annur2.net – Majelis Taklim Nurul Hidayah, Surabaya bersafari wisata untuk menemukan kunci kehidupan. Pondok Pesantren Wisata An-Nur II “Al-Murtadlo” menerima dan menyambut dengan hangat kunjungan ini pada Ahad, 18 Mei 2025.
Kunjungan berawal dengan ziarah makam pendiri pesantren yakni Al-Maghfurlah R. KH. Muhammad Badruddin Anwar. Pembacaan surah Yasin dan tahlil berlangsung khidmah dengan ketua rombongan yang memimpin.
Pendopo Al-Badari menjadi lokasi berlangsungnya pertemuan Majelis Taklim Nurul Hidayah bersama Dr. KH. Fathul Bari, S.S., M. Ag., dan pengenalan sejarah Pondok ini berdiri. Beliau mengawali dengan memperkenalkan biografi Kiai Badruddin dengan singkat tapi mendalam.
Menelisik Singkat Biografi dan Sejarah Kiai Baduddin
“Semoga silaturahmi ini menjadi silaturahmi yang berkah,” salam hangat Kiai Fathul Bari. Agar lebih mengenal, beliau menceritakan singkat kronologi kewafatandan perjuangan Kiai Badruddin.
Kiai Badruddin dibacakan tahlil selama 40 hari sebelum kewafatan sesuai keinginan beliau sendiri. Sebelum tepat 40 hari beliau menyuruh pengurus dapur untuk menyiapkan hidangan yang banyak untuk penutupan tahlil. “Maringene penutupan tahlil petang puluh, masak o seng akeh tapi aku nggak melok.” Dawuh Kiai Bad.
Kiai Badruddin juga pernah berpesan ke Kiai Fathul Bari saat masih merintis An-Nur II. Pondok ini berdiri tidak dengan peresmian melainkan tangisan.
Hinaan Orang Lain ialah Singgasana bagi Penyabar
Awal perintisan, santri masih sekitar sepuluh orang. Tetapi pada saat itu beliau sudah membangun masjid yang berkapasitas 300 orang. Banyak orang yang mencibirnya karena santrinya masih sedikit. Beliau tidak membalas cibiran mereka. Tetap sabar merupakan kuncinya dan terbukti sekarang terdapat 7.000 lebih santri dan masjid awal perintisan tidak dapat menampung banyaknya santri.
“Jangan sampek susah gara-gara dirasani wong.” Nasehat Kiai Fathul Bari. Waktu tahun 1994, Kiai Badruddin mendirikan majelis pembaca surah Al-Waqiah di salah satu desa. Beliau sudah memperingatkan jika empat tahun lagi ada guncangan besar melanda Indonesia.
Kepala desa waktu itu meremehkan rencana Kiai Badrudin dan merasa lebih baik dari beliau. Dia merasa sudah kaya meski tanpa membaca surah Al-Waqiah dan Kiai Badruddin tidak ada apa-apanya. Berselang empat tahun, kades tersebut jatuh miskin terkena dampak guncangan ekonomi Indonesia.
Berbeda dengan Kiai Badruddin alami, beliau tetap kokoh bahkan semakin kaya dan terbukti dengan luasnya Pondok Pesantren An-Nur II saat ini.
سورة الواقعة سورة الغنى
“Surat Al-Waqiah adalah surat kekayaan.”
Semua kisah Al-Maghfurlah KH. Muhammad Badruddin Anwar mengajarkan untuk selalu sabar dengan cibiran orang lain. Jangan memasukkan cibiran ke hati dan pikiran, itu hanya akan membuatmu tumbang. Cibiran sama dengan batu, jika terus masuk dalam hati dan pikiran semakin penuh dan berat.
Berbeda jika cibiran kalian tata di bawah kaki, kalian menjadi lebih tinggi (derajatnya). “Omongan elek iku podo karo watu.” Dawuh Kiai Fathul Bari ke pengunjung, “tapi totoen ndek ngisor sikil.” Sambungnya.
Suasana Hati Tenang Selama di An-Nur II

Setelah sambutan dan mauizah, Kiai Fathul Bari membuka sesi pertanyaan. Sesudah tanya jawab perihal sabar, kedua pihak saling serah terima cenderamata dan berlanjut foto bersama. Setelah itu berjalan-jalan melihat lingkungan Pondok Pesantren An-Nur II. Kali ini ada dua kelompok, pertama jalan kaki dan kedua memakai kendaraan bagi yang sudah tidak kuat berjalan jauh.
“Suasana adem, asri.” Ungkap spontan salah satu pengunjung. “Luar biasa!” Takjub ibu Musyawaroh, wakil pengurus. Memang dari awal Majelis Taklim Nurul Hidayah berkeinginan untuk pergi ke tempat yang suasana semi alam dan masih dalam pondok pesantren.
Akhirnya menemukan tujuannya yaitu An-Nur II “Al-Murtadlo”. “Allah itu menjawab, sehingga ada jamaah yang pergi ke sini (Pesantren An-Nur II), sekretaris, sekretaris saya nggeh. Sekretaris Majelis Nurul Hidayah ke sini lalu mempunyai itu tadi ee, apa, ada apa ya, kayak foto saya ditunjukkan gini-gini, gini. Ya Alhamdulillah, kita langsung diagendakan.” Jelas awal tujuan ke An-Nur II dari Ibu Musyawaroh, wakil pengurus.
(Abu Raihan Efendi/Mediatech An-Nur II)
