Pondok Pesantren An-Nur II “Al-Murtadlo” kembali menerima kunjungan pada Sabtu malam (7/1/2023). Kali ini, mereka berasal dari Pamekasan, Madura. Mereka adalah pengurus Roma Tahfiz Al-Qur’an (RTQ) Konstan 84. Bertempatkan di Ndalem Kiai Khoiruddin, acara berlangsung.
Mereka datang memasuki gerbang Pesantren An-Nur II sekitar waktu isya tiba. Memasuki gerbang dan kemudian mereka memakirkan busnya di jalan kembar An-Nur II, depan gerbang. Sebab, para pengurus RTQ dan Kiai Khoiruddin ini memilki hubungan, mereka ingin acaranya berada di Ndalem beliau.
Maka, berjalanlah mereka menuju Ndalem beliau selepas busnya terparkir. Sesampainya di Ndalem beliau, acara tidak langsung mulai. Semua tamu mengambil makan terlebih dahulu di lantai satu. Hingga beberapa waktu, barulah mereka menuju lantai dua, ruang berkumpul.
Sekiranya, sudah datang semuanya, MC (Master of Ceremony) mulai masuk ruangan. Ia pun mengambil mikrofon dan mulai membuka acara. Ia juga membacakan kegiatan-kegiatan yang terlaksana mulai awal sampai akhir. Lalu, MC membacakan surah Al-Fatihah untuk membuka acara malam itu.
Kegiatan selanjutnya merupakan sambutan-sambutan. Sambutan pertama berasal dari Kiai Khoiruddin. Beliau menggunakan bahasa Madura dalam sambutannya. Dalam sambutannya, beliau menceritakan sedikit tentang Pondok Pesantren An-Nur II.
Sambutan kedua, berasal dari ketua rombongan, Ustaz Yudi. Beliau menceritakan awal mula RTQ (Roma Tahfiz Al-Qur’an). Berawal dari komunitas alumni dari sekolah yang sama, mereka suka melakukan reuni. Tapi bukan hanya reuni biasa, melainkan mereka suka untuk memberi beasiswa, memberikan air bersih kepada warga desa.
Bertemulah mereka pada suatu titik. Titik di mana mereka sedang bingung ingin berbuat apalagi, kata Ustaz Yudi. Ada orang yang berpendapat bagaimana kalau membantu RTQ yang ada di Pamekasan. Hanya saja, kata Ustaz Yudi, teman-temannya ini memiliki keberanian yang besar, mereka lebih memilih mendirikan RTQ sendiri.
Akan tetapi, masalah muncul setelahnya. Komunitas mereka ini bukanlah alumni pondok pesantren. Ustaz Yudi mengaku, untuk menyelesaikan masalah ini mereka hanya bergantung pada keberanian mereka. Akhirnya mereka berhasil mengumpulkan 12 santri dengan enam asatiznya. Jadilah mereka melakukan studi banding ke An-Nur II.
Kegiatan berlanjut menuju pemaparan materi. Ustaz Dedy sebagai presenter maju ke depan. Ia menjelaskan sistem yang ada di Pondok Pesantren Tahfiz An-Nur II “Al-Murtadlo” secara rinci. Mulai dari pembagian santri yang sudah lancar membaca Al-Qur’an dan santri yang sudah masuk penghafal Al-Qur’an.
Ustaz Yudi, berkata jika salah satu program di An-Nur II bisa diletakkan di RTQ mereka. Terutama terletak pada pengumpulan santri saat sudah mencapai target. Yaitu, ketika santri sudah hafal lipatan lima juz, maka harus fokus untuk simakan.
Kegiatan yang ada di ujung tanduk, penyerahan cindera mata dari kedua Lembaga itu. Setelah saling menyerahkan cindera mata, mereka berfoto bersama. Doa pun menjadi penutup acara malam itu.
(Ahmad Firman Ghani Maulana/Mediatech)
