<strong>Relasi Ayah dan Anak Menurut Hadis dan Al-Qur’an</strong>

Relasi Ayah dan Anak

Dunia tidak pernah kehabisan kejadian atau peristiwa menarik. Ia pernah menorehkan sebuah kisah yang menarik antara seorang anak kecil dan ayahnya yang kurang memperhatikan anaknya. Hal itu, membuat si anak mempunyai tekad tersendiri mengenai masalah pelik ini dan inilah yang membuat kisah ini unik.

Ayah si anak merupakan pegiat kerja. Ia berangkat kerja ketika anaknya masih terlelap. Pulangnya pun saat anaknya sudah tertidur. Hingga suatu waktu, si anak mencoba menjaga dirinya tetap terjaga. Padahal ia ini masih berumur delapan tahun, masih duduk di meja kelas dua SD.

Saking inginnya si anak menanyakan unek-unek di hatinya, ia berusaha tidak tidur. Begitu ayahnya datang, si anak langsung mengutarakan keperluannya. “Ayah, aku sengaja tidak tidur. Soalnya, mau tanya berapa sih, gaji Ayah?”

Ayahnya merasa tertegun dengan soal anaknya. “Oke, coba kamu hitung. Ayah bekerja selama sepuluh jam dan gajinya empat ratus ribu.”

Si anak segera mengambil kertas dan pensil. Sedangkan si ayah melepas sepatu dan mengambil minuman.

“Berarti Ayah setiap jamnya akan diberi 40 ribu.” Si anak kemudian berkata, “Ayah, boleh aku pinjam uang sepuluh ribu.”

Si ayah merasa keheranan. “Buat apa?”

Si anak menjawab, “Aku hanya punya uang 30 ribu. Aku butuh sepuluh ribu lagi agar bisa membeli waktu sejam milik ayah. Mama bilang waktu Ayah berharga banget. Jadi aku beli satu jam, Cuma uangku kurang 10 ribu.”

Sang ayah merasa terharu, ia terdiam. Ia segera memeluk anaknya dan menangis. “Maafkan Papa.”

Pentingnya Sosok Ayah dalam Kehidupan Anak

Indonesia tidak kekurangan sosok ayah yang kehadirannya seperti ketiadaannya, tidak memberikan efek apapun. Indonesia sudah mendapatkan prestasi besar dengan menempati negara ketiga di dunia sebagai fatherless country. Bagi yang belum tahu, fatherless ialah absennya seorang ayah dalam kehidupan anaknya karena sebab apapun.

Fenomena ayah “bisu” ini menjadi hal yang pelik. Betapa besar pengaruhnya dalam kehidupan sang anak. Nabi SAW, memberikan nasihat mengenai masalah ini. Abu Hurairah meriwayatkan, Rasulullah SAW mencium Hasan putra Ali. Waktu itu, Aqra’ bin Habis At-Tamimi duduk di samping beliau yang kemudian berkata, “Saya memiliki sepuluh anak dan tidak pernah satu pun yang saya cium.”

Rasul memandangnya dan berkata, “Barang siapa yang tidak memiliki sifat kasih sayang, niscaya tidak mendapat kasih sayang dari Allah.”

Betapa Rasul memperhatikan kasus fatherless ini. Beliau bahkan sampai mengucapkan, orang yang tidak memiliki kasih sayang tidak akan mendapat kasih sayang dari Allah. Rasul juga mencontohkan –dalam hadis tersebut– mencurahkan cintanya pada buah hati dengan menciumnya. Ayah tidak usah malu untuk mencium anaknya, sebagai bentuk romantisnya hubungan mereka.

Insiden ayah “bisu” sendiri bisa memengaruhi kondisi mental seorang anak. Seorang psikolog klinis Fiona Starr dari Middlesex University mengatakan hubungan anak dengan ayahnya bisa memengaruhi perilaku si anak saat menjadi orang tua nanti yang memiliki kecerdasan emosional, bijaksana, dan komunikatif.

Al-Qur’an juga menyiratkan sebuah pesan, mengenai relasi anak dan ayah. Berasal dari penelitian menarik oleh Sarah binti Khalil bin Dakhilallah al-Muthiri, Mahasiswi Fakultas Pendidikan, Konsentrasi Pendidikan Islam dan Perbandingan dari Universitas Umm al-Qura, Mekah. Ia menulis sebuah tesis berjudul, “Dialog Orang tua dengan Anak dalam Al-Qur’an Al-Karim dan Aplikasi Pendidikannya.”

Menurutnya, ada perbandingan artistik antara dialog ayah ke anaknya dengan dialog ibu ke anak. Dalam Al-Qur’an ada 14 percakapan antara ayah dengan anak. Sedangkan antara ibu dan anak hanya dua kali saja. Perbandingan ini membuktikan bahwa kedekatan ayah dengan anak itu lebih urgen dari ibu.

Akhirnya, kesimpulannya ialah figur ayah itu sangat penting bagi anak. Al-Qur’an dan hadis sudah menjelaskan betapa perlunya interaksi dan komunikasi ayah dengan anak demi terwujudnya generasi orang tua idaman. Ayah memang berkewajiban menafkahi keluarga, tapi anak juga butuh nafkah cinta.

(SHINKU/Lingkar Pesantren)

Artikel Terbaru

Leave a Comment

Your email address will not be published.Required fields are marked *

@2026 | Yayasan Pondok Pesantren An-Nur II “Al-Murtadlo”Zeldrex