annur2.net – Apa arti sebuah perpisahan, jika bukan langkah awal menuju kesuksesan? Begitulah momen haru yang terlukis di Pondok Pesantren Wisata An-Nur II “Al-Murtadlo” putra. Pada Ahad, 6 Juli 2025 para santri baru disambut di pondok pesantren ini.
Sejak pagi hari, para orang tua dan santri baru mulai memadati area pondok. Tampak banyak santri ceria bercanda bersama keluarga mereka.
Akan tetapi, ketika menjelang sore hari tak sedikit orang tua yang terlihat senang namun juga berat melepas anak mereka. Akibatnya, suasana berubah setelah anak-anak mereka diantar ke pondok.
Meski terasa berat, demi sang anak mengetahui ilmu agama secara mendalam para orang tua mengikhlaskan mereka.
Tantangan dalam Penerimaan Santri baru
Di balik momen haru tersebut, terdapat berbagai tantangan yang dihadapi dalam proses penerimaan santri baru tahun ini. Ustaz Wildan Habibi (Dande), selaku ketua pelaksana penerimaan santri baru kali ini. Beliau mengatakan, bahwasannya santri yang telah masuk di dalam Pondok pesantren ini mencapai 1.107 santri.
Tahun ini, jumlah santri baru cukup banyak. Hampir setengah dari mereka masuk karena terdapat salah satu atau beberapa keluarga yang ada di pesantren ini.
“Tantangan terbesar dalam PSB adalah ketika mengajak, dan koordinasi yang begitu banyak terjadi salah paham.” Banyak tantangan, namun terdapat dua hal yang paling menantang.
Pertama, mengajak santri masuk ke pondok pesantren ini. Lalu kedua, terdapat koordinasi yang banyak salah paham dalam penugasan dan penataan panitia.
Sementara itu, hal yang paling berkesan menurut Ustaz Wildan Habibi, “Ketika berada di arama billah, momen ketika perpisahan anak dan orang tua.” Perpisahan yang mengharukan dengan anak yang menangis tak ingin ditinggal pergi dan orang tua yang tak rela meninggalkan anaknya.
Harapan dan Pesan untuk Para Santri serta Panitia
Meski berbagai tantangan mewarnai proses penyambutan kali ini, harapan besar tetap tertuju kepada para santri baru dan para panitia yang telah bekerja dibalik layar.
Ustaz Wildan Habibi berharap para santri baru mampu melakukan pesan Dr. KH. Fathul Bari, S.S., M.Ag., “Kerasan gak kerasan, kudu kerasan.” Jadi, apapun alasannya, cobaan ketika berada di pondok dan tidak kerasan, harus tetap kerasan.
“Pesan kepada panitia PSB tahun depan semoga lebih solid lagi.” Ucap terakhir Ustad Wildan Habibi untuk para panitia PSB. Harapannya para panitia lebih solid lagi, dengan solidaritas, kerjasama atau tolong menolong antar sesama panitia.
Maka perpisahan dengan haru dan berat hati bukanlah akhir, melainkan awal dari perjalanan panjang dalam mencari ilmu agama dan membentuk karakter santri itu sendiri. Meski penuh air mata, keikhlasan orang tua dan santri itu yang menjadi pondasi kuat ketika dalam pesantren.
Tantangan demi tantangan dalam proses penerimaan santri baru ini menjadi pelajaran berharga bagi para panitia. Khususnya untuk membangun komunikasi dan koordinasi yang lebih solid.
Lalu, momen haru di asrama Billah menjadi bukti bahwa pondok ini bukan sekedar pondok biasa. Akan tetapi, tempat baru untuk para pejuang ilmu untuk mencari syafaat dari mendapatkan ilmu tersebut.
(Zihni Maurizio/Mediatech An-Nur II)
