Pasar Waqiah Ramadan 1447 H/2026 M Malam ke-10
Kitab Jami’us Shogir (Kitabul Imam)
Oleh: Kiai Zainuddin Badruddin, M.M.
7620 – ليس على أهل لا إله إلا الله وحشة في الموت ولا في القبور ولا في النشور كأني أنظر إليهم عند الصيحة ينفضون رؤوسهم من التراب يقولون الحمد لله الذي أذهب عنا الحزن. (طب عن ابن عمر ض)
Dari Abdullah Ibnu Umar, Rasulullah saw., bersabda, “Orang-orang yang mengucapkan laa ilaaha illallah tidak akan merasakan ketakutan saat kematian, tidak di dalam kubur, dan tidak pula saat dibangkitkan. Seakan-akan aku melihat mereka saat tiupan sangkakala, mereka mengibaskan tanah dari kepala mereka sambil berkata, ‘Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan kesedihan dari kami.’” (HR. Al-Thabarani)
annur2.net – Sebagai hamba Allah yang mengesakan-Nya, manusia terbagi menjadi dua. Ada yang mengucapkan kalimat laa ilaaha illallah dengan sungguh dan yakin. Dalam kitab Faidh Al-Qadir Syarah Jami’ Al-Shaghir, Imam Abdur Rauf Al-Munawi menyebutnya dengan ahlu laa ilaaha illallah. Ada pula yang hanya sekadar mengucapkannya atau ahlu qauli laa ilaaha illallah.
Golongan pertama yaitu ahlu laa ilaaha illah merupakan orang yang tidak hanya mengucapkan kalimat tersebut di lisan saja tapi juga di dalam hatinya. Baik lisan maupun kalbunya sama-sama melafalkan laa ilaaha illah.
Mereka tidak akan pernah merasakan kesepian. Entah saat ajal datang, di alam kubur, maupun di akhirat. Amal-amalnya di dunia menemaninya kala itu, meskipun di dalam kubur masih ratusan atau ribuan tahun sebelum bangkit pada hari kiamat
Jika kita bayangkan, di dunia tanpa teman rasanya sepi sekali. Tidak ada gadget dan internet akan terasa hampa. Tapi orang yang benar-benar mengucapkan laa ilaaha illallah tidak akan merasakannya karena segala kebaikannya selama di dunia akan menjadi teman baginya di alam kubur.
Golongan mereka juga tidak merasa kesusahan hidup di dunia. Sejak dulu, dunia begitu-begitu saja. Ada yang jahat dan baik, kaya dan miskin, tampan dan cantik. Hati mereka tenang saat menjalani hidup karena tidak memedulikan dunia. Di akhirat pun mereka merasa senang karena telah mengetahui tempatnya yaitu surga. Begitu pula ketika dibangkitkan pada hari kiamat, orang yang benar-benar mengucapkan laa ilaaha illallah tidak memiliki ketakutan saat hisab amal.
Golongan yang Hanya Mengucapkan Laa Ilaaha Illallah Secara Lisan
Beda dengan golongan kedua, yaitu orang yang hanya mengucapkan laa ilaaha illallah tanpa keyakinan di dalam hati. Mereka merupakan orang merasa dirinya lebih baik dengan amalnya yang bagus. Termasuk dari mereka juga orang yang berharap terhadap dunia atau kedunyan. Biasanya mereka hasud terhadap apa yang orang lain miliki. Mereka hanya mengucapkan laa ilaaha illallah saja, tapi tidak dengan hatinya. Meski begitu, ini lebih baik daripada orang yang tidak mengucapkannya sama sekali.
Jadi, seorang hamba harus bersungguh-sungguh dalam mengucapkan laa ilaaha illallah dengan keyakinan hati. Melakukan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Jika kunci surga telah ia pegang, mustahil ia tidak masuk ke dalamnya.
Jangan Lupa, Laa Ilaaha Illallah adalah Kunci Surga
Ketika seseorang hanya meyakini laa ilaaha illallah, tiada Tuhan selain Allah, tapi tidak meyakini Nabi Muhammad adalah Rasulullah, berarti tauhidnya tidak sempurna. Mestinya seorang hamba harus meyakini tidak ada Tuhan lain kecuali Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan-Nya. Jadi kalimat laa ilaaha illallah dan Muhammad rasulullah adalah satu paket. Jika salah satunya tidak ada, berarti tidak sempurna.
Orang yang ucapan terakhirnya laa ilaaha illallah akan masuk surga, sebab ucapan tersebut adalah puncak ucapan yang terbaik. Beberapa orang ketika tertimpa musibah atau bahkan terpeleset mengucapkan kata kotor. Padahal penolong sejati adalah kalimat laa ilaaha illallah.
Kalau saat ia kesusahan hanya mengingat Allah dan mengucapkan kalimat tersebut, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya. Begitu juga kalimat-kalimat yang mengarah kepada ketauhidan atau mengesakan Allah.
Sedangkan apabila ia sehat dan tidak mengikuti hawa nafsu lalu mengucapkan kalimat laa ilaaha illallah dengan keyakinan, maka Allah akan mengampuni dosanya. Namun apabila saat sehat sembari terlalu mengurusi dunia sampai-sampai lupa salat, berarti ia kedunyan. Sudah beruntung jika ia mengucapkan kalimat tersebut, tapi belum mencapai derajat di atas. Begitulah keterangan dari Imam Ghazali.
Maka dari itu, kita harus senantiasa mengucapkan kalimat tersebut. Baik lisan maupun hatinya harus tertanam kalimat laa ilaaha illallah. Syukur jika sampai menjadi golongan ahlu laa ilaaha illallah. Bahkan berdoa agar kalimat terakhir saat ajal datang adalah laa ilaaha illallah, secara lahir dan batin, agar kunci surga selalu terpegang. Pada hadis selanjutnya, Nabi Muhammad bersabda,
8771 – من شهد أن لا إله إلا الله دخل الجنة. (البزار عن ابن عمر ح)
“Barang siapa bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, maka ia akan masuk surga.” (HR. Al-Bazzar)
(Riki Mahendra Nur C./Mediatech An-Nur II)
