Pasar Waqiah Ramadan 1447 H/2026 M Malam ke-7
Keutamaan Menuntut Ilmu
Oleh: Dr. KH. Fathul Bari, S.S., M.Ag.
annur2.net – Mantan Menteri Agama Prof. Dr. H. Munawir Sjadzali pernah menceritakan sebuah kisah. Di sebuah kampung ada seorang lelaki yang bertani setiap hari. Suatu saat perjalanan pulang, ia bertemu dengan beruang yang tertimpa pohon. Akhirnya petani tersebut membantunya menyingkirkan pohon yang menimpa beruang itu.
Ternyata beruang tersebut memahami arti balas budi. Ia selalu membantu petani untuk membalas kebaikannya. Beruang itu menjaga sawah yang petani kelola setiap hari dari burung-burung dan pengganggu lainnya. Tidak lagi memakai orang-orangan sawah.
Suatu hari, petani ketiduran di sawah. Beruang itu juga menjaga petani. Kemudian ada nyamuk mendarat di dahi petani. Beruang itu terus mengawasinya. Lalu ia ingin membunuh nyamuk itu dan mengambil sebuah batu yang ada di dekatnya. Setelah itu melemparkan batu tersebut ke arah nyamuk. Namun akhirnya sudah tertebak. Yang mati bukan nyamuk melainkan petani itu.
Niat beruang itu baik sekali. Rela melindungi petani yang telah membantunya serta menjaga sawahnya. Tapi karena caranya salah, akibatnya tidak sesuai ekspektasi. Sebab beruang tidak belajar cara melindungi yang benar. Begitu juga dalam beribadah. Harus menuntut ilmu dan mengaji agar caranya benar. Allah menilai ibadah hamba-Nya karena kesesuaiannya bukan jumlahnya, meskipun niatnya sudah baik.
Maka dari itu, mencari ilmu wajib bagi semua orang tanpa terkecuali, terutama orang muslim. Sebagai Nabi Muhammad saw., bersabda:
طلب العلم فريضة على كل مسلم
“Mencari ilmu diwajibkan bagi setiap orang muslim.”
Menempuh 2.000 km untuk Mengetahui Keutamaan Mencari Ilmu
3641 – حَدَّثَنَا مُسَدَّدُ بْنُ مُسَرْهَدٍ ، نَا عَبْدُ اللهِ بْنُ دَاوُدَ. قَالَ: سَمِعْتُ عَاصِمَ بْنَ رَجَاءِ بْنِ حَيْوَةَ يُحَدِّثُ عَنْ دَاوُدَ بْنِ جَمِيلٍ ، عَنْ كَثِيرِ بْنِ قَيْسٍ ، قَالَ: «كُنْتُ جَالِسًا مَعَ أَبِي الدَّرْدَاءِ فِي مَسْجِدِ دِمَشْقَ فَجَاءَهُ رَجُلٌ، فَقَالَ: يَا أَبَا الدَّرْدَاءِ، إِنِّي جِئْتُكَ مِنْ مَدِينَةِ الرَّسُولِ صلى الله عليه وسلم لِحَدِيثٍ بَلَغَنِي أَنَّكَ تُحَدِّثُهُ عَنْ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم، مَا جِئْتُ لِحَاجَةٍ، قَالَ: فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ: مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَطْلُبُ فِيهِ عِلْمًا، سَلَكَ اللهُ بِهِ طَرِيقًا مِنْ طُرُقِ الْجَنَّةِ، وَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ،
وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْحِيتَانُ فِي جَوْفِ الْمَاءِ، وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ، وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ، وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا وَرَّثُوا الْعِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ.» (رواه أبو داود في سنن أبي داود)
Suatu hari Katsir bin Qais duduk bersama Abu Darda’ di Masjid Damaskus. Kemudian seorang laki-laki datang dan berkata, “Wahai Abu Darda’! Aku datang dari Madinah kota Rasulullah saw., untuk sebuah hadis. Aku mendengar bahwa kamu meriwayatkan hadis tersebut dari Rasulullah. Aku tidak datang untuk tujuan lain.”
Laki-laki tersebut datang jauh-jauh dari Madinah ke Damaskus yang berjarak hampir 2.000 km hanya untuk sebuah hadis, bukan puluhan. Apalagi saat itu tidak ada kendaraan cepat kecuali unta, kuda, atau baghal. Tentu memakan waktu yang sangat lama untuk perjalanannya. Ia rela menempuh jarak sejauh dan selama itu.
Lalu Abu Darda’ menjawab, “Aku pernah mendengar Rasulullah bersabda, ‘Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan menempuh jalan bagi mereka menuju surga. Sungguh para malaikat menurunkan sayapnya karena rida bagi pencari ilmu.
Sesungguhnya orang yang berilmu akan dimintakan ampunan oleh makhluk-makhluk di langit dan bumi, bahkan ikan di air. Keutamaan orang yang berilmu atas ahli ibadah laksana keutamaan rembulan atas seluruh bintang.
Sesungguhnya ulama adalah pewaris para Nabi dan sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, namun mereka hanya mewariskan ilmu, maka siapa yang mengambilnya berarti ia telah mengambil bagian yang melimpah.’” (HR. Abu Daud)
Hadis yang Abu Darda’ berikan kepada laki-laki memiliki tiga poin penting. Pertama, orang yang mau belajar akan Allah mudahkan jalannya. Sejauh apapun ia mencari ilmu dan mengaji, Allah akan melancarkannya. Bahkan Allah akan menuntunnya sampai ke surga. Para malaikat pun hormat dengan menurunkan sayapnya kepada pencari ilmu.
Kedua, semua makhluk di langit dan bumi bahkan ikan memintakan ampunan untuk orang yang berilmu. Sehingga orang tersebut bisa fokus belajar dan memperdalam pengetahuan. Masalah ampunan sudah dimintakan oleh makhluk di dunia ini.
Para Nabi Mewariskan Ilmu, bukan Harta
Ketiga, ulama atau orang-orang yang berilmu adalah pewaris para nabi. Ada sebuah kisah saat Abu Hurairah ke sebuah pasar. Beliau berteriak mengatakan, “Wahai orang-orang! Sekarang ada pembagian warisan Nabi!” Sontak semua orang itu berlarian keluar pasar.
Namun setelah beberapa waktu, orang-orang itu kembali ke Abu Hurairah yang masih ada di pasar sambil marah. “Katanya ada pembagian warisan, tapi yang kami temukan hanyalah majelis ilmu.” Kata mereka.
Setelah itu, Abu Hurairah menimpali bahwa Nabi memang tidak mewariskan harta. Ilmu adalah warisan Nabi Muhammad juga nabi-nabi sebelumnya. Sebagaimana hadis riwayat Abu Daud di atas, orang yang mau menimba ilmu sama dengan mengambil warisan yang sangat banyak.
2647 – حَدَّثَنَا نَصْرُ بْنُ عَلِيٍّ، قَالَ: حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ يَزِيدَ العَتَكِيُّ، عَنْ أَبِي جَعْفَرٍ الرَّازِيِّ، عَنْ الرَّبِيعِ بْنِ أَنَسٍ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: «مَنْ خَرَجَ فِي طَلَبِ العِلْمِ فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ حَتَّى يَرْجِعَ»: «هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ وَرَوَاهُ بَعْضُهُمْ فَلَمْ يَرْفَعْهُ» (رواه الترموذي)
Selain itu, Anas bin Malik juga meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad saw. bersabda, “Barang siapa yang keluar rumah untuk mencari ilmu, maka dia berada di jalan Allah sampai kembali pulang.” (HR. Al-Turmudzi)
Berarti Allah akan selalu membantu orang yang mencari ilmu hingga ia pulang dan menjadi orang alim. Sehingga orang yang belum paham-paham tidak boleh menyerah karena Allah selalu bersamanya.
Kisah Murid Imam Syafi’i yang Bathi’ul Fahmi
Ada salah murid Imam Syafi’i yang sangat sulit dalam memahami materi. Namanya Syekh Rabi’ bin Sulaiman. Beliau merupakan murid utama Imam Syafi’i yang menjadi ahli hadis dan faqih. Namun karena kelambatannya dalam memahami ilmu, sampai-sampai mendapat julukan bathi’ul fahmi (lemot).
Dalam pembelajaran, Syekh Rabi’ bin Sulaiman kesulitan memahami materi yang Imam Syafi’i berikan. Bahkan Imam Syafi’i sampai mengulangi materinya sebanyak 40 kali, masih belum paham. Akhirnya Imam Syafi’i memutuskan untuk mengajarinya secara privat.
Imam Syafi’i mengajari Syekh Rabi’ bin Sulaiman dengan telaten. Tiap kali belum paham, Imam Syafi’i mengulanginya sampai paham. Pembelajaran itu sampai membuat Imam Syafi’i berkata,
يا ربيع لو أمكن ان أطعمك العلم لأطعمتك اياه
“Wahai Rabi’! Seandainya aku bisa menyuapimu ilmu, aku akan melakukannya kepadamu.”
Namun karena kegigihan dan ketekunannya serta ketelatenan Imam Syafi’i, Syekh Rabi’ bin Sulaiman menjadi ulama yang sangat alim. Bahkan ajaran beliau adalah orang utama yang menyebarkan ajaran mazhab Imam Syafi’i.
Maka dari itu, orang yang berilmu dan mau belajar memiliki banyak keistimewaan. Mereka mendapatkan bantuan dari Allah sampai menuju surga, dan semua makhluk di dunia memintakan ampunan untuknya. Selain itu mencari ilmu sama dengan berjihad di jalan Allah. Jadi jangan putus asa atau berhenti mencari ilmu. Teruslah menimba ilmu agar Allah dan para makhluknya mengiringi jalannya.
(Riki Mahendra Nur C./Mediatech An-Nur II)
