Pasar Waqiah Ramadan 1447 H/2026 M Malam Ke-21
Memburu Lailatul Qadar
Oleh: Dr. KH. Fathul Bari, S.S., M.Ag.
annur2.net – Pada Lailatul Qadar, Malaikat Jibril turun ke bumi dan akan berpapasan dengan orang-orang mukmin. Malaikat Jibril mengucapkan salam bahkan bersalaman dengan mereka.
Syekh Abdul Qadir di dalam kitabnya menerangkan bahwa Malaikat Jibril turun dari langit pada malam Lailatul Qadar tidak akan membiarkan seorang manusia pun kecuali mengucapkan salam dengan menjabat tangannya. Tandanya bulu kulit merinding, hati terasa lembut dan gampang menangis, dan air mata bisa bercucuran.
Hal tersebut menunjukkan keistimewaan Lailatul Qadar. Lailatul Qadar terdiri dari dua kata. Kata pertama yaitu lailatun artinya malam. Kedua qadarun artinya kemuliaan. Maka Lailatul Qadar artinya malam kemuliaan. Bisa dikatakan pula, Lailatul Qadar adalah malam orang-orang yang beribadah saat itu akan mendapatkan kemuliaan dari Allah Swt. Setiap amal-amal baik di malam tersebut mulia.
Sebagaimana di dalam Al-Qur’an,
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ (1) وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ (2) لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (3) تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ (4) سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ (5)
“(1) Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan. (2) Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? (3) Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. (4) Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. (5) Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al-Qadr)
Kata qadar juga bermakna takdir. Pada malam Lailatul Qadar menunjukkan takdir setahun yang akan datang kepada malaikat. Lalu Allah memberikan takdir tersebut kepada malaikat untuk mengeksekusinya termasuk urusan rezeki dan ajal. Meski begitu, sebenarnya takdir telah Allah tentukan sebelum menciptakan langit dan bumi.
Angan-Angan Nabi Muhammad Penyebab Adanya Lailatul Qadar
Terdapat satu kisah di balik adanya Lailatul Qadar. Ada seseorang yang menceritakan kehebatan jihad Bani Israil. Sampai-sampai ada yang berjihad seribu bulan. Itu hanya umur perangnya. Seribu bulan sekitar 83 tahun. Wajar saja orang-orang saat itu memiliki umur yang panjang. Bahkan sampai ratusan hingga ribuan tahun.
Akhirnya Nabi Muhammad saw., berandai-andai umatnya bisa seperti itu. Bisa berjihad dengan amal yang banyak. Nabi pun berdoa, “Ya Allah, Engkau jadikan umatku umurnya paling pendek sehingga amal mereka sedikit.” Sebagai jawaban, Allah memberikan satu malam paling istimewa yaitu Lailatul Qadar. Saat beribadah di malam itu, maka nilainya sama dengan beribadah selama seribu bulan.
Dikatakan juga orang-orang dulu tidak mendapatkan predikat abid (orang yang beribadah) kecuali setelah beribadah selama seribu bulan. Jika mengikuti itu, umat Nabi Muhammad tidak akan pernah mendapatkan gelar abid atau ahli ibadah karena rata-rata umurnya 60 tahun. Kemudian Allah memberikan kemuliaan kepada umat Nabi Muhammad berupa Lailatul Qadar.
Bayangkan jika setiap tahun mendapati Lailatul Qadar dan beribadah di dalamnya. Tentu nilai yang diperoleh sangat banyak. Orang yang berumur 60 tahun dan setiap tahunnya menemui Lailatul Qadar berarti mendapatkan nilai ibadah 60.000 bulan.
Salat dan Doa untuk Menghidupkan Lailatul Qadar
Allah meletakkan Lailatul Qadar di akhir Ramadan karena mencocokkan dengan naluri manusia. Mereka lebih dominan menyukai hal-hal yang baru. Makanya salah Tarawih di awal Ramadan membuat masjid penuh. Tapi semakin lama, jemaahnya berkurang.
Oleh karena itu, adanya Lailatul Qadar menjadi motivasi agar manusia tetap bersemangat beribadah di akhir Ramadan. Seandainya Allah meletakkannya di awal Ramadan, pasti pada tanggal belasan masjid sudah sepi.
مَنْ يَقُمْ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barang siapa yang salat pada malam Lailatul Qadar karena iman dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari)
Lalu siapa orang yang berhak mendapatkan Lailatul Qadar? Apa yang haru dilakukan supaya mendapatkannya? Sesuai hadis di atas, mestinya dengan mendirikan salat di malam Ramadan. Tidak harus beribadah di seluruh malam. Dalam hadis yang lain disebutkan,
من صلى المغرب والعشاء في جماعة حتى ينقضي شهر رمضان فقد أخذ من ليلة القدر بحظ وافر
“Barang siapa salat Magrib dan Isya secara jemaah sampai bulan Ramadan selesai, maka ia benar-benar mendapati Lailatul Qadar.” (HR. Al-Baihaqi)
Dalam hadis lain,
من شهد العشاء الآخرة في جماعة من رمضان فقد أدرك ليلة القدر
“Barang siapa yang melaksanakan salat Isya terakhir secara jemaah dari bulan Ramadan maka ia benar-benar menemui Lailatul Qadar.” (HR. Al-Baihaqi)
Menurut hadir pertama, setiap melaksanakan salat Magrib dan Isya berjemaah sampai akhir Ramadan pasti mendapatkan Lailatul Qadar. Bahkan melakukan salat Isya berjemaah di akhir bulan Ramadan pun begitu. Ini adalah minimal usaha agar bisa menemui Lailatul Qadar.
Tidak hanya salat, Lailatul Qadar juga mengajak untuk memperbanyak doa kepada Allah. Sayidah Aisyah pernah bertanya kepada Nabi,
قلتُ : يا رسولَ اللهِ أرأيتَ إن علمتُ أيَّ ليلةِ القدرِ ما أقولُ فيها ؟ قال : قولي : اللهمَّ إنك عفوٌّ تُحبُّ العفوَ فاعفُ عنِّي
“Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, Wahai Rasulullah, jika aku kedapatan menjumpai lailatul qadar, bagaimana doa yang harus kubaca?’ Rasulullah saw menjawab, ‘Bacalah, ‘Allāhumma innaka afuwwun karīmun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annī (Ya Allah, sungguh Engkau maha pemaaf yang pemurah. Engkau juga menyukai maaf. Oleh karena itu, maafkanlah aku (maafkanlah kami)),’” (HR. Turmudzi)
Indikasi Letak Malam Lailatul Qadar
Oleh karena tidak kita ketahui pasti kapan Lailatul Qadar, langkah yang tepat adalah melakukan ibadah dari awal hingga akhir Ramadan. Meskipun hanya melakukan salat Isya berjemaah. Ibarat membeli jajan yang berhadiah. Membelinya satu per satu tapi paling banyak kemungkinan tidak mendapatkan hadiah. Lebih baik langsung membeli satu renteng karena pasti akan mendapatkan hadiahnya.
Syekh Nawawi Al-Bantani menyebutkan ada tiga tingkatan menghidupkan Lailatul Qadar. Tingkatan tertinggi menghidupkan Lailatul Qadar dengan salat di seluruh malam itu. Tingkatan tengah-tengah dengan melakukan salat di sebagian besar malamnya. Sedangkan tingkatan paling rendah yaitu salat Isya dan Subuh berjemaah.
Imam Ghazali memberikan tanda-tanda kapan malam Lailatul Qadar. Namun ini hanya perkiraan dan letak sesungguhnya hanya Allah yang tahu. Beliau mengatakan Lailatul Qadar bisa diketahui dengan awal awal Ramadan. Awal Ramadan 1447 H ini pada hari Kamis. Berarti menurut Imam Ghazali, Lailatul Qadar terletak pada malam 25 Ramadan.
Semoga dengan adanya Lailatul Qadar ini bisa memotivasi kita untuk semangat beribadah. Semakin akhir bulan Ramadan, semakin rajin melakukan ibadah kepada Allah. Terlebih lagi ketidaktahuan kita pada letak Lailatul Qadar bisa membantu kita untuk beribadah setiap malam Ramadan. Meskipun hanya dengan tingkatan terendahnya, yaitu salat Isya berjemaah. Selain itu juga senantiasa berdoa kepada Allah Swt.
(Riki Mahendra Nur C./Mediatech An-Nur II)