Sabar, Indikator Iman

 

Lentera Hati

 

Telah menjadi kodrat umat manusia yang menjadi Aktor utama dalam pentas dunia ini dilingkupi oleh berbagai problematika hidup yang harus ia hadapi, dari setiap inci langkahnya, setiap lintasan pikirannya, dari baru bangun tidur sampai tidur kembali, setiap orang pasti akan bergelut dengan berbagai masalah, besar ataupun kecil, sukar ataupun mudah, dari yang sangat membahagiakan hingga yang sangat menyakitkan.

 

Sering kali juga manusia dibayang-bayangi oleh rasa takut, khawatir dan gundah akan masa depannya, nasib keluarganya, pekerjaannya, hutangnya dan sebagainya.

 

Umumnya, kehidupan manusia memang seperti itu, dan dengankemampuannya, manusia mencoba berusaha keluar dari persoalan-persoalan tersebut. Namun terkadang manusia terjebak dalam kegalauan, stres berkepanjangan atau bahkan sampai berujung pada kegilaan.

 

Tentunya bukan itu yang dikehendaki Allah SWT. Allah menghadapkan manusia dengan berbagai masalah hanya sebagai ujian keimanan seseorang. Dan konteks keimanan seseorang dalam hal ini adalah sabar sebagai tolak ukurnya.

 

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ اْلأَمْوَالِ وَاْلأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ(155)

 

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar,” (QS. Al Baqoroh:155)

 

Maka Islam menawarkan sabar sebagai bentuk solusi berupa sikap mental ketika berhadapan dengan berbagai masalah. Kedudukan sabar dalam islam adalah kunci, ciri mendasar orang bertaqwa, dan sebagian ulama mengatakan bahwa sabar adalah setengah dari keimanan, sepeti jasad dengan kepalanya, tidak ada jasad yang tanpa kepala dan tidak ada keimanan yang tidak disertai dengan kesabaran. Dan alquran sendiri menegaskan bahwa sabar adalah perisai-penolong bagi orang beriman :

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اسْتَعِينُواْ بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ (153

 

“Hai orang-orang yang beriman jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al Baqoroh:153)

 

Secara bahasa, sabar (ash-shabr) berarti menahan (al-habs). Dari sini sabar dimaknai sebagai upaya menahan diri dalam melakukan sesuatu atau meninggalkan sesuatu untuk mencapai ridho Allah. Sabar, menurut Dzunnun AlMishry, adalah

menjauhkan diri dari hal-hal yang bertentangan dengan agama dan bersikap tenang manakala terkena musibah, serta berlapang dada dalam kefakiran di tengah-tengah medan kehidupan.

 

Lain lagi menurut syeikh Ibnu Qoyyim Al-jauziyah, bahwa sabar merupakan budi pekerti yang bisa dibentuk oleh seseorang. Ia menahan nafsu, menahan sedih, menahan jiwa dari kemarahan, menahan lidah dari merintih kesakitan, dan juga menahan anggota badan dari melakukan yang tidak pantas.

 

Tingkatan Sabar

Sabar merupakan ketegaran hati terhadap takdir dan hukum-hukum syari’at. Secara umum sabar terbagi ke dalam tiga tingkatan.

Pertama,

sabar dalam menghadapi sesuatu yang menyakitkan ataupun; musibah, dalam hal ini kita bisa mengambil contoh pada sosok Nabi Ayyub As. Meski bertahun-tahun menderita penyakit yang menyebabkan ia terkucil dari masarakatnya sampai istrinyapun meninggalkannya sendirian. Tapi Nabi Ayyub bersabar dengan penderitaannya tersebut.

 

Kedua,

sabar dalam meninggalkan perbuatan maksiat. Seperti yang telah di contohkan oleh Nabi Yusuf as Ketika menolak ajakan Siti Zulaikha untuk melakukan perbuatan maksiat, meskipun saat itu Nabi yusuf as berada dalam posisi yang amat memungkinkan untuk melakukan perbuatan maksiat, tetapi dengan kesabarannya megendalikan hawa nafsu, akhirnya dapat terhindar dari kenistaan.

 

Hal ini harus mejadi pelajaran bagi generasi muda khususnya yang manakala godaan asusila saat ini semakin dahsyatnya, pornografi, globalisasi budaya dan informasi semakin menyemarakan prostitusi, mesum sudah menjadi fenomena yang lumrah dan terang-terangan bahkan yang paling menghawatirkan dilakukan oleh banyak pelajar. Maka sebagai orang tua, guru atau pendidik hal ini menjadi tantangan yang terberat disamping ancaman narkoba yang juga semakin merajalela.

Ketiga,

Sabar dalam menjalankan ketaatan. Dan contoh kesabaran yang ketiga tentunya kita bisa meneladani dari Nabiyullah Ibrahim as beserta putranya Ismail as. Beliau tetap bersabar dan ikhlas ketika buah hatinya yang telah diimpikan selama bertahun-tahun harus disembelih sebagai bukti ketaatannya kepada Allah SWT.

 

Teladan Nabi Ibrahim ini dapat kita aplikasikankan dalam menjalankan kepatuhan kepada Allah terhadap apa-apa yang diperintahkannya. Sholat dan zikir kadang hati kita malas melaksanakannya tapi harus kita paksakan agar hati kita dalam kondisi khusyu. infaq dan shodaqoh berat kita tunaikan karena hati kita masih diliputi oleh sayang terhadap harta, justru ini menjadi ujian bagi kita dimana Allah hendak menguji kesabaran kita dalam ketaatan.

 

Dan banyak lagi contohnya. Intinya, segala apapun harus kita capai dengan segenapperjuangan dan pengorbanan,perjuangandan pengorbanan membutuhkan kesabaran, dan kesabaran adalah indikator keimanan.

 

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلاَتَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلاَتُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا

Dan bersabarlah kamu bersama dengan orang-orang yang menyeru Rabbnya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini,

dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (QS. Al kahfi:28)

 

Tidak ada yang buruk dalam kaca mata orang beriman, apapun kondisi yang dihapadinya ia yakin sepenuhnya bahwa Allah akan memberikan yang terbaik untuk hamba-hambanya.

 

Dan semoga sifat sabarlah yang diberikan oleh Allah pada kita dalam mengiringi segala bentuk persoalan hidup yang kita timpa. Wallahu ‘Alam

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: