Lagi-lagi hari selasa, batin Riyan, santri senior di Pondok Pesantren Wisata An-Nur II “Al-Murtadlo”. Bukan tanpa sebab Riyan membatin demikian. Sudah beberapa kali ia merasakan kehilangan di hari selasa.
Kehilangan pertama ia rasakan saat masih duduk di bangku kelas 2 SMP. Tepat pada hari Selasa, 28 Februari 2017. Ia tertidur lelap saat teman satu kamarnya membangunkannya waktu itu, pukul dua dini hari. Dengan kondisi pikiran yang belum 100% penuh, sayup-sayup ia mendengar teman-temannya berkata, “Yai Bad sedo,” (Kiai Bad wafat). Ia amat sedih karena guru yang amat ia patuhi harus berpulang ke rahmatullah.
Kehilangan kedua ia rasakan saat masa liburan setelah lulus SMA, tepatnya Selasa, 29 Juni 2021. Kala itu ia usai menunaikan salat asar. Riyan membuka Handphone-nya yang sudah penuh dengan notifikasi pesan dari teman-temannya di grup Whatsapp. Ia terkejut saat membuka gambar yang ia terima dari temannya. Gambar itu berisikan cuplikan chat dari Kiai Zainuddin yang isinya, “Inanalillahi Wa Innaa Ilaihi Rooji’un, Ning Yaya sedo.” (Inanalillahi Wa Innaa Ilaihi Rooji’un, Ning Yaya wafat). Nyai Hj. Sakhiyah Dzuriyah (Ning Yaya) merupakan istri dari Dr. KH. Fathul Bari, S. S., M.Ag,
Kini hatinya kembali mengingat rasa sakit yang pernah ia rasakan sebelumnya. Hari ini, Selasa,13 September 2022, ia kembali mendengar berita kewafatan gurunya. Di tengah presentasi yang ia sampaikan, salah satu dosennya memberikan isyarat agar ia menghentikan presentasinya. Dengan pandangan sayu, sang dosen memberikan kabar bahwa Kiai Ahmad Dahmuji wafat.
Kiai Dam merupakan teman karib Kiai Badruddin selama mondok di Sidogiri. Kiai Dam juga menemani Kiai Badruddin merintis dan mengembangkan Pondok Pesantren An-Nur II “Al-Murtadlo”. tidak hanya di An-Nur II, Kiai Dam juga ikut menemani Kiai Qusyairi, merintis dan mengembangkan Pondok Pesantren An-Nur 3 “Murah Banyu”.

Pesan yang Terus Terulang di Hari Selasa
Riyan termenung. Otaknya memutar kembali kenangan-kenangan selama mengaji dengan Kiai Dam. Setiap selasa pagi Riyan dan teman-temannya mengkaji kitab Minhaju al-‘Aabidin Thariqun Ila al-Jannah bersama Kiai Dam.
Beliau selalu berpesan kepada para santri agar tidak menjadi seperti kelelawar. “Ojok dadi santri seng seneng malek perkoro, lek santri seneng malek perkoro berarti koyok lowo. Bengi melek, isuk e turu.” (Jadi santri jangan suka membalik kegiatan, kalau santri suka membalik kegiatan berarti seperti kelelawar. Kalau malam bangun (bergadang) kalau pagi (mengaji) tidur).
Saat mengaji kadang ada beberapa senior yang memilih tempat di luar masjid, padahal di dalam masjid masih banyak tempat yang kosong. Beliau pasti akan menyuruh mereka masuk ke dalam masjid, agar beliau bisa mengingatkan kalau-kalau mereka mengantuk ataupun tertidur. Beliau takut jika kelak saat malaikat bertanya “Apakah ini santrimu?” beliau menjawab bukan karena tidak pernah melihat santri tersebut mengaji dengan beliau, meskipun ia selalu hadir.
“Samean lek ngajine ndek njobo, kan aku gak ketok samean. Lek mben malaikat takok ‘iki muride samean a?’ terus tak jawab guduk, yo ojok salahno aku rek, wong aku gak tau ketok samean.” (Kalian kalau ngajinya di luar, kan saya tidak bisa lihat kalian. Kalau nanti malaikat tanya ‘apakah ini santtrimu?’ lalu saya jawab bukan, ya jangan salahkan saya, kan saya tidak pernah lihat kalian (mengahadiri pengajian)). Begitulah pesan yang selalu beliau ulang-ulang saat memberikan kajian kepada para santri.
Kini Riyan hanya bisa mengenang momen-momen bersama Kiai Dam, sambil mendoakan beliau setiap waktu.
(Muhammad Abror S/Mediatech)