Secuil Kisah Keberanian Muslimin di Lembah Badar

(Tafsir Surah Al-Anfal ayat 43 dan 44)

 “(43) (yaitu) ketika Allah menampakkan mereka kepadamu di dalam mimpimu (berjumlah) sedikit. Dan sekiranya Allah memperlihatkan mereka kepada kamu (berjumlah) banyak tentu saja kamu menjadi gentar dan tentu saja kamu akan berbantah-bantahan dalam urusan itu, akan tetapi Allah telah menyelamatkan kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi hati. (44) Dan ketika Allah menampakkan mereka kepada kamu sekalian, ketika kamu berjumpa dengan mereka berjumlah sedikit pada penglihatan matamu dan kamu ditampakkan-Nya berjumlah sedikit pada penglihatan mata mereka, karena Allah hendak melakukan suatu urusan yang mesti dilaksanakan. Dan hanyalah kepada Allah lah dikembalikan segala urusan.”

***

Berawal dari niatan kaum Muslimin yang ingin merebut kembali hak-hak mereka setelah diambil kaum Kafir beberapa waktu sebelumnya, di sebuah lembah dekat kota Madinah, salah satu pertempuran penuh keajaiban dan sedikit ketidaksengajaan itupun terjadi: perang Badar.     

Sebenarnya, bukan tanpa sebab pertempuran bersejarah kaum Muslimin itu berlangsung. Beberapa waktu sebelum dimulainya perang, Nabi Muhammad SAW diperlihatkan oleh Alah SWT sebuah mimpi sebagai salah satu isyarat perang.

Dalam mimpi yang diwahyukan tersebut, Allah memperlihatkan kepada Nabi Muhammad sebuah gambaran tentang suatu pertempuran. Tergambar jelas kerusuhan tersebut diikuti oleh kaum Muslimim saat sedang melawan kaum Kafir.

Tak hanya itu, mimpi itu juga bercerita, jumlah kaum Muslimin jelas terlihat lebih banyak ketimbang personel perang kaum Kafir jahiliyah. Hal ini ditakdirkan Allah, semata-mata karena tak ingin dengan jumlah kaum Muslimin yang saat itu masih sedikit, mereka tak gentar dalam pertempuran.

Dan benar saja, setelah kaum Muslimin mendengar kabar turunnya mimpi Rasulullah itu berpihak pada kaum Muslimin, mereka pun bergembira. Seakan rasa penuh semangat dan keoptimisan tiba-tiba membanjiri diri.

Akan tetapi, setelah beberapa waktu, betapa terkejutnya kaum Muslimin. Ketika waktu yang ditakdirkan tiba dan kedua kubu saling bertemu di lembah Badar, mereka jelas melihat bahwa prediksi dan strategi peperangan yang mereka rancang tak akan berjalan semulus apa yang akan diduga.

Jumlah kaum Kafir jauh terlampau banyak ketimbang kaum Muslimin. Segi persenjataan pun lebih lengkap. Mereka (kaum Kafir), rupanya telah mendengar rencana penggrebekan tersebut dan berusaha mencari cara untuk mengantisipasinya.

Tak bisa dinego lagi, ketika kedua kubu itu saling berhadapan, peperangan pecah. Seluruh semangat dan mental kaum Muslimin yang terlanjur disulut, dibangun sampai berkobar-kobar pada awal pemberangkatan, semua teruji dalam medan pertempuran ini.

Hingga pada akhir cerita, semua bentuk dari kemurnian niat masing-masing kubu perang telah terlihatkan: musuh yang terlampau banyak dengan mental tak banyak, mereka telah kandas dengan lawan yang sedikit dengan mental yag tak sedikit.

#KAJIAN TAFSIR

 (Riki Mahendra Nur Cahyo/Mediatech An-Nur II)

Your email address will not be published.

Your email address will not be published.

TERBARU