#SantriOrangMungBisoNgaji, Santri Pandai Berkreasi

#SantriOrangMungBisoNgaji, Santri Pandai Berkreasi

Suasana asrama Villa Musholla tampak ramai setelah ibadah sholat Dhuhur siang itu (20/10). Puluhan santri putra akan mengikuti lomba debat ilmiah. Diadakan untuk memperingati Hari Santri Nasional, lomba ini diikuti oleh santri tingkat SMP dan SMA. Setiap asrama mengirim satu kelompok yang terdiri dari tiga santri. Dan pemenang akan maju di partai final malam ini.

Ustadz Jauhar Nahari, selaku panitia, mengatakan lomba debat ilmiah ini berfungsi sebagai pengupas kebenaran asumsi masyarakat sesuai definisi para ahli. Sumber yang akan didebatkan pun tidak akan lepas dari kitab ulama’ salaf yang biasa dikaji di pesantren.

Selain itu, imbuhnya, lomba ini ditujukan supaya para santri bisa menguji kemampuannya. Agar mereka tidak berhenti dengan apa yang sudah dimiliki. Apalagi santri itu memiliki latar belakang musyawarah, yang bisa berguna saat bermasyarakat nantinya.

Untuk kriteria penilaian, juri akan mengambilnya dari 4 faktor. Yakni, kesiapan santri, pemahaman materi, kelancaran dalam penyampaian dan yang terpenting “adab saat menyampaikan”, ungkap ustadz asal Surabaya ini.

Haris adalah salah satu peserta lomba debat ilmiah ini. Meskipun baru kelas 2 SMP, ia sangat optimis akan mendapat juara dalam lomba ini. “Yakin”, jawabnya dengan mantap saat ditanya yakin akan menang atau tidak.

Untuk persiapan mengikuti lomba ini, Haris mengaku sudah mempersiapkannya jauh-jauh hari. “Pertama-tama kami meneliti tema yang akan didebatkan”, ujarnya. “Dan setiap hari kami diskusikan tema yang sudah dipersiapkan.”

Ribuan Stik Es Krim

Satu hari sebelumnya juga diadakan lomba untuk memperingati Hari Santri Nasional ini. Terlihat ribuan stik es krim berjejer di depan asrama Al-Anwar. Bukan hanya stik biasa, tapi stik yang telah disusun sedemikian rupa menjadi berbagai macam bentuk. Mulai dari miniatur bangunan yang ada di pondok hingga miniatur Masjidil Haram pun ada.

Sore itu, para santri terlihat berkerumun untuk melihat hasil karya dari berbagai asrama. Terhitung lebih dari 20 karya dipajang membentuk barisan sepanjang hampir 30 meter. tak ketinggalan Nyai Hj. Lathifah pun turut menyaksikan hasil lomba miniatur stik es krim ini.

Untuk penilaiannya sendiri, tidak hanya dilihat dari keindahan dan kerapian saja, tapi juga dilihat dari unsur desainannya. “juga kemiripan dengan bentuk aslinya”, ungkap ustadz Usman Ishaq, selaku panitia lomba.

Dari sekian banyak miniatur yang ada, terlihat beberapa santri yang masih sibuk menyelesaikan karyanya. Mereka adalah Fikri dan Awam, santri kelas 1 SMP dari asrama Billah 3. Dua santri itu sibuk menyusun bagian-bagian perahu yang dirasa masih kurang detail.

Mereka mengaku, keterlambatan ini disebabkan karena waktu persiapannya terlalu mendadak. “Awalnya kami mau membuat gerbang, tapi waktunya tidak cukup dan kami pun memilih membuat perahu ini”, imbuhnya.

Meskipun mereka baru SMP tak menutup kemungkinan untuk mendapat juara. “Bisa saja yang junior mengalahkan senior. Dan tidak menutup kemungkinan hasil karyanya lebih bagus”, tutup ustadz Usman memberi nasihat untuk tidak membeda-bedakan karya santri SMP dan SMA.

(Izzul/Miqdad)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: