Sejarah Tarawih

PASAR WAQIAH

Sejarah Tarawih

Setiap malam bulan Ramadhan kita melaksanakan salat tarawih. Maka, alangkah baiknya kita mengetahui sejarah dan seluk beluk tarawih.

Dasar hukum qiyamul lail, yang pada saat Ramadhan disebut dengan tarawih, terdapat dalam hadis Rasulullah:

 مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ رواه البخاري 

“Barang siapa yang beribadah pada bulan Ramadhan dengan keimanan dan keikhlasan, maka akan di ampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (H.R. Bukhori)

*Takut Dianggap Wajib*

Nabi Muhammad Saw. telah mencontohkan kepada umat Islam bahwa salat tarawih lebih baik dikerjakan secara berjamaah. Hal ini senada dengan cerita yang diriwayatkan oleh Sayyidah Aisyah Ra.:

أنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ لَيْلَةٍ فِي الْمَسْجِدِ فَصَلَّى بِصَلاَتِهِ نَاسٌ ثُمَّ صَلَّى مِنَ الْقَابِلَةِ فَكَثُرَ النَّاسُ ثُمَّ اجْتَمَعُوا مِنَ اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِِ أَوِ الرَّابِعَةِ فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَيْهِمْ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. فَلَمَّا أَصْبَحَ قَالَ: قَدْ رَأَيْتُ الَّذِي صَنَعْتُمْ وَلَمْ يَمْنَعْنِي مِنَ الْخُرُوْجِ إِلَيْكُمْ إِلاَّ أَنِّي خَشِيْتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ. وَذَلِكَ فِيْ رَمَضَانَ

“Sesungguhnya Rasulullah Saw. pada suatu malam keluar dan Salat di masjid. Lalu para sahabat mengikuti salat Beliau. Pada malam berikutnya (malam kedua), Beliau salat, maka manusia semakin banyak (yang mengikuti salat Nabi Saw.). kemudian mereka berkumpul pada malam ketiga atau malam keempat. Maka Rasulullah Saw. tidak keluar pada mereka. Dan ketika pagi harinya beliau bersabda: Sungguh Aku telah melihat apa yang telah kalian lakukan dan tidaklah ada yang mencegahku keluar kepada kalian kecuali sesungguhnya Aku khawatir akan diwajibkan pada kalian dan (peristiwa) itu terjadi di bulan Ramadhan.” (H.R. Muslim).

Dari hadis ini menerangkan bahwa Nabi memang pernah melaksanakan salat tarawih. Namun, beliau hanya keluar salat di masjid selama dua malam saja. Karena umat Islam saat itu sangat antusias dalam mengikuti salat tarawih, beliau pun tidak datang ke masjid pada malam ketiga atau keempat.

Beliau takut jika salat tarawih tersebut akan diwajibkan oleh Allah. Atau umatnya akan menganggap salat tarawih merupakan ibadah wajib saat bulan Ramadhan. Jika hal ini terjadi, maka akan memberatkan umatnya. Hal ini selaras dengan pernyataan:

أَنَّهُ إِذَا وَاظَبَ عَلَى شَيْء مِنْ أَعْمَال الْبِرّ وَاقْتَدَى النَّاس بِهِ فِيهِ أَنَّهُ يُفْرَض عَلَيْهِمْ اِنْتَهَى

“Sesungguhnya ketika Nabi menekuni sesuatu amal kebaikan dan diikuti umatnya, maka hal tersebut akan diwajibkan atas umatnya.”

Pernah suatu ketika khalifah Umar Ra. masuk ke dalam masjid. Di sana beliau melihat kaum muslim melakukan salat tarawih secara sendiri. Ada juga yang melakukannya secara berjamaah, tetapi terbagi menjadi beberapa kelompok jamaah.

Melihat hal ini khalifah pun memiliki pendapat: jika salat ini dikalukan dengan berjamaah, maka akan menjadi lebih baik lagi. Lalu, di hari berikutnya, beliau mengumpulkan kaum muslim dan mencarikan mereka seorang imam. Mulai saat itulah salat tarawih dilakukan secara berjamaah.

*Rakaat Salat Tarawih*

Dalam hal rakaat terawih, banyak perbedaan pendapat yang beredar di kalangan umat islam. Ada yang mengatakan bahwa rakaat salat tarawih hanya berjumlah 11 rakaat. Ada yang mengatakan 23 rakaat. Bahkan ada juga yang mengerjakan tarawih hingga 36 rakaat.

Perbedaan pendapat tersebut bukannya tanpa alasan dasar yang jelas. Imam Malik dalam kitab Al-Muwaththa’ menjelaskan hadis yang diriwayatkan dari sahabat Yazid bin Khuzaifah, “Orang-orang pada masa Umar melakukan salat tarawih pada bulan Ramadhan sebanyak 23 rakaat (20 rakaat salat tarawih, dan 3 rakaat salat witir).”

Ada juga yang berpendapat rakaat salat tarawih terdiri dari 11 rakaat. pendapat ini berdasarkan riwayat dari Sayyidah Aisyah Ra.:

مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَزِيدُ فِى رَمَضَانَ وَلاَ فِى غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّي أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي ثَلاَثًا


“Rasulullah Saw. tidak pernah menambah jumlah raka’at dalam Salat malam di bulan Ramadhan dan tidak pula dalam Salat lainnya lebih dari 11 rakaat. Rasulullah Saw. melaksanakan Salat 4 rakaat, maka janganlah tanyakan mengenai bagus dan panjang rakaatnya. Kemudian beliau melaksanakan Salat 4 rakaat lagi, maka janganlah tanyakan mengenai bagus dan panjang rakaatnya. Kemudian Rasulullah Saw. Salat (witir) 3 rakaat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari semua pendapat itu yang paling benar adalah semua pendapat itu baik. Sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ahmad: salatlah tarawih pada bulan Ramadhan dan Nabi Muhammad tidak menentukan jumlah rakaatnya. Maka dari itu, boleh memperbanyak atau menyedikitkan rakaat salat tarawih yang dikerjakan. Wallahu a’lam.

Lebih lengkapnya silahkan ikut pengajian Pasar Waqiah Ramadhan yang digelar ba’da isya di masjid An-Nur II. Dan setiap harinya akan diisi dengan materi berbeda-beda.

(Kholid/Media-tech An-Nur II)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: