Refleksi Nuzulul Qur’an

PASAR WAQIAH

Jabal Nur, atau dalam bahasa arab جبل النور yang berarti Gunung Cahaya, adalah sebuah tempat istimewa dan paling sering dikunjungi di Kota Makkah. Jika dilihat dari letak geografis, maka gunung ini terletak 7 kilometer dari arah timur Masjidil Haram.

Lima meter dari pucak gunung ini terdapat sebuah gua kecil berukuran 1,75 hasta yang bernama gua Hira’.Dari sinilah dimulainya sebuah kisah dimana Rasulullah Saw. menerima wahyu pertama dari Allah Swt. melalui Malaikat Jibril. Wahyu yang turun tiba-tiba ini berupa potongan ayat dari kitab suci Alquran.

Ketika Alquran pertama kali diturunkan, surat yang pertama diterima oleh Rasulullah Saw. adalah surat Al-Alaq, surat ke-96, dan surat Al-Kahfi yang memiliki arti gua, surat ke-18. Bila dua bilangan surat ini dijumlahkan maka akan berjumlah 114. Dengan demikian ada pemberitahuan bahwa yang turun adalah kitab Alquran, yang kelak disempurnakan sampai ayat terkahir atau surat 114.

*Didekapnya Rasulullah*

Dikisahkan, kala itu usia Rasulullah Saw. sekitar 40 tahun 6 bulan 8 hari menurut kalender Hijriyah. Atau 39 tahun 3 bulan 8 hari menurut almanak Masehi. Diriwayatkan dalam Shahih Muslim, sayyidah Aisyah Ra. berkata: ketika Nabi Muhammad Saw. sedang berada di gua Hira’, Jibril datang dan berkata, “Bacalah!” Kemudian Beliau menjawab, “Aku tidak dapat membaca.” Itu beliau ulangi sampai tiga kali, dan akhirnya bisa.

Rasulullah bersabda: “Malaikat itu menarik dan mendekapku hingga aku merasa kepayahan.” Lalu Rasul pulang membawa ayat tersebut dalam keadaan gemetar. Rasul pun  masuk ke rumah Khadijah Ra. Dan berkata, “Selimuti aku, selimuti aku.” keluarganya pun menyelimutinya. Kemudian Rasulullah bercerita hal itu kepada Khadijah Ra.

Dari kisah ini, terdapat pelajaran yang bisa kita ambil tentang bagaimana Rasulullah Saw. diperintahkan untuk membaca. Sampai ketiga kali Jibril mengulang, barulah Rasul bisa menirukannya. Maka betapa buruknya kita yang tidak mau belajar. Sebab Rasul pun juga belajar karena tidak bisa. Maka, jangan berandai-andai kita sudah pintar dalam membaca Alquran. Kalupun pantas, itu hanya untuk Rasulullah Saw.

*Himmah Membaca Alquran*

Allah senantiasa mengingatkan kita, bahwa kitab yang telah diturunkan-Nya penuh dengan keberkahan. Oleh karenanya, Allah menyuruh kita untuk senantiasa membacanya, seperti yang di firmankan-Nya dalam surat Shaad ayat 29:

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.”

Pada Lafaz liyuddabbru, memiliki arti supaya kita memperhatikan ayat-ayat-Nya dengan benar. Yakni, diperintahkannya kita supaya membaca Alquran berserta mengangan-angan maknanya. Karena jika kita mengetahui makna dari ayat tersebut, maka akan banyak pelajaran yang dapat kita ambil darinya.

Para ulama terdahulu juga banyak mencontohkan kepada kita untuk mempelajari dan menggalakkan membaca Alquran, terutama di saat tiba bulan Ramadhan. Seperti yang dicontohkan oleh Imam Malik, beliau adalah ahli hadis yang mengkaji hadis di Masjid Nabawi. Begitu masuk bulan Ramadhan beliau tutup hadis, lalu mengkaji Alquran. Seperti itu juga Imam Bukhori saat siang khatam 1 kali Alquran, dan malamnya sepertiga atau 10 juz dari Alquran.

Begitulah para ulama mencontohkan kepada kita. Sesibuk apa pun kegiatan kita saat bulan Ramadhan, selagi Allah memberikan kesempatan kita untuk menemui bulan ini, maka tidak lah pantas kita menyia-nyiakannya. Sebab, adalah suatu keberkahan bisa lebih giat membaca Alquran.

*Kemuliaan Alquran*

Alquran diturunkan adalah sebuah mukjizat yang diterima oleh Rasulullah Saw. dari berbagai kitab suci yang dibawa oleh para Nabi. Maka, Alquran adalah satu-satunya kitab suci yang memiliki berbagai perbedaan yang tidak pernah dimiliki oleh kitab lain.

Perbedaan tersebut di antaranya adalah, yang pertama, Alquran adalah salah satu kitab suci yang memiliki garansi. Karena Allah sendirilah yang akan menjaganya. Seperti Firman Allah Swt. dalam surat Al-Hajr ayat 9:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Alquran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.”

Kedua, Alquran sesuai dengan bahasa aslinya. Yakni, bahasa Arab dan tidak akan diganti dengan bahasa yang lainnya. Adapun bahasa terjemahan dari Alquran sudah dianggap berbeda dengan kitab suci aslinya.

Yang ketiga, terbukti dengan banyak prediksi kejadian yang sebelumnya belum terbukti dan baru terbukti sekarang. Seperti jasad Firaun yang diceritakan didalam surat Yunus ayat 92, yang berbunyi:

فَالْيَوْمَ نُنَجِّيكَ بِبَدَنِكَ لِتَكُونَ لِمَنْ خَلْفَكَ آيَةً ۚ وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ عَنْ آيَاتِنَا لَغَافِلُونَ

“Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu (Fir’aun Ramses II) supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami.”

Kejadian ini dibuktikan oleh ilmuan Maurice Bucaille, seorang peneliti mumi Fir’aun di Mesir. Pada mumi Ramses II dia menemukan keganjilan, yaitu kandungan garam yang sangat tinggi pada tubuhnya. Dia baru menemukan jawabannya di Alquran, yang menerangkan bahwa Fir’aun Ramses II ditenggelamkan di laut Merah pada zaman Nabi Musa.

Dan masih banyak lagi perbedaan-perbedaan yang dimiliki Alquran dengan kitab lain. Oleh karena itu, di bulan diturunkannya Alquran ini, sudah sepatutnya bagi kita untuk lebih memuliakan Alquran. Caranya dengan memperbanyak membaca dan memahami makna dari Alquran dengan seksama.

(Richi/Media-tech An-Nur II)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: