Rajin Ibadah Tidak Menjamin Orang Masuk Surga

nikmat, Rajin Ibadah Tidak Menjamin Orang Masuk Surga, Pondok Pesantren Wisata An-Nur II Al Murtadlo

                Di hari kiamat nanti, semua makhluk hidup akan dibinasakan tanpa terkecuali. Hanya Allah-lah yang tidak binasa. Setelah semua binasa Allah akan membangkitkannya di satu tempat. Di tempat itu lah semua manusia akan dibangkitkan kembali, mulai dari zaman Nabi Adam hingga manusia akhir zaman.

                Pada saat itu semua akan sama di hadapan Allah baik kaya atau miskin; pejabat maupun rakyat; tua maupun muda; jelek maupun rupawan. Ada dua hal yang membedakan mereka di hadapan-Nya, yaitu amal dan isi hati.

                Walau demikian, belum tentu orang yang memiliki banyak amal akan dijamin masuk surga. Hanya amal yang dilakukan karena-Nya (Ikhlas) saja yang dapat menyelamatkan mereka pada saat itu. Seperti keterangan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah yang artinya, “Sesungguhnya Allah tidak melihat rupamu dan hartamu, tetapi Allah melihat amal perbuatanmu dan isi hatimu.”

                Ada sebuah hadis yang menjelaskan tentang ketulusan hati. Hadis ini diriwayatkan oleh Sulaiman ibn Yasir. Dia berkata bahwa ada seorang pemuda yang datang dari Syam (sekarang Irak dan Iran) kepada Abu Hurairah setelah ia berkumpul dengan para sahabat. Pemuda itu bernama Natil ibn Qais.

                Tujuan ia datang saat itu adalah untuk meminta Abu Hurairah menceritakan salah satu hadis Nabi Muhammad. Mendengar permintaan dari orang itu Abu Hurairah mengiyakannya, ia mulai bercerita. Sebenarnya semua manusia akan diminta pertanggungjawabannya atas seluruh nikmat yang telah Allah berikan kepadanya.

Nikmat Berupa Kekuatan Fisik

                Di hari akhir kelak ada tiga lelaki yang ditanya oleh Allah atas nikmat yang diberikan kepadanya. Lelaki pertama diminta pertanggungjawabannya atas kekuatan fisik yang Allah berikan kepadanya, “Apa yang kau lakukan dengan nikmat yang telah kuberikan padamu?” mendengar pertanyaan itu pria itu menjawab, “Saya menggunakan nikmat-Mu untuk berjihad di jalan-Mu hingga aku mati (Syahid).”

                “Tidak, kamu berbohong. Kamu tidak menggunakannya karena-Ku (Tidak ikhlas karena mengharap pujian dari orang lain).” Karena ia tidak mengerjakan amalnya dengan ikhlas ia pun diseret oleh malaikat lalu dilempar ke neraka.

Nikmat Berupa Ilmu dan Suara yang Indah

                Pria selanjutnya adalah seseorang yang diberikan nikmat berupa ilmu dan suara yang indah dalam tilawah Al-Qur`an. “Apa yang kamu lakukan dengan nikmat yang telah-Ku berikan kepadamu?” Mendengar pertanyaan itu pria itu menjawab, “Aku menggunakan nikmat itu untuk mengajar dan membaca ayat-ayat-Mu dengan indah.” Seperti yang terjadi pada lelaki pertama, Allah berkata bahwa pria ini tidak menggunakan nikmat yang telah ia berikan karenanya. Lalu pria itu diseret sebelum akhirnya dilempar ke neraka.

Nikmat Berupa Harta

                Pria terakhir adalah pria yang diberikan nikmat berupa harta yang melimpah. “Apa yang kamu lakukan dengan nikmat yang telah-Ku berikan kepadamu?” Mendengar pertanyaan tersebut pria itu menjawab, “Aku menggunakan kekayaan yang engkau berikan untuk berinfak karena-Mu.” Kejadian yang sama pun terjadi untuk yang ketiga kalinya. Allah berkata bahwa pria tersebut tidak menginfakkan harta yang diberikan karena-Nya. Tak lama setelah itu malaikat menyeret dan melemparnya ke neraka.

                Dari hadis tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa amal baik yang dilakukan tanpa adanya keikhlasan akan percuma. Alih-alih masuk surga justru membuat orang tersebut terseret ke neraka. Sungguh perbuaan yang sia-sia!

                Mengutip salah satu penjelasan dari hadis Nabi Muhammad, “Inna maa Al-A`maalu bi An-Niat (Sesungguhnya segala amal perbuatan bergantung pada niatnya).” seluruh perkara bergantung dengan apa yang diniatkan atasnya. kalau seseorang berniat mengerjakan sesuatu untuk mendapat pujian, maka pujian lah yang akan ia dapatkan. lalu, apabila seseorang berniat mengerjakan sesuatu karena Allah, maka rida Allah akan datang kepadanya.

Tingkat Keikhlasan

                Membahas tentang ikhlas ada tiga tingkatan pada ikhlas: bawah, menengah dan atas. Contoh keikhlasan pada tingkatan paling bawah adalah seperti seseorang yang membaca Surah Al-Waqiah dan bertujuan untuk melancarkan rezeki. Selanjutnya contoh keikhlasan pada tingkatan menengah adalah seperti seluruh umat muslim yang beribadah dan berharap akan masuk surga. Contoh keikhlasan pada tingkatan tertinggi adalah seseorang yang melakukan ibadah tanpa ada embel-embel keinginan yang dia inginkan, bahkan ia tidak berharap masuk surga dengan amal perbuatannya.

*disarikan dari pengajian kitab An-Nur Al-Badari jilid dua oleh Dr. Kh. Fathul Bari, S.S., M.Ag.

(Ryan Winawan/Mediatech An-Nur II

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: