Ragam dan Limpahan Rahmat Sang Mahakuasa

Dalam praktiknya, Allah SWT tak henti-henti untuk senantiasa memberi rahmat dan mengasihi seluruh makhluk yang Ia ciptakan. Meski banyak rahmat yang dibagikan Allah berikan sejak dulu hingga kini kepada seluruh makhluk-Nya, hal itu sama sekali tak menjadikan kuantitas rahmat Allah berkurang dan menjadi sedikit.

Bahkan, dalam salah satu hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA, Rasulullah mengatakan, bahwasannya Allah menciptakan seratus rahmat. 99 dari rahmat terebut Ia simpan, dan satu sisanya ia peruntukkan untuk seluruh makhluk-Nya di muka Bumi dan alam raya.

Tak hanya satu atau dua kali, satu rahmat yang diturunkan Allah SWT tersebut mampu membuat banyak sekali kebaikan kepada para makhluk-Nya. Dan tak sekali pun makhluk yang tak menerima rahmatnya.

*Surga untuk Satu Buah Kurma*

Pernah suatu ketika, Sayyidah Aisyah RA berkisah. Satu hari, ia melihat seorang ibu yang memiliki dua orang anak dan tiga buah kurma yang dipegangnya. Secara bersamaan, kedua anak tersebut nampak begitu kelaparan —persis dengan kondisi ibunya saat itu. Melihat kondisi anaknya, sang Ibu pun memberi masing-masing anaknya satu buah kurma.

Dengan lahap, kedua anak dari Ibu itu pun menyantap kurma yang diberikan kepada mereka. Belum sampai satu kurma terakhir dilahap sang Ibu, kedua anak dari seorang Ibu itu telah menghabiskan kurma yang dimilikinya karena saking tak kuasa menahan lapar.

Sang ibu menatap kedua anaknya yang kelaparan itu. Tak tega melihatnya, ia pun mengambil satu kuma miliknya dan membelahnya menjadi dua bagian. Masing-masing dari kedua belahan kurma tersebut kemudian diberikan untuk masing-masing anaknya, dengan harapan tiap anaknya itu dapat merasa lebih terhindar dari kelaparan dibandingkan dengannya.

Sayyidah Aisyah yang melihatnya pun terharu dan menceritakannya kepada Rasulullah. Mendengar kisah tersebut, Rasulullah berucap dalam hadisnya, bahwa Allah telah menetapkan baginya surga karena perbuatan baiknya kepada si anak.

*Rahmat di Bola Mata dan Kejemawaan Seorang Hamba*

Dalam hadis riwayat Imam Al-Hakim dari sahabat Jabir bin Abdillah RA, beliau menceritakan: Rasulullah SAW pernah bercerita telah didatangi oleh malaikat Jibril. Kemudian beliau berkata,

إِنَّ لِلَّهِ عَبْدًا مِنْ عِبَادِهِ عَبَدَ اللَّهَ خَمْسَ مِائَةِ سَنَةٍ عَلَى رَأْسِ جَبَلٍ فِي الْبَحْرِ عَرْضُهُ وَطُولُهُ ثَلاثُونَ ذِرَاعًا فِي ثَلاثِينَ ذِرَاعًا

“Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memiliki seorang hamba dari hamba-hamba-Nya yang lain. Hamba tersebut telah beribadah kepada Allah selama lima ratus tahun di puncak sebuah gunung, di sebuah pulau yang dikelilingi dengan lautan yang lebar dan tinggi gunung 30 dzira.

Dalam kisah yang terkandung dalam hadis itu juga, diceritakan pula bahwa di puncak gunung tersebut terdapat sebuah mata air selebar beberapa jari. Dari mata air tersebut, mengalir air yang segar dan berkumpul di sebuah telaga di kaki gunung.

Di puncak gunung tersebut, terdapat pohon-pohon delima yang berbuah setiap hari sebagai bekal hamba tersebut beribadah kepada Allah SWT. Setiap sore, hamba tersebut turun menuju telaga untuk mengambil air wudu, sekaligus memetik buah delima. Setelah memakan buah delima, baru kemudian ia kembali ke puncak gunung untuk mengerjakan seabrek kegiatan peribadahan kembali.

Seusai salat, hamba tersebut berdoa kepada Allah supaya kelak ketika ajalnya tiba, nyawanya dicabut dalam keadaan bersujud dan jasadnya tidak rusak ditelan bumi. Dan benar saja, sesaat ketika hamba tesebut wafat, malaikat Jibril datang kepadanya dan berkata, bahwa Allah telah mengabulkan doa sang hamba.

Setelah beberapa masa, tak disangka, pada hari kebangkitan, Allah memerintahkan malaikat untuk memasukkan hamba tersebut ke dalam surga dengan garis bawah: atas dasar rahmat yang diberikan oleh Allah kepadanya.

Mendengar hal itu, hamba tersebut tak terima. Ia menganggap dirinya harus dimasukkan ke surga atas dasar amal yang telah ia perbuat, bukan dengan belas kasih dari Tuhan. Penolakan yang dilontarkan Hamba tersebut terus berulang sebanyak tiga kali.

Alhasil, menyikapi reaksi dari si hamba, Allah pun memerintahkan malaikat untuk menjalankan sautu tugas. Mandat tugas tersebut adalah menimbang betapa banyak rahmat yang Allah berikan kepada hamba tersebut, dibandingkan dengan jumlah ibadah yang ia lakukan.

Ternyata setelah ditimbang antara amal ibadanya selama lima ratus tahun dengan nikmat rahmat matanya, amal tersebut kalah berat dengan nikmat yang telah Allah Swt. berikan. Allah pun memerintahkan malaikat untuk menggiringnya kedalam neraka. Ketika akan digiring, tiba-tiba hamba tersebut berteriak sambil menangis, “Ya Rabb… Masukkan aku ke surga dengan rahmat-Mu.” Dan Allah pun menuruti kemauannya.

Setelah itu, Allah memberikan pertanyaan, “Wahai hambaku, siapakah yang telah menciptakanmu yang sebelumnya kamu bukan apa-apa?”

Hamba tersebut menjawab, “Engkau Ya Rabb.”

Allah bertanya lagi, “Siapakah yang telah memberikan kekuatan kepadamu, sehingga kamu mampu beribadah kepadaku selama lima ratus tahun?”

Hamba itu pun menjawab, “Engkau Ya Rabb.”

Hingga, yang terakhir, Allah berfirman. “Begitulah, karena rahmat-Ku (yang berupa kekuatan menjalani ibadah lima ratus tahun) engkau masuk ke dalam surga.” Dan akhir dari cerita ini, malaikat Jibril berkata kepada Nabi SAW:

إِنَّمَا الأَشْيَاءُ بِرَحْمَةِ اللَّهِ يَا مُحَمَّدُ

“Sesungguhnya segala sesuatu berkat rahmat Allah wahai Muhammad.”

(Arif Rahman/Mediatech An-Nur II)

Your email address will not be published.

Your email address will not be published.

TERBARU