[polor_menu]
[polor_menu]

PWR Malam ke-2: Tiga Penentu Mendapat Ampunan Allah di Akhirat

Pasar Waqiah Ramadan 2026M/1447H Malam Ke-1

Kajian Kitab Jami’us Shaghir (Kitabul Iman)

Oleh: Kiai Ahmad Zainuddin, M.M.

ثلاث من كن فيه فإن الله تعالى يغفر له ما سوى ذلك من مات لا يشرك بالله شيئا ولم يكن ساحرا يتبع السحرة ولم يحقد على أخيه في الإسلام

Artinya: “Tiga perkara yang apabila ada pada diri seseorang, maka Allah Swt akan mengampuni dosa selain itu: Orang yang meninggal dalam keadaan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, tidak menjadi tukang sihir dan tidak mengikuti para tukang sihir, dan tidak memiliki rasa dengki (iri/hasad) kepada saudaranya sesama Muslim.” 

(HR. Abu Ya’la Al-Mawsili).

***

annur2.net – Allah Swt., Maha Pengampun dan Maha Pengasih kepada hamba-hamba-Nya. Nabi Muhammad saw., memberikan petunjuk agar umatnya mendapat ampunan dari Sang Pencipta.

  1. Orang yang Tidak Menyekutukan Allah

Mesti oleh ampunane pengeran. (Pasti mendapat ampunan Allah Swt.)” Jelas Kiai Ahmad Zainuddin, M.M.

Salah satu tanda keimanan seseorang adalah selalu mengucapkan kalimat:

لا إله إلا الله

Artinya: Tiada tuhan selain Allah Swt.

Penjelasan ini selaras dengan lanjutan hadis di atas:

حَدَّثَنِي جبريلُ قال : يقولُ اللهُ تعالى : لا إله إلا اللهُ حِصْنِي ، فمَن دخله أَمِنَ عَذَابِي

Artinya: “Jibril telah menceritakan kepadaku, ia berkata: ‘Allah Swt., berfirman: ‘Lā ilāha illā Allāh adalah benteng-Ku. Maka siapa yang memasukinya, ia akan aman dari azab-Ku.’” (HR. Ali Al-Ridha).

Hadis qudsi ini secara terang-terangan mengungkapkan seberapa agungnya kalimat Lā ilāha illā Allāh. Bagi seseorang yang masuk dalam Lā ilāha illā Allāh (benteng Allah) maka ia akan aman dari azab-Nya.

Tetapi bagaimana jika seseorang itu sudah iman dan mengucapkan Lā ilāha illā Allāh tetap mengalami kesusahan? Imam Al-Ghazali merumuskan bahwasannya kalimat Lā ilāha illā Allāh itu tidak sekadar diucapkan secara lisan saja. Melainkan hati dan seluruh bagian raga juga mengucapkan Lā ilāha illā Allāh.

  1. Orang yang Meninggalkan Sihir

“Sihir termasuk dosa ageng (besar).” Ujar Kiai Zainuddin.

Orang yang belajar, mengajarkan, dan mengamalkan ilmu sihir dikategorikan ke dalam dosa besar. Tetapi kalau hanya belajar untuk sekadar tahu, agar dapat berhati-hati dan mengetahui obat dari sihir tersebut maka tidak bermasalah.

Nabi Muhammad saw., juga memberikan panduan bagi seseorang yang terkena serangan sihir. Panduan tersebut berupa membaca surah Al-Mu’awwidzatain (Al-Falaq dan An-Nas) beserta doa-doa tertentu.

Ini Nabi Muhammad saw., lakukan saat dulu terkena serangan sihir dari Labid bin Al-A’sham. Meski Nabi sudah mendapat perlindungan dari Allah Swt., beliau tetap memberikan anjuran tersebut agar umatnya dapat mempraktikkannya pada kondisi yang serupa.

  1. Orang yang Tidak Dengki ke Sesama Muslim

Bagian terakhir ini yang sangat sulit manusia amalkan. Seseorang tidak akan bisa memisahkan amaliyah zhahiriyah (ibadah yang tampak) dan amaliyah batiniyah (ibadah hati).

Menyimpan rasa dengki hanya akan menambah permasalahan pada dirinya sendiri:

إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ، فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ

Artinya: “Jauhilah oleh kalian sifat dengki, karena sesungguhnya dengki itu memakan kebaikan seperti api memakan kayu bakar.” (HR. Abu Dawud).

Setelah menelusuri makna tauhid sebagai benteng keselamatan, peringatan keras terhadap sihir, serta bahaya dengki yang menggerogoti pahala, tampaklah bahwa ketiganya bukan sekadar ajaran yang terpisah.

Melainkan satu rangkaian penjaga iman seorang hamba. Dari sini kita memahami bahwa ampunan Allah Swt., terbuka luas bagi mereka yang memurnikan tauhidnya, menjauhi kesyirikan, dan membersihkan hati dari dengki kepada sesama muslim.

(Abu Raihan Efendi/Mediatech An-Nur II)

Artikel Terbaru

Leave a Comment

Your email address will not be published.Required fields are marked *

@2026 | Yayasan Pondok Pesantren An-Nur II “Al-Murtadlo”Zeldrex