Pasar Waqiah Ramadan 2026M/1447H Malam Ke-14
Kajian Kitab Jami’us Shaghir (Kitabul Iman)
Oleh: Kiai Ahmad Zainuddin, M.M.
مَن لَقِيَ اللَّهَ لا يُشْرِكُ به شيئًا دَخَلَ الجَنَّةَ
“Barang siapa bertemu Allah dalam keadaan tidak menyekutukan-Nya sedikit pun, maka ia masuk surga.” (HR. Ahmad)
مَنْ مَاتَ لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ
“Barang siapa mati tanpa menyekutukan Allah sedikit pun, maka ia masuk surga.” (HR. Ahmad)
***
annur2.net – Dua hadis ini menegaskan satu fondasi paling mendasar dalam Islam, yaitu tauhid. Ketauhidan ini meliputi iman kepada Allah Swt., dan Nabi Muhammad saw. Dua hal ini tidak dapat terpisahkan antara satu sama lain.
Jika membohongi utusan-Nya, perkara bohong itu termasuk perbuatan syirik. Sekecil apa pun bentuk syirik (menyekutukan Allah) memiliki dampak yang luar biasa (masuk neraka).
Dalam hadis riwayat Imam Muslim, orang yang menemui Allah dalam keadaan menyekutukan-Nya, ia masuk neraka selamanya.
مَنْ مَاتَ يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا دَخَلَ النَّارَ
Artinya: “Barang siapa mati dalam keadaan menyekutukan Allah sedikit pun, maka ia masuk surga.” (HR. Muslim)
Begitu pula sebaliknya, dia yang dapat menjaga akidah (keyakinan) hingga menemui Allah, berada di surga adalah balasannya atas rahmat-Nya. Tetapi kita sebagai hamba perlu introspeksi diri apakah pantas mendapat balasan yang agung.
Salah satu sahabat Nabi Muhammad saw., yang mendapat kabar ini menanyakan:
قال: ألا أبشر الناس قال: لا أخاف أن يتكلوا
Artinya: “Ia (sahabat) bertanya: ‘Wahai Rasulullah, tidakkah aku sampaikan kabar gembira ini kepada manusia?’ Beliau menjawab: ‘Jangan, aku khawatir mereka akan bersandar (dan bermalas-malasan).’” (HR. Bukhari)
Melalui dialog ini, Nabi menginginkan agar umatnya tetap rajin beribadah dan berbuat baik. Jangan mengandalkan keimanan saja. Tidak pantas bagi seorang hamba yang bermalas-malasan beribadah mendapat kenikmatan yang agung.
Jaga Ibadahmu dari Riya
Bagi hamba yang merasa dirinya sudah pantas mendapat ganjaran surga, ia perlu introspeksi kembali apakah lebih banyak amal salih daripada amal buruk. Ataupun beramal salih namun lebih banyak yang ikhlas atau riya.
Riya adalah beramal kebaikan untuk mendapat pujian atau terhindar dari gunjingan orang lain. Makna inti dari riya, beramal baik untuk selain Allah Swt.
Dalam salah satu hadis, nabi menjelaskan ada juga syirik ashghar (kecil):
إنَّ أخْوَفَ ما أخافُ عليكم الشِّركُ الأصْغَرُ، قالوا: وما الشِّركُ الأصْغَرُ يا رسولَ اللهِ؟ قال: الرِّياءُ؛ يقولُ اللهُ عزَّ وجلَّ لهم يومَ القِيامةِ إذا جُزِيَ الناسُ بأعمالِهم: اذْهَبوا إلى الذين كنتُم تُراؤون في الدُّنيا، فانظُروا هل تَجِدون عِندَهُم جزاءً؟!
Artinya: “Sesungguhnya perkara yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah syirik kecil.” Para sahabat bertanya: “Apakah syirik kecil itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Riya.” Kemudian beliau menjelaskan bahwa Allah akan berfirman pada hari kiamat: “Pergilah kepada orang-orang yang dahulu kalian pameri (amal kalian) di dunia, lalu lihatlah apakah kalian mendapatkan balasan dari mereka!” (HR. Ahmad)
Sesungguhnya ibadah dan amal salih hanyalah untuk Allah. Sebab Dia dzat yang memberi kemanfaatan dan mara bahaya. Sedangkan makhluk tidak bisa berbuat apa-apa.
Pada akhirnya, seorang hamba perlu terus bermuhasabah: sudahkah iman itu benar-benar bersih? Sudahkah amal yang dilakukan murni karena Allah Swt.?
Dengan menjaga akidah, memperbanyak amal salih, dan meluruskan niat, semoga kita dipertemukan dengan Allah dalam keadaan tidak menyekutukan-Nya sedikit pun, lalu memperoleh rahmat dan balasan surga dari-Nya.
(Abu Raihan Efendi/Mediatech An-Nur II)
