RJ dan An-Nur II, Persamaan KH. Badruddin dan KH. Abdurrahim

RJ dan An-Nur II, Persamaan KH. Badruddin dan KH. Abdurrahim

RJ dan An-Nur II, Persamaan KH. Badruddin dan KH. Abdurrahim

Aroma bukhur yang dibakar, menyeruak ke sela-sela jamaah yang saling berhimpitan. Aroma itu menambah kekhusyukan ribuan jamaah selawat Majelis Maulid wa Ta’lim Riyadlul Jannah yang hadir malam itu.

Sudah tiga tahun KH. M. Badruddin Anwar meninggalkan ribuan santrinya di usia ke-75. Dan pada peringatan seribu hari kewafatan beliau, ribuan jamaah Riyadlul Jannah dan santri membaca selawat serta do’a di Pondok Pesantren Wisata An-Nur II, Ahad, 24 November 2019.

Majelis Maulid wa Ta’lim Riyadlul Jannah dirintis oleh Allahummarham KH. Abdurrahim bin Ahmad Syadzili. Beliau mendirikan majelis untuk mengajak masyarakat beramai-ramai membaca selawat.

Inilah letak persamaan antara KH. M. Badruddin Anwar dan KH. Abdurrahim yang dijelaskan oleh Dr. KH. Fathul Bari, S. S., M. Ag, pengasuh Pondok Pesantren Wisata An-Nur II “Al-Murtadlo” dalam mauidloh hasanah yang beliau sampaikan pada acara tersebut. Di mana kedua sosok panutan yang telah tutup usia itu sama-sama mengajak untuk memperbanyak bacaan selawat.

Dijelaskan oleh Kiai Fathul, Allahummarham KH. M. Badruddin Anwar mewajibkan santri-santrinya untuk memperbanyak bacaan selawat. Dibuktikan dengan dibacanya selawat nariyah setiap usai jamaah salat lima waktu. Dan setiap hari Jumat pagi, seluruh santri mempunyai kegiatan membaca selawat Burdah.

“Bedanya, kalau Gus Rahim (panggilan akrab KH. Abdurrahim) mengajak selawatan masyarakat dengan Riyadlul Jannah, sedang Kiai Bad mengajak selawatan para santrinya di An-Nur II,” terang Kiai Fathul. “Dan sekarang, keduanya bersatu dalam Majelis yang dilaksanakan di An-Nur II,” tambah beliau. Hal ini diperjelas bahwa jamaah dan santri berbaur dalam satu lokasi, lapangan baru di selatan Gedung Aula Yamatin.

Baca juga  Malam Puncak Haul Pertama Kiai Bad

Allah pun Berselawat

Amalan yang terbaik adalah amalan membaca selawat. “Lebih afdlal (utama) dari ibadah yang lain adalah membaca selawat,” tegas Kiai Fathul.

Beliau menjelaskan, bahwa Allah memerintah ke pada hambanya untuk melaksanakan salat. Akan tetapi, tentu saja, Allah tidak melakukannya. “Begitu juga puasa, apakah Allah juga berpuasa?” ujar beliau menerangkan.

Akan tetapi, lanjut beliau, Allah memerintah hambanya untuk berselawat. Dan Allah beserta malaikatnya juga membaca selawat ke pada Nabi Muhammad SAW. “Sesungguhnya Allah dan malaikatnya berselawat ke pada Nabi, wahai orang-orang beriman berselawatlah ke pada Nabi!” Tegas Kiai Fathul mengutip sebuah ayat Alquran.

Kelebihan dari bacaan selawat dibuktukan oleh sahabat Ubay yang bergelar sayyidul Qura. Ia dijuluki demikian karena menulis setiap wahyu yang turun. Dan Ubay adalah salah satu sahabat yang namanya pernah disebut oleh Allah.

Kiai Fathul bercerita, suatu ketika Ubay mengaku ke pada Rasulullah SAW untuk menggunakan seluruh sisa waktunya untuk membaca selawat. Rasul pun bersabda, “Maka kebutuhanmu (di dunia dan akhirat) akan dicukupi oleh Allah, dan dosa-dosamu akan diampuni.”

Ini menunjukkan bahwa membaca selawat mempunyai keutamaan yang besar. “Maka dari itu, jamaah sekalian yang merasa rezekinya kurang, perbanyak membaca selawat,” tambah Kiai Fathul.

Dari besarnya keutamaan membaca selawat ini, menunjukkan betapa besar keagungan Nabi Muhammad SAW. Kiai Fathul menekankan, hal ini perlu dipahami benar. Terlebih akhir-akhir ini, ada orang yang membandingkan Nabi SAW dengan orang-orang biasa. “Tentu jauh sekali,” jelas beliau singkat.

Di akhir mauidlohnya Kiai Fathul berharap, dengan istikamah membaca selawat semoga kita semua mendapat Khusnul Khatimah di akhir hayat nanti. “Sebagaimana KH. Badruddin dan KH. Abdurrahim, semoga kita semua khusnul khatimah,” do’a beliau.

Baca juga  LOCKDOWN

(MFIH/Mediatech An-Nur II)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: