Terbaru

Qana’ah versus Serakah

By on 15 Mei, 2012 0 32 Views

Edisi 419

Rasulullah saw. diturunkan oleh Allah swt. sebagai Rahmatan lil ‘alamin (rahmat seluruh alam), serta bertujuan untuk menyempurnakan akhlak atau perilaku manusia. Sebab, Semakin lama akhlak manusia di bumi ini semakin memprihatinkan, sehingga Allah swt. menurunkan utusan-Nya agar akhlak manusia bisa diperbaiki kembali melalui ajaran yang dibawanya, yakni ajaran Islam. Dalam ajaran Islam, manusia diperintahkan untuk selalu berbuat baik kepada siapapun, baik kepada Allah, sesama manusia, hewan, dan tumbuhan. Sehingga, dengan menerapkan ajaran Islam, manusia akan terasa lebih memiliki bermoral dan berakhlak mulia.

Akan tetapi, perlu diketahui, bahwa salah satu dari akhlak yang telah diajarkan oleh Nabi itu, kini mulai terabaikan dan mulai terkalahkan oleh nafsu dari tiap individu manusia itu sendiri. Seperti sifat Qona’ah (menerima dan mensyukuri nikmat yang telah diberikan oleh Allah swt. apa adanya). Sifat inilah yang kini mulai luntur dari kalangan masyarakat kita. Padahal, dalam Al-Qur’an,  Allah swt. telah berfirman:

ولو بسط الله الرزق لعباده لبغوا في الأرض ولكن ينزل بقدر ما يشاء، إنه بعباده خبير بصير

Artinya:

 “Dan Jikalau Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat. (QS. As-Syuraa: 27).

Ayat di atas telah menjelaskan bahwa manusia mempunyai sifat serakah dan tidak pernah merasa puas dengan apa yang telah dimilikinya. Selain itu, ayat di atas juga menerangkan bahwa rezeki atau nikmat yang diberikan oleh Allah swt. kepada makhluknya merupakan anugrah yang terbaik bagi makhluk-Nya. Sehingga, kita sebagai hamba harus selalu bersyukur kepada Allah, karena beliau masih mau memberi kita rezeki. Meskipun menurut kita rezeki tersebut  terasa hanya sedikit.

Sebenarnya, apabila kita hidup dengan menjalankan apa yang telah diajarkan oleh Nabi (seperti sifat Qonaah), kita bisa hidup dengan tenang, damai, dan tentram. Meskipun dalam diri manusia terdapat sifat serakah. Rasulullah saw. bersabda:

عن عبد الله بن عمرو بن العاص أن رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم قال : قد أفلح من أسلم ورزق كفافاً وقنعه الله بما آتاه.

Artinya:

Dari Abdullah bin Amar bin Ash, sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda: “Sungguh sangat beruntung orang yang telah masuk Islam, diberikan rizki yang cukup dan Allah menjadikannya sifat qona’ah (merasa puas) dengan apa yang diberikan kepadanya.

Oleh karenanya, dengan sifat Qonaah, manusia bisa mengendalikan diri agar tidak terlalu menyesal dan putus asa dengan usaha yang telah dilakukan, serta dapat menjauhkan diri kita dari sifat serakah, karena sebenarnya, hidup miskin dan kaya itu tidak ada perbedaanya di mata Allah swt. dan yang menjadikan manusia berbeda-beda  adalah dari hatinya. Rasulullah saw. bersabda:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ.

Artinya:

Dari Anas bin Malik ra. berkata : Nabi saw. bersabda: “Bukanlah kekayaan itu banyak harta benda, tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kekayaan hati.”

Oleh karenanya, agar kita bisa menjadi orang yang kaya seperti yang disabdakan Nabi Muhammad saw. di atas. Maka, kita harus menjalankan semua ajaran yang dibawanya, diantaranya dengan menghiasi hati kita dengan sifat Qonaah agar diri kita bisa terjaga dari penyakit-penyakit hati. Karena, dari sifat Qonaah itulah kita bisa menumbuhkan sifat-sifat mahmudah (sifat terpuji) yang lainnya. Seperti sabar dengan keadaan, menambah ketakwaan kita kepada Allah, ikhlas dengan pemberian Allah, sadar bahwa  kita adalah makhluk yang lemah dan Allahlah tuhan yang Maha Kuasa.

Akan tetapi, apabila kita tidak mempunyai sifat Qonaah, maka bahaya dari berbagai penyakit hati bisa menyerang kita kapan saja, dan dimana saja. Seperti sifat serakah akan dunia, yang dapat membutakan mata kita melalui pernak-perniknya, dan kita juga akan diperbudak olehnya. Padahal, hidup kita di dunia ini tidaklah lama. Selain itu, semua tingkah laku kita di dunia ini juga akan dipertanggung jawabkan. Dan yang paling berbahaya lagi adalah kufur akan pemberian dari Allah. Padahal kita juga sudah tahu bahwa kufur termasuk salah satu dosa besar.

Oleh karena itu, kita sebagai makhluk yang lemah dan tidak berdaya harus sadar dan tahu akan keadaan diri kita sendiri, dan mengetahui apa tujuan kita diciptakan oleh Allah, agar kita bisa menjadi makhluk yang memiliki kelebihan jika dibandingkan dengan makhluk-makhluk yang lain. Bukankah Allah swt. telah bersabda:

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariat: 56).

Wallahu A’lam…………..

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: