Puasa Sebulan tapi Hanya Mendapat Kelaparan

Puasa Sebulan tapi Hanya Mendapat Kelaparan

Senyuman di wajah yang menunjukkan kebahagiaan adalah fenomena biasa di hari raya Idulfitri. Sebab saat itu umat muslim telah berhasil melaksanakan puasa selama sebulan. Hanya saja, untuk sebagian salaf saleh, kegalauan dan kesedihan adalah emosi yang mereka punya di hari itu.

Bulan Ramadan, bulan umat muslim wajib berpuasa selama sebulan penuh. Beberapa orang menganggap tanggal satu Syawal adalah waktu untuk berbahagia, karena mereka telah berhasil melewati kegiatan tersebut.

Namun, menurut ulama salaf saleh ada satu hal yang menjadi titik perhatian, yaitu apakah puasa yang mereka lakukan selama sebulan menjadi amalan yang makbul atau sia-sia? Dilema ini menjadi permasalahan mereka selama orang-orang lain merayakan Hari Raya Idulfitri.

Makanya, para sahabat setelah melewati Ramadan, mereka akan berdoa agar Allah menerima amalan mereka di bulan itu. Mereka takut jika Allah menolak amalan mereka.

Sahabat-sahabat Nabi selama enam bulan giat berdoa, semoga Allah membuat diri mereka merasakan nikmat dan keutamaan Ramadan. Kemudian ketika Ramadan telah usai, mereka akan berdoa agar Allah menerima amalan mereka.

Bagaimana cara mengetahui apakah Allah menerima atau menolak suatu amalan? Hasan al-Bashri berkata, bahwasannya jika Allah menerima amalan seseorang, orang itu akan menuju jalan lurus menuju perbuatan baik lainnya dan berada di koridor ketaatan. Begitu pula sebaliknya, keburukan yang seseorang lakukan bisa berdampak pada kelakuannya di masa depan, ia akan terus berada di kubangan maksiat.

Korelasi Puasa dengan Takwa

Perintah puasa sudah Allah tuturkan dalam firman-Nya dalam surah Al-Baqarah ayat 183 yang berbunyi:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Ayat tersebut menjelaskan bahwasannya sebagai sosok yang beriman, Allah memerintahkan untuk berpuasa. Dalam ayat tersebut Allah juga mencantumkan bahwa puasa itu agar mukminin beriman kepada Allah. Ini menunjukkan bahwa goal dari puasa ialah untuk bertakwa kepada Allah.

Jadi, seumpama seseorang yang telah melewati bulan puasa tapi ketakwaannya berkurang dan malah tidak bertakwa ini menunjukkan amalan orang itu tidak makbul. Sebab pada ayat tersebut sudah jelas tertulis berpuasa agar bertakwa kepada Allah. 

Sedangkan ciri-ciri dari orang yang bertakwa: orang beriman yang tidak suka mencela, melaknat, berbuat keji, dan jorok omongannya kepada orang lain. Rasulullah pernah bersabda:

لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَلَا اللَّعَّانِ وَلَا الْفَاحِشِ وَلَا الْبَذِيءِ
Artinya: “Seorang mukmin bukanlah orang yang banyak mencela, bukan orang yang banyak melaknat, bukan pula orang yang keji (buruk akhlaknya), dan bukan orang yang jorok omongannya.” (HR. Tirmidzi)

Seorang mukmin itu tidak cukup hanya berbuat baik saja. Penilaian kebaikan bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi juga bagaimana ia berperilaku dengan baik kepada orang-orang di sekitarnya. 

Imam Bukhari pernah meriwayatkan bahwa ada seorang sahabat yang bercerita kepada Nabi tentang seorang wanita yang rajin beribadah tapi suka menyakiti tetangganya. Rasulullah pun berkata, “Tiada kebaikan pada dirinya. Dia termasuk dari ahli neraka.”

Sungguh mengenaskan orang yang sudah puasa sebulan tapi sia-sia karena Allah tidak menerima amalannya. Ia hanya mendapat kekosongan perut dan kekeringan tenggorokan. Oleh karenanya, mari menjadi pribadi yang bertakwa sebagai bukti Allah menerima amalan kita.

(Ahmad Firman Ghani Maulana/Mediatech)

Your email address will not be published.

Your email address will not be published.

TERBARU