itu, dan beliau ungkapkan terhadap anjing tersebut, “Betapa buruk rupa makhluk ini.”
Waktu itu juga Allah memberikan kuasa pada anjing untuk menjawab perkataan Nabi Nuh. Anjing itu mengatakan ke Nabi Nuh siapa yang ia cela, ukiran (makhluk) atau dzat yang menciptakan. Apabila itu tertuju untuk makhluk sungguh si anjing tidak memilih kehidupan yang sekarang. Apabila celaan itu untuk Sang Pencipta, maka celaan itu tidak patut bagi-Nya.
Mendengar jawaban itu Nabi Nuh mengalami penyesalan yang luar biasa. Setiap kali ingat kisah ini beliau selalu menangis. Maka arti nama Nuh itu adalah penyesalan yang berat. Nama asli Nabi Nuh adalah Abdul Ghafar.
Jangan pandang sesuatu dari rupanya hingga meremehkannya. Sekecil maupun seburuk apapun bentuknya. Dia tetap ciptaan Allah yang Maha Sempurna. Menyakiti ciptaan sama halnya menyakiti Sang Penciptanya. Nabi Muhammad juga pernah menghimbau kita dalam ucapannya:
المُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ المُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
Artinya: “Sejatinya seorang muslim adalah menjaga lisan dan tangannya.”
(Abu Raihan Efendi/Mediatech An-Nur II)