Kajian Pasar Waqiah (12/2/22): Rajab, kerap kali disebut sebagai bulan yang memiliki banyak makna dan keutamaan. Semisal, salah satu makna dari bulan Rajab, adalah bulan pengagungan. Mengapa demikian? Makna ini timbul dikarenakan pada bulan Rajab, tidak terdengar dentingan pedang atau peperangan selama sejarah Islam.
Sekilas Mengulik Keutamaan Bulan Rajab
Saking istimewanya, dalam kitab para ulama terdapat sebuah penjelasan tentang keutamaan bulan Rajab dan beberapa bulan lainnya. Jika dibandingkan, keutamaan bulan Rajab itu ibarat Al-Quran dengan keindahan syiir-syiir lainnya. Bulan Sya’ban seperti keutamaan Nabi Muhammad dengan nabi-nabi yang lain dan bulan Ramadan ibarat seperti kedudukan Allah dengan para makhluk-Nya.
Dalam kitab Kasyfu Al-Khafa’ dijelaskan bahwa, “Rajab adalah bulan Allah, Sya’ban adalah bulanku (Nabi Muhammad) dan Ramadan adalah bulan umatku.” Selain itu, para ulama juga mengatakan bahwasannya, “Bulan Rajab adalah bulan menanam, Sya’ban adalah bulan menyiram dan Ramadan adalah bulan memanen (amal kebaikan yang telah dilakukan).”
Tak sampai di situ saja, barang siapa yang mampu memuliakan bulan Rajab, maka ia akan diberi kekuatan oleh Allah untuk memuliakan bulan Sya’ban. Dan barang siapa memuliakan bulan Sya’ban, ia akan diberi kekuatan untuk memuliakan bulan Ramadan. Dan barang siapa memuliakan bulan Ramadan, maka Allah akan menjaganya dari Ramadan saat itu hingga ke Ramadan setelahnya.
Pada bulan Rajab, sangat dianjurkan pula untuk membaca istigfar dan selawat sebagai pelebur dosa yang kita perbuat. Seperti kata ulama, bahwa membaca istigfar seperti halnya mandi, dan membaca selawat layaknya memakai minyak wangi.
Barang siapa merasa dirinya telah dirundung berbagai amal maksiat yang menimbulkan banyak dosa, maka hendaknya ia membaca banyak istigfar. Dan lebih utama pula, jika ia menambahkannya dengan bacaan selawat sebagai penyempurna.
Berbagai Masalahnya, hanya Satu Obatnya
Perihal faedah dari membaca istigfar, kisah ini dikisahkan di kitab Anisul Mukminin.
Berawal dari seseorang yang mendatangi Hasan Al-Bashri. Dalam kedatangannya, orang tersebut mengadukan kondisi tanah kampungnya yang gersang akibat kemarau panjang. Menanggapi hal yang demikian, Hasan Al-Bashri pun menjawab pertanyaan itu dengan mudahnya, “Bacalah istigfar kepada Allah SWT.”
Selang beberapa waktu, datang lagi orang lain kepadanya. Tak lama, ia pun mengatakan kalau hidupnya kaa itu dalam keadaan kekurangan. Hasan Al-Bashri hanya berkata, “Bacalah istigfar kepada Allah SWT.”
Tak habis disitu, selanjutnya datang lagi orang ketiga yang hendak menemui Hasan Al-Bashri. pada kesempatan itu, dia mengutarakan masalahnya bahwa dirinya telah lama menikah, tapi belum juga dikaruniai seorang anak. Mendengar pertanyaan orang itu, Hasan Al-Bashri tetap saja tidak berpindah jawaban. Beliau menjawab, “Bacalah istigfar kepada Allah.”
Mengenai jawaban yang selalu sama, salah satu teman beliau pun penasaran dan bertanya, “Masalah mereka bermacam-macam dan engkau hanya memerintahkan mereka untuk beristigfar?”
Menyikapi pertanyaan temannya itu, Hasan Al-Bashri menjawab, “Aku tidak mengatakannya karena kemauanku sendiri, tetapi Allah telah berfirman dalam surah Nuh: ‘Maka Aku berkata’, ‘Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu. Sungguh Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu. Dan Dia memperbanyak harta dan anak-anakmu dan mengadakan kebun-kebun untukmu dan mengadakan sungai-sungai untukmu.’” (Q.S. Nuh: 10-12).
(Riki Mahendra Nur Cahyo/Mendiatech An-Nur II)
