Pasar Waqiah Ramadan 1447 H/2026 M Malam Ke-13
Adab Pasar
Oleh: Dr. KH. Fathul Bari, S.S., M.Ag.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «أَحَبُّ الْبِلَادِ إِلَى اللهِ مَسَاجِدُهَا، وَأَبْغَضُ الْبِلَادِ إِلَى اللهِ أَسْوَاقُهَا»
Diriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa nabi bersabda, “Negeri (tempat) yang paling dicintai Allah adalah pada masjid-masjid-Nya, dan tempat yang paling dimurkai Allah adalah pasar-pasar-Nya.” (HR. Muslim)
annur2.net – Tempat yang paling dicintai oleh Allah yakni masjid dan tempat yang paling dibenci oleh Allah adalah pasar. Dari hal itu, bukan berarti orang yang datang ke pasar merupakan orang-orang yang buruk. Nabi Muhammad pun dulu pergi ke pasar untuk mencari bahan pangan dan memenuhi kebutuhan.
Hal tersebut menimbulkan kontradiksi antara pasar merupakan tempat yang hina dan nabi sebagai makhluk paling suci pergi ke tempat yang hina. Pasar adalah tempat orang bekerja, nabi bersabda sesungguhnya allah mencintai orang yang beriman dengan memiliki pekerjaan yang dapat menopang keluarga.
وفي حديث آخر إن الله يحب الفقير المتعفف أبا العيال
Dalam hadis lain Rasulullah saw., bersabda “Allah menyukai orang fakir yang apik dan yang menjadi tulang punggung keluarga.” (HR. Ibnu Majah)
Allah tidak suka dengan orang yang nganggur, yakni orang yang tidak sibuk urusan dunia dan tidak sibuk dengan urusan akhirat. Mengemis bukanlah profesi dan jangan jadikan hal tersebut menjadi sebuah pekerjaan. Nabi sendiri pernah bersabda:
لَا تَزَالُ الْمَسْأَلَةُ بِأَحَدِكُمْ حَتَّى يَلْقَى اللَّهَ وَمَا فِي وَجْهِهِ مُزْعَةُ لَحْمٍ
“Seseorang senantiasa meminta-minta kepada orang lain hingga ia datang pada Hari Kiamat dalam keadaan tidak ada sekerat daging pun di wajahnya.” (HR. Bukhari No. 1474, Muslim No. 1040)
Barang siapa yang sering meminta-minta tanpa adanya kebutuhan yang mungkin penting, ketika di Hari Kiamat wajahnya akan hancur total. Wajahnya hancur tanpa secuilpun daging di wajahnya, hanya terlihat tulang, terlihat kulitnya dan menghitam. Karena mengemis atau meminta tanpa adanya kebutuhan adalah perbuatan haram karena menurunkan martabat dan meninggalkan ikhtiar (usaha/bekerja mencari rezeki yang halal).
Mengemis bukan untuk memperkaya diri, akan tetapi menghancurkan martabat, tipu daya, hingga di akhirat wajahnya hancur. Namun, meminta boleh dilakukan dengan tiga hal:
الْمَسْأَلَةُ كَدٌّ يَكُدُّ بِهَا الرَّجُلُ وَجْهَهُ إِلَّا أَنْ يَسْأَلَ الرَّجُلُ سُلْطَانًا أَوْ فِي أَمْرٍ لَا بُدَّ مِنْهُ
“Meminta-minta itu adalah cakaran yang dengannya seseorang mencakar wajahnya sendiri, kecuali jika seseorang meminta kepada penguasa (pemerintah) atau dalam perkara yang tidak bisa dihindari (keadaan genting/darurat).” (HR. An-Nasa’i No. 2600, At-Tirmidzi No. 681)
Meminta diperbolehkan dengan dua hal, yang pertama meminta kepada pemerintah. Kita boleh meminta pemerintah karena rakyat pemilik kedaulatan dan pemerintah bertugas untuk melayani, melindungi serta mensejahterakan rakyat. Ini merupakan bentuk hubungan timbal balik dari rakyat yang telah membayar pajak dan mematuhi aturan. Sehingga kita berhak untuk meminta-minta kepada pemerintah untuk memenuhi hak kita, namun kita juga harus membayar pajak serta mentaati peraturan. Lalu, meminta sesuatu bila memang dalam keadaan darurat.
Bekerja di Pasar Sembari Zikir Kepada Allah
Tempat bekerja itu dipasar, siapapun yang masuk pasar tapi berdiri dengan membaca zikir maka ia akan mendapat ganjaran yang besar. Seperti yang Nabi Muhammad katakan:
مَنْ دَخَلَ السُّوقَ فَقَالَ: لَا إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ وَحْدَهُۥ لَا شَرِيكَ لَهُۥ، لَهُ ٱلْمُلْكُ وَلَهُ ٱلْحَمْدُ يُحْيِى وَيُمِيتُ وَهُوَ حَىٌّۭ لَّا يَمُوتُ بِيَدِهِ ٱلْخَيْرُ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍۢ قَدِيرٌۭ، كَتَبَ ٱللَّهُ لَهُۥ أَلْفَ أَلْفِ حَسَنَةٍ وَمَحَا عَنْهُ أَلْفَ أَلْفِ سَيِّئَةٍ وَرَفَعَ لَهُۥ أَلْفَ أَلْفِ دَرَجَةٍ
“Barangsiapa masuk ke pasar kemudian membaca: ‘Tiada Tuhan selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan segala puji. Dia menghidupkan dan mematikan. Dia hidup tidak mati. Di tangan-Nya segala kebaikan. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.’ Maka Allah mencatat baginya satu juta kebaikan, menghapus darinya satu juta keburukan, dan mengangkat baginya satu juta derajat.” (HR. Tirmidzi No. 3428-3429, HR. Ibnu Majah No. 2235)
Sesiapa yang masuk pasar membaca zikir akan membawa satu juta kebaikan, dihapus satu juta keburukan dan akan diangkat satu juta derajat baginya. Yakni membaca “La ilaha illallah wahdahu la syarika lah, lahul mulku wa lahul hamdu yuhyi wa yumit, wa huwa hayyun la yamut, biyadihil khair, wa huwa ‘ala kulli syai’in qadir.”
Mengapa jika di pasar terdapat hal yang begitu tidak disukai Allah? Hal itu disebabkan pasar adalah tempat berbagai setan bersarang. Maka dari itu, terdapat banyak orang yang lupa ketika di pasar akan Allah, melakukan penjualan yang tidak jujur dan berbagai keburukan disana. Sehingga, ketika di pasar kita dianjurkan untuk mengucapkan “Lailahailallah”.
Dengan demikian, pasar merupakan tempat yang paling dibenci oleh Allah Swt. Alasannya karena pasar terdapat banyak orang yang melakukan jual beli yang buruk. Dari hal itu, banyak orang yang lupa Allah dengan melakukan penjualan yang tidak jujur dan Nabi Muhammad saw., menganjurkan ketika akan masuk ke dalam pasar membaca zikir. Maka dari itu, ketika kita akan masuk ke pasar dan berjualan, kita harus ingat kepada Allah dengan membaca zikir agar kita dijauhkan dari perbuatan yang buruk ketika berada di pasar.
(Zihni Maurizio/Mediatech An-Nur II)