PWR Malam Ke-13: Sudah Semestinya Berbakti kepada Orangtua, Ini Lengkapnya

Pasar Waqiah Ramadan 1447 H/2026 M Malam Ke-13

Birrul Walidain

Oleh: Dr. KH. Fathul Bari, S.S., M.Ag.

annur.net – Tahun lalu sebuah panti jompo yang kedatangan seseorang dari Surabaya viral. Orang tersebut mengantar bapaknya yang sudah lansia ke panti jompo tersebut. Penyebab viralnya karena orang itu mengatakan ini kepada pihak panti jompo, “Pak, ini bapak saya. Kalau bapak saya sakit, tidak usah mencari saya. Kalau meninggal, langsung saja dikuburkan, tidak usah menelepon saya.”

Ada juga seorang ibu berumur 55 tahun asal Jawa Tengah dibunuh anaknya karena tidak membelikannya sepeda. Selain itu di Medan, seorang anak berumur 33 tahun membunuh ibunya yang sudah berumur 55 tahun. Lantaran ibunya menegurnya sebab belum mempunyai pekerjaan tapi sering merokok. Di Pemalang, seorang ibu yang dikejar anaknya sambil bawa golok karena tidak diberi uang untuk membeli skincare.

Akhir-akhir ini masih banyak kasus anak berperilaku buruk kepada orang tuanya. Padahal anak wajib berbuat baik dan berbakti kepada orang tuanya. Bukan untuk balas jasa dan budi, akan tetapi karena menuruti perintah Allah Swt. Sebagaimana firman-Nya:

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.” (QS. Al-Isra’: 23)

Berbakti kepada orangtua tidak memandang apakah mereka berjasa atau tidak. Sebab ada kesalahpahaman kalau ada orang tua yang tidak ikut mengurus anak sejak kecil tidak perlu diperlakukan baik. Kadang hanya nenek atau kakeknya yang mengurus sejak kecil. Namun nyatanya, birrul walidain tetap wajib. Apalagi jika orangtuanya telah mengurusnya sejak kecil sampai akhir hayatnya. 

Tiga Paket Ayat Tak Terpisahkan, Birrul Walidain Salah Satunya

‌قَالَ ‌ابْن ‌عَبَّاس رضي الله عنهما ثَلَاث آيَات نزلت مقرونة بِثَلَاث لَا تقبل مِنْهَا وَاحِدَة بِغَيْر قرينتها أَي (إِحْدَاهمَا) قَول الله تَعَالَى {‌أطِيعُوا ‌الله ‌وَأَطيعُوا ‌الرَّسُول} فَمن أطَاع الله وَلم يطع الرَّسُول لم يقبل مِنْهُ (الثَّانِيَة) قَول الله تَعَالَى {وَأقِيمُوا الصَّلَاة وَآتوا الزَّكَاة} فَمن صلى وَلم يزك لم يقبل مِنْهُ (الثَّالِثَة) قَول الله تَعَالَى {إِن اشكر لي ولوالديك} فَمن شكر الله وَلم يشْكر لوَالِديهِ لم يقبل مِنْهُ وَلذَا قَالَ النَّبِي صلى الله عليه وسلم رضى الله فِي رضى الْوَالِدين وَسخط الله فِي سخط الْوَالِدين. (الكبائر للذهبي، ص40)

Ada tiga paket ayat tak terpisahkan dalam Al-Qur’an. Abdullah bin Abbas menyebutkan apabila hanya salah satu yang terpenuhi maka paket tersebut tertolak.

  1. ‌أطِيعُوا ‌الله ‌وَأَطيعُوا ‌الرَّسُول

“Taatlah kepada Allah dan para rasul.” Apabila hanya taat kepada Allah tidak kepada rasul, tidak akan Allah terima.

  1. وَأقِيمُوا الصَّلَاة وَآتوا الزَّكَاة

“Dirikan salat dan tunaikan zakat.” Jika ada orang yang rajin melaksanakan salat bahkan sunahnya, tetapi belum membayar zakat, baik zakat mal maupun fitrah, maka Allah tidak akan menerima salatnya.

  1. إِن اشكر لي ولوالديك

Allah Swt., berfirman, “Bersyukurlah kepada-Ku dan orangtuamu.” Apabila seseorang bersyukur atas nikmat yang Allah berikan tapi tidak kepada orangtuanya, Allah tidak menerima syukurnya. 

Dalam sebuah hadis yang terkenal, Nabi Muhammad saw., bersabda, 

رضى الله فِي رضى الْوَالِدين وَسخط الله فِي سخط الْوَالِدين

“Rida Allah ada dalam rida orangtua dan amarah Allah ada di dalam amarah orangtua.” (Al-Kaba’ir li Al-Dzahabi, hal 40)

Maka dari itu, tidak boleh membuat orangtua marah karena Allah juga akan marah kepada kita. Sebaiknya kita senantiasa membahagiakan orangtua dan berbakti kepadanya. Tentu Allah akan rida karena orangtua rida kepada kita. Di sisi lain, berbakti kepada orangtua lebih baik daripada jihad perang. 

6544 – عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو، قَالَ: ‌جَاءَ ‌رَجُلٌ ‌إِلَى ‌النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم يَسْتَأْذِنُهُ فِي الْجِهَادِ، فَقَالَ: ” أَحَيٌّ وَالِدَاكَ؟ ” قَالَ: نَعَمْ، قَالَ: ” ‌فَفِيهِمَا ‌فَجَاهِدْ ” (1).  (رواه أحمد)

Abdullah bin Amr bercerita, “Seseorang datang kepada Nabi Muhammad saw., meminta izin untuk ikut berjihad. ” Yaitu perang. Lalu Nabi bertanya, “Apakah kedua orangtuamu masih hidup?” Orang itu menjawab, “Iya.” Akhirnya Nabi bersabda, “Maka di sanalah kamu berjihad!” (HR. Imam Ahmad)

Bahkan dalam hadis lain, Nabi menyuruh seorang sahabat kembali ke orangtuanya saat ingin ikut berhijrah.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو ، قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنِّي أُرِيدُ أَنْ أُبَايِعَكَ عَلَى الْهِجْرَةِ، وَتَرَكْتُ أَبَوَايَ يَبْكِيَانِ، قَالَ: «فَارْجِعْ إِلَيْهِمَا ‌فَأَضْحِكْهُمَا كَمَا أَبْكَيْتَهُمَا»

Dari Abdullah bin Amr, “Seorang laki-laki datang kepada Nabi saw., kemudian berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku ingin berbaiat untuk hijrah, dan aku meninggalkan orangtuaku yang sedang menangis.’ Lalu Nabi bersabda, ‘Pulanglah kepada mereka! Buatlah mereka tertawa sebagaimana kamu membuatnya menangis!’” 

Berbakti kepada Orangtua Tidak Meninjau Agama 

Bahkan kalau anak Islam sedangkan orangtuanya non muslim, tetap harus berbakti kepada mereka. Birrul walidain tidak memandang agama. Asalkan mereka tidak mengajak anaknya kepada kemaksiatan. Allah berfirman dalam surah Luqman ayat 15:

وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَىٰ أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا ۖ وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا ۖ وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ۚ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Luqman: 15) 

Ada seorang sahabat bernama Saad bin Abi Waqqash. Saat beliau masuk Islam, orangtuanya tidak ikut. Sampai-sampai ibunya terus mengajak Saad untuk keluar dari Islam. Bahkan ibunya tidak mau makan kalau anaknya tetap beragama Islam. Namun Saad menenangkannya dan menyatakan tetap mengikuti pilihannya.

Saad juga tetap berbuat baik kepada orang tuanya. Beliau tetap menjenguk ibunya setiap beberapa waktu. Meskipun ibunya selalu mengulangi kalimatnya mengajak Saad keluar dari Islam. Hati Saad tetap memilih Islam.

Perlu Tahu, Apa itu Durhaka

Namun, kita perlu tahu apa itu durhaka. Islam sangat sensitif dalam masalah durhaka. Jangankan memukul, mengatakan “ck” saja sudah mengindikasikan kedurhakaan. Sebagaimana dalam Al-Isra ayat 23:

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS. Al-Isra: 23)

Alasan Balas Budi Seumur Hidup Tidak Setimpal

Jika seumur hidup seseorang telah ia abdikan untuk orang tuanya, kenapa tidak akan bisa impas? Mengapa jasa orangtua kepada anak selalu lebih besar dari kebaikan anak kepada orangtua meski selamanya? Jawabannya karena innamal a’malu bin niyat. Segala amal tergantung niatnya. 

Ibaratnya seperti ini, ada seorang anak yang sakit hingga koma di rumah sakit. Setiap hari, ibunya berdoa agar anaknya bisa sehat dengan tulus. Sampai tujuh bulan, anaknya siuman. Akhirnya sehat dan hidup bersama. 

Tapi suatu hari, ibunya sakit. Lalu anaknya membawanya ke rumah sakit. Anaknya mengurusnya dengan memenuhi segala kebutuhan ibunya. Ia juga berdoa agar ibunya sehat. Tetapi ia juga menyelipkan di dalam doanya, “Kalau memang sudah waktunya, aku ikhlas, Ya Allah.” Doa ini menunjukkan perbedaan antara ketulusan ibu dan anak tersebut.

Jadi alasan tidak bisa impas karena keikhlasan orangtua dan anak berbeda. Orangtua mengurus anak sangat ikhlas tanpa timbal balik. Tapi anak mengurus orangtuanya ada harapan dengan warisan, misalnya. Berharap ada imbalannya. Maka dari itu, niat dalam berbuat baik menyebabkan hasil yang berbeda pula.

وابن أبي الدنيا في مكارم الأخلاق (235) من طرق عن شعبة، قال: حدّثنا سعيد بن أبي بردة، قال: سمعتُ أبي يحدّث؛ أنه ‌شهد ‌ابن ‌عمر ورجل يماني يطوف بالبيت، حمل أمه وراء ظهره، يقول: إني لها بعيرها المذلل … إن أذعرت ركابها لم أذعر. ثم قال: يا ابن عمر؛ أتراني جزيتها؟ قال: ‌لا؛ ‌ولا ‌بزفرة ‌واحدة.

Dalam kitab Makarimul Akhlaq, Ibnu Abi Dunya mengisahkan sebuah riwayat. Suatu hari Abu Burdah melihat Abdullah bin Umar dan orang Yaman melakukan tawaf di Kakbah. Orang Yaman tersebut menggendong ibunya di belakang punggungnya. 

Orang itu berkata, “Sesungguhnya diriku adalah tunggangan ibunya yang sangat patuh. Apabila tunggangan yang lain lari, maka aku tidak akan lari.” Kemudian ia bertanya, “Wahai Ibnu Umar, apakah engkau melihat aku sudah membalas budi kepadanya?” Ibnu Umar menjawab, “Tidak, bahkan tidak untuk satu kali tarikan napas (saat melahirkan).”

Maka benar bahwa semua kebaikan yang anak lakukan tidak bisa membalas apapun dari orangtuanya. Satu nafas saat melahirkannya pun tidak setimpal. Namun sebagaimana di awal, berbakti kepada orangtua bukan untuk membalas jasanya, melainkan karena perintah Allah Swt.

Berbakti Memperpanjang Umur dan Membuka Rezeki

Hikmah dari birrul walidain salah satunya adalah umur yang bertambah panjang. Nabi Muhammad saw., bersabda:

1494 – حدّثنا أبو همام، حدّثنا ابن وهب، حدثنى سعيد بن أبى أيوب، عن زبان بن فائد، عن سهل بن معاذ بن أنس، عن أبيه، أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: “‌منْ ‌بَرَّ ‌وَالِدَيْهِ، طُوبَى لَهُ، زَادَ اللهُ ‌فِي ‌عُمُرِهِ”.

“Barang siapa yang berbakti kepada kedua orang tuanya, maka ia sungguh beruntung. Allah akan memanjangkan umurnya.” (HR. Abi Ya’la)

Birrul walidain juga melancarkan rezeki. Nabi bersabda,

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي حُسَيْنٍ الْمَكِّيِّ الْقُرَشِيِّ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ” ‌مَنْ ‌سَرَّهُ ‌أَنْ يُعَظِمَ اللهُ رِزْقَهُ، وَأَنْ يَمُدَّ فِي أَجَلِهِ، ‌فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ “.

“Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung silaturahmi.”

Silaturahmi yang paling agung ya silaturahmi kepada orangtua. Mestinya hubungan antara anak dan orangtua tidak renggang. Semakin dekat hubungan mereka, semakin rukun keluarganya. Semakin lapang pula rezekinya dan umurnya.  

Ini Cara Berbakti kepada Orangtua yang Sudah Meninggal

Tapi bagaimana jika orangtua sudah meninggal? Meski orangtua telah wafat, kewajiban birrul walidain tidak gugur. Nabi Muhammad telah menyampaikan beberapa cara birrul walidain dalam hadisnya.

7976 – عَنْ أَبِي أُسَيْدٍ قَالَ: بَيْنَمَا أَنَا جَالِسٌ عِنْدَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم إِذْ جَاءَهُ رَجُلٌ مِنَ الْأَنْصَارِ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، هَلْ بَقِيَ عَلَيَّ مِنْ بِرِّ وَالِدِيَّ شَيْءٌ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهِمَا أَبَرُّهُمَا بِهِ؟ قَالَ: «نَعَمْ، ‌خِصَالٌ ‌أَرْبَعٌ: ‌الصَّلَاةُ ‌عَلَيْهِمَا، وَالِاسْتِغْفَارُ لَهُمَا، وَإِنْفَاذُ عَهْدِهِمَا بَعْدَ وَفَاتِهِمَا، وَإِكْرَامُ صَدِيقِهِمَا، وَصِلَةُ الرَّحِمِ الَّتِي لَا رَحِمَ لَكَ إِلَّا مِنْ قِبَلِهِمَا»

Dari Abi Usaid, salah satu sahabat yang ikut Perang Badar, berkata, “Ketika aku sedang duduk di samping Rasulullah, tiba-tiba seorang pria datang dan bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah masih ada bentuk bakti yang bisa aku lakukan untuk kedua orang tuaku setelah mereka meninggal dunia?’

Rasulullah ﷺ menjawab: ‘Ya, ada empat hal: Mendoakan mereka, memohonkan ampunan untuk mereka, menunaikan janji (wasiat) mereka setelah mereka wafat, dan menyambung silaturahmi yang tidak akan terhubung kecuali melalui jalur mereka berdua.’” (HR. Al-Thabarani)

Maka dari itu, anak harus senantiasa berbakti kepada orangtua. Bukan karena balas budi, tapi perintah Allah Swt. Birrul walidain tidak memandang agama dan peran orangtua dan mengurus anak. Bagaimanapun itu, anak tetaplah anak, dan orangtua tetaplah orangtua. Sampai kapan pun, anak tentang turunan orangtua meskipun sudah dewasa. 

Selain itu, jangan pernah perhitungan dengan orang tua. Pasti apa yang diberikan kepada orangtua menjadi sebab terbukanya rezeki. Juga menjadi penyebab masuk surga. Birrul walidain juga menambah umur seseorang. 

Kalau anak nakal, maka introspeksi diri. Apakah dulu saat masih kecil nakal juga? Jadi kalau ingin punya anak yang berbakti, maka kita juga harus berbuat baik kepada orang tua kita. berbuat baiklah kepada orang tua kalian, niscaya anak-anak kalian juga berbakti kepada kalian. 

(Riki Mahendra Nur C./Mediatech An-Nur II)

Artikel Terbaru

Leave a Comment

Your email address will not be published.Required fields are marked *

@2026 | Yayasan Pondok Pesantren An-Nur II “Al-Murtadlo”Zeldrex