Sejarah Perang Badar: Situasi Krisis Bukan Penghalang Bagi Ahlul Badar

Ilustrasi pasukan Muslim dalam Perang Badar menghadapi kaum Quraisy

Pengajian Malam 17 Ramadhan

Jumat, 6 Maret 2026

Oleh: Kiai Ahmad Zainuddin, M.M.

غَزْوَةُ بَدْڕٍ الْكُبْرَى

هِيَ أَوَّلُ مَعزَكَةٍ فِي الْإِسْلَامِ، وَقَعَتْ بَيْنَ الْمُسْلِمِینَ وَكُفَّارِمَگَّةَ، صبَاحَ يَوْمِ الْجُمُعَةِ في السَّابِعَ عَشَرَ مِنْ رَمَضَانَ، وَتُسَمَّى أَيْضًا بَدْرَ الْقِتَالِ وَيَوْمَ الْفُرْقَانِ؛ لِأَنَّ اللهَ تَعَالَى فَرَّقَ فِيهَا بَيْنَ الْحَقِّ وَالْبَاطِلِ

annur2.net – Perlu kita ketahui dan ingat selalu, Perang Badar Kubra ialah perang pertama kalinya secara fisik langsung. Peperangan antara kaum muslim dan kaum kafir Makkah.

Sejarah agung ini terjadi pada pagi hari Jumat, 17 Ramadan 2 Hijriyah. Hari yang sama dengan Nuzulul Qur’an. Maka tanggal 17 Ramadan memiliki dua penamaan, Badral Qital dan Yaumul Qur’an, karena pada hari itu Allah Swt., memisahkan antara yang hak dan yang batil.

وَجْهُ تَسْمِيتِهَا بِغَزْوَةِ بَدْڕ

سُمِّيَتِ الْغَزْوَةُ بِ«غَزْوَةِ بَدْرٍ» بِاسْمِ الْمكَانِ الَّذِي وَقَعَتْ فِهِ هَذِهِ الْمعْرَكَةُ، وَهِيَ قَرْيَةٌ شَهِيرَةٌ بَيْنَ مَكَّةَ الْمُكَرَّمَةِ وَالْمَدِينَةِ الْمُنَوَّرَةِ

Peperangan ini menyandang nama “Ghazwah Badar” berdasarkan dari daerah terjadinya perkara. Daerah yang terletak di antara kota Makkah Al-Mukarramah dan Madinah Al-Munawwarah.

Bahkan Ada pendapat lain, kalau nama Badar berasal dari nama orang yaitu Badar bin Yukhald. Ada juga yang mengatakan itu karena maknanya yaitu purnama. Sebab dalam kisahnya saat itu ada pantulan bulan purnama yang jelas di sumur daerah tersebut.

Tetapi terkadang umat Islam hanya mengingat histori dari Nuzulul Qur’an yang terjadi pada 17 Ramadan. Oleh karena itu Pondok Pesantren Wisata An-Nur II mengadakan pengajian Perang Badar bersama Kiai Zainuddin beserta para tamu undangan.

Mempelajari Perang Badar bukan hanya  untuk mengetahui historinya. Melainkan mengamati dan meniru kegigihan para umat dan kekokohan imannya dalam peperangan.

Kronologi Sebelum Terjadi Perang Badar

مِنْ أَسْبَابٍ حُدُوثِ الْغَزْوَةِ

كَانَ السَّبَبُ الرَّئيسِيُّ لِلْغَزْوَةِ اسْتِيلَاءَ كُفَّارِ قُرَنِشٍ عَلَى أَمْوَالِ الُْسْلِمِينَ وَكُلِّ مَا يَمْلِكُوتَهُ في مَكَّةَ بَعْدَ هِجْرَتهمْ، فَأَمَرَ النَِّيُّ أَصْحَابَهُ بِقَطْعٍ طَرِيقِ فَوَافِلٍ قُرَيشِ التِّجَارِيَّةِ إِلَى بِلَادِ الشَّامِ لِيُضْعِفُوهُمْ افْتِصَادِیًّا وَيُعَوِّضُوا مَا فَاتَهُمْ فِي مَگَّةَ

Umat Nabi Muhammad saw., berhijrah ke Madinah setelah mendapat perlakuan kasar dan gangguan terus menerus dari Kafir Quraisy. Mereka harus rela meninggalkan rumah beserta harta bendanya agar lolos dari orang kafir.

Mengetahui rumah dan harta benda umat muslim ditinggalkan, para kafir Quraisy menjarah seluruhnya. Pada suatu kesempatan kaum Muslim mendengar kabar ada kafilah dagang Abu Sufyan seorang kafir Quraisy akan melintasi daerah Badar.

Dia membawa hasil perdagangan dari negeri Syam senilai 50.000 dinar. Inilah yang menarik perhatian kaum Muslim setelah apa yang terjadi dengan hartanya di Makkah.

Nabi berencana menghadang rombongan kafilah tersebut. Namun Abu Sufyan dengan membawa harta sebanyak itu, telah berprasangka bahwa kaum Muslim di Madinah akan menghadang jalannya.

Dia sangat teliti pada lingkungan sekitar, memperhatikan apakah ada tanda-tanda jejak orang baru lewat. Saking telitinya dia menemukan satu biji kurma. Abu Sufyan melihat itu bukan biji kurma Makkah ataupun Thaif, melainkan kurma Madinah.

Mengetahui akan dibegal, dia berbicara kepada Dham Dham, kurir informasi yang sangat cepat. “Beritahu kepada Abu Jahal kalau kita akan dibegal.” 

Dham Dham pun naik unta ke Makkah dan memberitahu hal tersebut kepada Abu Jahal. Untuk menarik simpati dan empati, Dham Dham memotong hidung untanya dan merobek-robek pakaiannya. Dia ingin memprovokasi para kafir Quraisy supaya meyakini umat muslim menyerang rombongan Abu Sufyan.

Alhasil Abu Jahal memerintahkan Kafir Makkah mengirim pasukan. Bahkan Abu Jahal akan merobohkan rumah pemuda kafir yang tidak ikut. Mereka harus menjaga 50.000 dinar di tangan Abu Sufyan demi perputaran ekonomi selama setahun. Lalu mereka mengirim 1000 pasukan untuk menolongnya.

Pada waktu yang bersamaan, Abu Sufyan memikirkan cara lain agar dapat kembali ke Makkah dengan aman. Dia memiliki ide untuk mengubah jalur pulang melalui jalan tikus. Sebuah jalan di pinggir pegunungan dengan jurang yang curam di sampingnya. Meski ada penolakan karena mempertimbangkan medannya, dia tetap melakukan itu.

Singkatnya para rombongannya sampai tujuan dengan selamat, tapi rombongan pasukan Abu Jahal sudah terlanjur berangkat menuju Badar. Dia kembali mengutus Dham dham menyampaikan kabar kedatangannya ke Abu Jahal.

Sesampainya ke Abu Jahal, meski mendengar kabar selamat dia tetap bersikukuh melanjutkan perjalanan. Dia berpikir pasukan sudah bersiap dan yakin meraih kemenangan atas kaum Muslim serta akan berpesta di sana.

Pada sore harinya, Nabi Muhammad mengutus beberapa sahabat guna mencari informasi kafilah dagang Abu Sufyan. Rombongan sahabat tersebut menemukan dua orang yang sedang mengambil air di sumur Badar.

Rombongan sahabat ini membawa keduanya ke hadapan Nabi yang sedang salat. Menanti Nabi, para sahabat mengintrogasinya. Kemudian dua orang ini mengakui bahwa mereka pemberi minum pada pasukan Kafir Makkah. Namun, para Sahabat tidak mempercayai mereka. Para Sahabat mengira keduanya adalah anak buah Abu Sufyan. Lalu mereka memukuli keduanya hingga mau mengaku bahwa mereka anak buah Abu Sufyan.

Ketika Rasulullah selesai salat, beliau mengingatkan para Sahabatnya, karena mereka telah memukul keduanya saat jujur dan membiarkan mereka saat berdusta. 

Kemudian beliau bertanya tentang jumlah pasukan Makkah. Akan tetapi, dua orang ini tidak bisa menyebutkan jumlah pastinya, namun keduanya menyebutkan jumlah unta yang mereka sembelih setiap harinya, yaitu sepuluh. Dari sini, Rasulullah menyimpulkan bahwa jumlah mereka 1000 pasukan.

Belum Siap, Jalur Langit Solusinya

Nabi Muhammad masih ragu untuk menghadapi jumlah musuh sebesar itu. Sebab kaum Muslim masih dalam keadaan berpuasa dan krisis di berbagai lini. Beberapa kali beliau menanyakan pendapat ke para sahabat.

Saat malam harinya Nabi Muhammad berdoa, bermunajat kepada sang Pencipta dan Pengasih. Memohon petunjuk serta pertolongan-Nya menghadapi musuh yang begitu banyak.

١٥٩٩- عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: شَهِدْتُ مِنَ الْمِقْدَادِ بنِ الْأَسْوَدِ مَشْهَدًا، لَأَنْ أَكُونَ صَاحِبَهُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا عُدِلَ بِهِ، أَتَّى النَّبيِّ وَهُوَ يَدْعُو عَلَى الْمُشْرِكِينَ، فَقَالَ: لَا تَقُلْ كَمَا فَالَ قَوْمُ مُوسّى: ﴿اذْهَبْ أَنْتَ وَرَبُّكَ فَقَاتِلا إِنَّا هَاهُنَا قَاعِدُونَ﴾ [المَائِدَةِ: ٢٤]، وَلَكِنَّا نُقَاتِلُ عَنْ يَمِينِكَ، وَعَنْ شِمَالِكَ، وَبَيْنَ يَدَيْكَ، وَخَلْفَكَ. فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ (َ أَشْرَقَ وَجْهُهُ وَسَرَّهُ ذَلِكَ.

Artinya: Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

“Aku pernah menyaksikan satu peristiwa dari Al-Miqdad bin Al-Aswad. Seandainya aku menjadi orang yang menyertainya saat itu, hal itu lebih aku sukai daripada harta yang paling berharga.

Ia datang kepada Nabi ﷺ ketika beliau sedang berdoa (kekalahan) atas orang-orang musyrik. Lalu Al-Miqdad berkata:

‘Wahai Rasulullah, kami tidak akan mengatakan seperti perkataan kaum Nabi Musa:
Pergilah engkau bersama Tuhanmu dan berperanglah kalian berdua, sesungguhnya kami duduk di sini saja.’ (QS. Al-Maidah: 24)

Tetapi kami akan berperang di sebelah kananmu, di sebelah kirimu, di depanmu, dan di belakangmu.’ Maka aku melihat wajah Nabi ﷺ berseri-seri dan beliau sangat senang dengan ucapan itu.”

Meski semula Nabi merasa ragu. Mendengar perkataan sahabatnya beliau optimis kembali. Dukungan juga datang dari sahabat Anshar, Sa’ad bin Mu’adz.

لَوِ اسْتَعْرَضْتَ بِنَا هَذَا الْبَحْرَ فَخُضْتَهُ لَخُضْنَاهُ مَعَكَ، مَا تَخَلَّفَ مِنَّا رَجُلٌ وَاحِدٌ

Artinya: “Jika engkau membawa kami hingga menempuh lautan lalu engkau memasukinya, niscaya kami akan memasukinya bersamamu, dan tidak seorang pun dari kami akan tertinggal.” Ucap Sa’ad bin Mu’adz kepada Rasulullah

Walaupun kondisi kaum Muslim saat itu berada di titik paling rendah, tidak memiliki harta dan persenjataan lengkap. Hanya ada delapan pedang bahkan riwayat lain mengatakan hanya dua bilah pedang saja.

عَدَدُ جَيْشِ الْمُسْلِمِينَ ثَلاثُمِائَةٍ وَأَرْبَعَةً عَشَرَ (٣١٤)

• الخَيْلُ: اثنان (٢)

• الإِبِلُ: سَبْعُونَ (٧٠)

عَدَدُ جَيْشِ الْمُشْرِكِينَ أَلْفٌ (١٠٠٠)

• الخَيْلُ: مِائَةٌ (١٠٠)

• الإبِلُ: سَبْعُمِائَةٍ (٧٠٠)

Selain persenjataan, tunggangan yang ada hanya dua ekor kuda dan 70 ekor unta. Semua persenjataan dan tunggangan itu harus dipakai bergantian dengan total 313 pasukan. Adapula riwayat lain yang mengatakan 314 dan 315. Tetapi pendapat yang paling Masyhur sebanyak 313 pasukan.

Pasukan Kafir Quraisy dengan 1.000 pasukan dengan persenjataan lengkap dan 100 ekor kuda serta 700 ekor unta, terasa mustahil akan kalah dengan 313 pasukan yang bergantian menggunakan pedang.

Namun itu bisa berubah dengan segala kehendak dan pertolongan Allah Swt. Allah memberikan petunjuk strategi perang kaum Muslim.

Mereka menguasai beberapa daerah sumber air dari sumur-sumur yang ada di Badar. Selain itu letak geografis tempat pasukan Muslim yang sangat menguntungkan.

Pertolongan Allah juga berdatangan pada pagi harinya. Ribuan malaikat turun dari langit dipimpin oleh Jibril.

إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُمْ بِأَلْفٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ مُرْدِفِينَ

Artinya: “(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan 1.000 malaikat yang datang berturut-turut.” (QS. Al-Anfal: 9)

Datangnya bala bantuan ini mengokohkan keyakinan kaum Muslim akan meraih kemenangan.

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ النَّبِيِّ قَالَ يَومَ بَدْرٍ: «هَذَا جِبْرِيلُ آخِذٌ بِرَأْسٍ فَرَسِهِ، عَلَيْهِ أَدَاةُ الْحَرْبِ»

Artinya:Dari Abdullah ibn Abbas radhiyallahu ‘anhuma:

Bahwa Nabi ﷺ bersabda pada hari Perang Badar:

“Ini adalah Jibril, ia memegang kepala kudanya dan mengenakan perlengkapan perang.”

Diterangkan kalau Malaikat Jibril memiliki 600 sayap. Satu sayapnya bisa menutupi seluruh bumi. Kenapa yang turun sebanyak 1000 malaikat?

Sebenarnya mereka hanya membantu. Perang ini sesungguhnya milik Nabi Muhammad dan para sahabat. Agar penisbatan perang Badar kepada Nabi dan para sahabat bukan malaikat. 

Dua Saudara Kecil Peroboh Abu Jahal

Peperangan timur tengah zaman dahulu memiliki tradisi unik sebelum memulai berperang, yaitu Mubarazah (duel satu lawan satu). Terdapat tiga perwakilan dari setiap kaum.

Perwakilan kaum Kafir Makkah: Syaibah bin Rabi’ah, Walid bin Utbah, dan Utbah bin Rabi’ah. Mereka semula akan melawan perwakilan kaum Muslim dari kalangan Anshar, tapi pimpinan Kafir Makkah meminta yang menandingi Muslim asli Makkah.

Alhasil kaum Muslim mengajukan: Hamzah bin Abdul Muthalib, Ali bin Abi Thalib, dan Ubaidah bin Harits. Mereka maju satu per satu berduel di tengah medan perang.

Bermula: Syaibah vs Hamzah, Ali vs Walid, hingga Utbah vs Ubaidah. Perwakilan Kafir Makkah mati keseluruhan kecuali Utbah. Dia kalah tapi tidak sampai mati dan dapat melukai Ubaidah. Lalu Hamzah dan Ali membantu Ubaidah akhirnya Utbah tumbang, sedangkan Ubaidah mengalami luka parah hingga menyebabkan kematiannya saat perjalanan pulang.

Wasitnya bukan orang melainkan kematian. Memasuki arena hanya memiliki dua pilihan, antara hidup dan mati. Sebuah hal yang luar biasa jika masuk ke “arena tepi jurang” dengan dua kemungkinan: berhasil naik ke gunung atau gagal jatuh ke jurang.

Tiga Orang Pembunuh Abu Jahal

Pimpinan Kafir Quraisy berhasil dikalahkan oleh tiga orang dari kaum muslim. Dua di antaranya adalah dua putra Afra’: Muadz dan Muawwidz. Ada keterangan mereka berumur masih 14-15 tahun kala itu. Terlebih mereka belum berumur 17 tahun. 

Muadz bin Afra’ dan Muawwidz bin Afra’ memiliki tubuh yang kecil layaknya anak-anak seumurannya. Sedangkan Abu Jahal memiliki tubuh yang besar. Mereka juga anak seorang petani, orang biasa, tapi tekadnyaluar biasa. 

Dalam Shahih Muslim, saat berada di barisan perang, ada Abdurrahman bin Auf, seorang sahabat yang kaya raya, yang berdiri di antara mereka. Ketika perang dengan pasukan depan yang kuat, pasti yang belakang lebih mudah karena sudah diatasi yang depan. Tapi di kedua sisi Abdurrahman adalah dua anak kecil itu. 

Abdurrahman bin Auf merasa pesimis dengan kawan perangnya yang masih belia. Kemudian Muadz bertanya, “Paman, yang mana Abu Jahal itu?” Abdurrahman menunjukkan Abu Jahal dan bertanya kenapa. Ia menjawab, “Aku kesal sekali karena dia telah menjelekkan Allah dan rasulnya.” Begitu juga Muawwidz bertanya yang sama. 

Ternyata mereka adalah perantara pembunuh Abu Jahal. Muadz dan Muawidz berhasil menumbangkan Abu Jahal sebelum dibunuh. Saat perang selesai, Nabi Muhammad memerintahkan Abdullah bin Mas’ud mencari jasad Abu Jahal. Saat ditemukan Abu Jahal masih kondisi sekarat sebab ulah dua bocah tadi.

Dalam kondisi sekarat itu, Abdullah bin Mas’ud menghampiri Abu Jahal dan akan memenggal lehernya. Lantaran dulu saat Nabi bertanya siapa yang berani membaca Al-Qur’an di depan Kakbah, Abdullah maju dan membacanya. Namun Abu Jahal dan orang kafir memukulinya sampai terkapar. Saat diselamatkan, Nabi berkata, “Nanti kamu yang akan membunuhnya.”

Sebelum Abu Jahal dieksekusi, dia masih sempat sombong.

قَالَ: «وَهَلْ فَوْقَ رَجُلٍ قَتَلْتُمُوهُ، أَوْرَجُلٍ قَتَلَهُ قَوْمُهُ؟»

Artinya: “Apakah ada yang lebih tinggi (kedudukannya) daripada: seorang lelaki yang kalian bunuh (dalam peperangan), atau seorang lelaki yang dibunuh oleh kaumnya sendiri?”

Perkataan ini menunjukkan kesombongannya karena berbangsa Quraisy. Merendahkan seseorang yang akan membunuhnya berasal dari keluarga petani. Namun Abdullah tidak basa-basi lagi, beliau langsung memenggal kepalanya.

١٠٦٥- عَنْ الزُّبَيرِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: لَقِيتُ يَوْمَ بَدْرٍ عُبَيْدَةً بُنَ سَعِيدِ بُنِ الْعَاصِ، وَهُوَ مُدَجِّجٌ لَا يُرَى مِنْهُ إِلَّا عَيْنَاهُ، وَهُوَیُكَنَّى أَبَا ذَاتِ الْكَرِشِ، فَقَالَ: أَنَا أَبُو ذَاتِ الْكَرِشِ. فَحَمَلْتُ عَلَيْهِ بِالْعَثَزَةِ، فَطَعَنْتُهُ في عَيْنِهِ فَمَاتَ. قَالَ: لَقَدْ وَضَعْتُ رِجْلِي عَلَيْهِ ثُمَّ تَمَطَّأْتُ، فَكَانَ الْجُهْدُ أَنْ نَزَعْتُمَا، وَقَدِ انْثَنَى طَرَفَاهَا. فَسَأَلَهُ إِيَّاهَا رَسُولُ اللَهِ ي فَأَعْطَاهُ، فَلَمَّا قُبِضَ رَسُولُ الله تٹٹ أَخَذَهَا، ثُمَّ طَلَيهَا أَبُوبَكْرٍ فَأَعْطَاهُ، فَلَمَّا قُبِضَ أَبُوبَكْرٍ سَأَلَهَا إِيَّاهُ عُمَرُ فَأَعْطَاهُ إِيَّاهَا، فَلَمَّا قُبِضَ عُمَرُ أَخَذَهَا، ثُمَّ طَلَيهَا عُثْمَانُ مِنْهُ فَأَعْطَاهُ إِيَّاهَا، فَلَمَّا قُتِلَ عُثْمَانُ وَقَعَتْ عِنْدَ آلٍ عَلِيٍ، فَطَلَيَهَا عَبْدُ الله بنُ الزُّبیرِ، فََانَتْ عِنْدَهُ حتَّی قُتِلَ

Selain ketangguhan kedua bocah Afra’ dan Abdullah bin Mas’ud, Zubair bin Awwam melakukan aksi heroik juga.

Beliau berhadapan dengan Abu Dzatil Kars alias Ubaidah bin Saad bin Kars yang sangat lengkap persenjataannya. Seluruh tubuhnya tertutupi baju zirah dan membawa pedang. Sedangkan Zubair hanya membawa tombak seukuran keris Jawa.

Beliau mencari celah untuk mengalahkannya. Ternyata ada satu titik lemah, yaitu mata. Mata musuh tidak tertutupi baju zirah. Beliau melangsungkan serangan menuju mata, menusuknya hingga sulit untuk ditarik.

Setelah berhasil ditarik, Nabi senang dan meminta tombak itu. Senjata istimewa bukan berupa apa, tapi karena telah digunakan untuk apa atau membunuh siapa. Barang akan mahal nilainya sebab pernah digunakan apa dan siapa.

Setelah kewafatan Nabi, tombak itu kembali ke tangan Zubair. Tetapi Abu Bakar, khalifah selanjutnya meminjam tombak tersebut. Hal ini terjadi terus-menerus hingga ke tangan Ali bin Abi Thalib dan kembali ke Abdullah bin Zubair bin Awwam hingga terbunuh di medan perang.

Ketangguhan pasukan Muslim juga terlihat pada tubuh kecil Umair bin Abi Waqqash  (berkisar umur 13 tahunan), adik dari Amr bin Abi Waqqash. Dia mendekati nabi meminta agar diizinkan ikut berperang.

Nabi menolaknya, tapi dia tetap berjuang hingga berjinjit-jinjit menunjukkan dia sudah tinggi, sudah dewasa. Melihat itu beliau menanyakan apa keinginan Umair.

Ternyata dia ingin mati syahid di medan perang. Nabi pun mengizinkannya ikut. Benar saja di medan perang Umair salah satu dari 14 orang yang mati syahid.

إِنْتَهَتِ الْغَزْوَةُ بِانْتِصَارِ الْمُسْلِمِينَ وَهَزِيمَةِ الْمُشْرِكِينَ، فَانْكسَرَتْ شَوْكَةُ أَهْلِ الْبَاطِلِ، وَقَوِيَتْ شَوْكَةُ أَهْلِ الْحَقّ، فَأَصْبَحَتْ لِلدَّوْلَةِ الْإِسْلَامِيَّةِ هَيْبَتُها وَقُوَّتُهَا بَيْنَ الْقَبَائِلِ الْعَرَبِبَّةِ الْأُخْرَى، كَمَا أَتَّهُمْ انْتَعَشُوا مَادِيًّا وَاقْتِصَادِيًّا بِمَا غَنِمُوهُ مِنْ أَمْوَالٍ وَغَنَائِمَ فِي الْمَعرَكَةِ بَعْدَ فَقْرٍ شَدِیدٍ.

Artinya: “Perang tersebut berakhir dengan kemenangan kaum Muslimin dan kekalahan kaum musyrikin. Maka kekuatan pihak kebatilan pun patah, dan kekuatan pihak kebenaran menjadi kuat.

Sejak itu, negara Islam memiliki wibawa dan kekuatan di tengah kabilah-kabilah Arab lainnya. Selain itu, kondisi material dan ekonomi kaum Muslimin juga membaik melalui harta dan rampasan perang yang mereka peroleh setelah sebelumnya mengalami kemiskinan yang berat.”

شُهَدَاءُ الْمُسْلِمِينَ أَرْبَعَةَ عَشَرَ (١٤) سِتَّةٌ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ ثَمَانِيَةٌ مِنَ الأَنْصَارِ قَتْلَى الْمُشْرِكِينَ سَبْعُونَ (٧٠) أَسْرَى الْمُشْرِكِينَ سَبْعُونَ (٧٠)

Puncaknya Islam mendapat gelar juara setelah berperang 313 lawan 1.000. Korban meninggal Muslim 14 syahid (enam dari Muhajirin dan delapan dari Anshar), 70 orang kafir, dan berhasil menahan 70 orang kafir.

١٠٦٣- عَنْ رِفَاعَةً بْنِ رَافِعِ الزُّرَقِيِ – وَكَانَ مِمَّنْ شَهِدَ بَدْرًا – قَالَ: جَاءَ جِبْرِيلُ إِلَى النَّيِيِ فَقَالَ: «مَا تَعُدُّونَ أَهْلَ بَدْرٍفِيكُمْ؟» قَالَ: «مِنْ أَفْضَلِ الْمُسْلِمِينَ» أَوْكَلِمَةُ نَحْوَهَا. قَالَ: «وَكَذَلِكَ مَنْ شَهِدَ بَدْرًا مِنَ الملَائِكَةِ»

Artinya: Dari Rifa’ah ibn Rafi’ al-Zuraqi radhiyallahu ‘anhu— termasuk sahabat yang ikut dalam Perang Badar—ia berkata:

Jibril datang kepada Nabi ﷺ lalu berkata:

“Bagaimana kalian menilai orang-orang yang ikut Badar di antara kalian?”

Nabi ﷺ menjawab:

“Mereka termasuk orang-orang terbaik, utama di kalangan kaum Muslim,” atau ucapan yang semakna dengan itu.

Jibril berkata:

“Demikian pula para malaikat yang ikut dalam perang Badar, mereka juga termasuk yang terbaik di antara para malaikat.”

Layaklah bagi Ahlul Badar mendapat derajat kemuliaan yang tinggi. Posisinya urutan keempat, sesudah Nabi Muhammad, empat sahabat Khulafaur Rasyidin, Assabiqunal Awwalun, lalu Ahlul Badar, dan seterusnya.

Ahlul Badar Simbol Keberanian Islam

Banyak umat Islam pada zaman selanjutnya sangat mengagumi kegigihan, keberanian, dan kekokohan iman Ahlul Badar. Bahkan ada yang menulis seluruh nama-nama Ahlul Badar, yang nantinya dijadikan jimat keberanian.

Banyak yang terkagum kepada Ahlul Badar sebab dapat mengalahkan pasukan Kafir Makkah yang sangat banyak. Padahal kala itu umat Muslim masih mengalami krisis di berbagai sektor dan masih menunaikan puasa Ramadan.

Kemudian hal itu semakin lengkap dengan kemenangan pertama Islam di peperangan pertamanya berkat dari Nasrullah (Pertolongan Allah). Selain kemenangan, Ahlul Badar mendapat kemulian yang agung.

…فَقالَ: اعْمَلُوا ما شِئْتُمْ فقَدْ غَفَرْتُ لَكُمْ…

Artinya: Maka Allah berfirman: “Silahkan kalian (Ahlul Badar) berbuat apa yang kalian suka karena telah wajib bagi kalian untuk masuk ke dalam surga.” (HR. Imam Bukhari)

Sehingga seseorang yang ingin meraih kemuliaan agung harus berbuat sesuatu yang luar biasa. Seperti Ahlul Badar meraih kemenangan yang potensinya sangat kecil.

Ada kisah tentang Raja Thalut. Dia merupakan raja yang berkuasa setelah masa Nabi Musa as. Raja Thalut bermusuhan dengan Jalut. Hingga dia mengadakan sayembara kepada pasukannya sebelum berperang.

Siapa saja yang nantinya dapat membunuh Jalut akan mendapatkan hadiah istimewa. Jika pembunuh Jalut laki-laki dia akan dijadikan menantunya dan mendapat separuh kerajaannya.

Pada waktu pertempuran yang bisa membunuh Jalut ternyata Nabi Daud dengan keberanian dan imannya. Nabi Daud hanyalah penggembala kambing. Sedangkan Jalut adalah seorang prajurit. Akhirnya, kisah ini terkenal dengan istilah David and Goliath. Orang biasa yang berhasil mengalahkan orang besar. Pada zaman Nabi Muhammad, bisa dibilang peristiwa Perang Badar menggunakan prinsip ini, 313 orang muslim melawan 1000 pasukan kafir Quraisy. 

Setelah mengalahkan Jalut dan mendapat hadiahnya, eksistensi Nabi Daud semakin viral. Hingga orang-orang lebih tertarik kepadanya daripada Thalut.

Bahkan sebab kedengkian Thalut, dia melakukan pembunuhan berencana. Namun beberapa kali gagal dan akhirnya bertaubat. Nabi Daud mengetahui hal itu, tapi beliau tidak membalas. Pada akhirnya saat Thalut berjihad dia terbunuh di sana. Alhasil Nabi Daud menjadi raja selanjutnya meneruskan kekuasaan Thalut. 

Jadi kalau orang kecil (biasa) ingin menjadi orang besar (mulia), lakukan hal luar biasa yang kemungkinan besar tidak mungkin terjadi.

Kemenangan kaum Muslim dalam Perang Badar menunjukkan bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh jumlah pasukan atau kekuatan materi, tetapi oleh keimanan, keteguhan hati, strategi, dan tawakal kepada Allah. Keberanian para sahabat, termasuk para pemuda seperti Muadz dan Muawwidz bin Afra’, serta keteladanan Nabi Muhammad saw., menjadi bukti bahwa perjuangan yang dilandasi iman dapat menghasilkan kemenangan yang besar.

Oleh karena itu, Perang Badar bukan sekadar peristiwa sejarah, tetapi pelajaran penting bagi umat Islam tentang keberanian, pengorbanan, dan kepercayaan penuh kepada pertolongan Allah. Semangat Ahlul Badar menjadi simbol bahwa seseorang dapat meraih kemuliaan dengan melakukan perjuangan besar meskipun berada dalam keterbatasan.

(Abu Raihan Efendi/Mediatech An-Nur II)

Your email address will not be published.

Your email address will not be published.

TERBARU