Puasa Sia-sia

Ada seorang pria tergesa-gesa menuju bandara dari rumahnya. Setelah turun dari taksi, ia langsung melompat dan lari menuju. Namun, ternyata pesawatnya sudah berangkat. Bagaimana jika hal itu terjadi pada kita? Pasti kecewa.

Maka bagaimana kecewanya orang yang puasa sudah menahan lapar dan puasa di akhirat tidak mendapat pahala? Ini lebih kecewa lagi. Disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Thabrani:

رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ

“Betapa banyak orang berpuasa yang (tidak mendapatkan pahala) hanya mendapatkan lapar dan dahaga.” (H.R. Thabrani)

Siapa mereka? Dalam kitab Ihya’ Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali disebutkan suatu hadis yang diriwayatkan oleh Jabir dari Anas bin Malik. Dalam hadis tersebut dijelaskan ada lima perkara yang menyebabkan batalnya pahala puasa, namun puasanya tetap sah.

Berbohong

Salah satu berbohong yang marak terjadi adalah berbohong dengan tujuan ingin membuat orang tertawa. Rasulullah  bersabda:

وَيْلٌ لِلَّذِى يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ

“Celakalah orang yang berbicara yang mana ia berbohong untuk membuat orang-orang tertawa. Celakalah dia, celakalah dia.” (H.R. Abu Daud)

Bahkan kata celaka dalam hadis tersebut diulang sampai tiga kali. Hal ini menunjukkan hal tersebut sangat dilarang oleh beliau. Jadi, bercanda saja dilarang oleh Rasulullah apalagi berbohong selainnya.

Namun, menurut ibnu Syihab dalam kitab Shohih Muslim, ada berbohong yang diperbolehkan. Pertama, berbohong dalam peperangan. Kedua, untuk mendamaikan dua pihak yang berseteru. Ketiga, berbohongnya suami kepada istri atau sebaliknya dalam hal romantisme.

Menggunjing

Allah mengibaratkan orang yang menggunjing sama halnya dengan memakan daging orang yang digunjing. Allah berfirman dalam surat Al-Hujurat ayat 12:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱجۡتَنِبُواْ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعۡضَ ٱلظَّنِّ إِثۡمٞۖ وَ لَا تَجَسَّسُواْ وَلَا يَغۡتَب بَّعۡضُكُم بَعۡضًاۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمۡ أَن يَأۡكُلَ يَأۡكُلَ لَحۡمَ أَخِيهِ مَيۡتٗا فَكَرِهۡتُمُوهُۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٞ رَّحِيمٞ

“Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Maka bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah maha penerima tobat lagi maha penyayang.”

Dikisahkan, pada zaman Rasulullah Saw. ada dua orang wanita yang sedang berpuasa. Lalu ada orang yang menceritakan keadaan keduanya, “Wahai Rasulullah, di sini ada dua orang yang sedang berpuasa. Keduanya hampir pingsan karena kehausan.”

Namun, Rasulullah berpaling dan tidak menggubrisnya. Orang itu pun datang lagi kepada beliau dan menceritakan kembali kisah tersebut. “Apakah kedua wanita itu boleh membatalkan puasanya?” Rasulullah malah membawakan ember untuk keduanya. Tak disangka, saat ember itu dihadapkan keduanya muntah yang ada nanah dan darahnya. Kemudian Rasulullah bersabda yang artinya:

“Kedua wanita ini berpuasa dari apa yang dihalalkan Allah. Namun berbuka dengan yang diharamkan Allah. Keduanya duduk-duduk untuk makan daging manusia (menggunjing).” (H.R. Ahmad)

Adu domba

Menurut para ulama, kelakuan orang yang mengadu domba lebih parah dari kelakuan setan. Sebab, setan meracuni dengan khayalan, was-was dan sebagainya. sedangkan adu domba itu langsung dan kenyataan. Jadi efeknya lebih cepat dari godaan setan.

Omongan itu beracun jika tidak digunakan dengan baik. Oleh karena itu, saat berbicara dengan orang lain sebaiknya dipikir terlebih dahulu. Apa ada manfaat atau malah membahayakan orang lain? Jika tidak maka tidak perlu disampaikan.

Sumpah palsu

Biasanya hal ini sering terjadi saat transaksi jual beli. Rasulullah telah mengingatkan dalam hadisnya yang diriwayatkan dari Abdullah bin Abi Aufa:

أَنَّ رَجُلًا أَقَامَ سِلْعَةً وَهُوَ فِي السُّوقِ، فَحَلَفَ بِاللَّهِ لَقَدْ أَعْطَى بِهَا مَا لَمْ يُعْطِ لِيُوقِعَ فِيهَا رَجُلًا مِنَ المُسْلِمِينَ

“Bahwa ada seorang memasarkan barang dagangannya di pasar, lalu dia bersumpah dengan nama Allâh bahwa dia telah menjual barang dagangannya dengan harga (sekian, padahal) dia belum menjual barangnya itu (dengan harga yang disebutkan tersebut), untuk memperdaya seseorang dari kaum Muslimin.” (H.R. Bukhori)

Kemudian Allah menurunkan surat Ali Imron ayat 77:

…إنَّ الَّذِينَ يَشْتَرُونَ بِعَهْدِ اللَّهِ وَأَيْمَانِهِمْ ثَمَنًا قَلِيلاً

“Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji (nya dengan) Allâh dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit (harta dunia)…”

Melihat dengan syahwat

Disebutkan dalam hadis Rasulullah Saw:

الْعَيْنُ تَزْنِي، وَالْقَلْبُ يَزْنِي، فَزِنَا الْعَيْنِ النَّظَرُ، وَزِنَا الْقَلْبِ التَّمَنِّي، وَالْفَرْجُ يُصَدِّقُ مَا هُنَالِكَ أَوْ يُكَذِّبُهُ

Mata itu berzina, hati juga berzina. Zina mata dengan melihat (yang diharamkan), zina hati dengan membayangkan (pemicu syahwat yang terlarang). Sementara kemaluan membenarkan atau mendustakan semua itu.” (HR. Ahmad)

Maka, puasa yang kita harapkan dibawa pahalanya ke hadapan Allah tidak hangus pahalanya. Tidak sia-sia tanpa ada noda dosa. Semoga telinga, mata, tangan bahkan hati kita bisa dijaga oleh Allah agar tidak berbuat dosa. Wallahu a’lam.

(Mumianam/Media-tech An-Nur II)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: