Problematika Utang dan Solusinya

utang, Problematika Utang dan Solusinya, Pondok Pesantren Wisata An-Nur II Al Murtadlo

Di dalam bahasa Arab utang terdiri dari huruf dal, ya’, dan nun. Jika tanpa harakat memiliki dua arti, yang pertama دَينٌ yang artinya utang dan دِينٌ yang artinya agama. Memang keduanya memiliki kesamaan, yaitu sama membahas tentang dua posisi yang mana salah satunya memiliki posisi tertinggi dan yang satunya memiliki posisi terendah. Di dalam agama posisi tertinggi adalah Allah dan terendah adalah para makhluk Allah dan di dalam utang piutang posisi tertinggi adalah orang yang mengutangi dan yang terendah adalah orang yang berutang.

Kata-kata utang sudah tidak asing lagi di telinga kita. Karena utang piutang telah dialami oleh semua orang yang ada di dunia ini, termasuk juga Nabi Muhammad SAW. Diceritakan pada satu saat beliau membeli sesuatu kepada orang yahudi dan beliau membayarnya dengan cara berutang, lalu beliau memberi jaminan baju besi.

Banyak orang yang ketika meminjam atau berutang seakan-akan dia terlihat ramah, tapi ketika ditagih tidak seperti ketika berutang dan tidak menepati janjinya. Ini adalah salah satu masalah yang kini dialami oleh orang-orang ketika berutang. Janji adalah utang tapi utang membuat banyak janji. Dan itu memang benar, banyak orang ketika ditagih untuk melunasi utangnya, mereka malah menambah janji tapi tidak ditepati.

Nabi Muhammad pernah bersabda:

نَفْسُ الْمُؤْمِنِ مُعَلَّقَةٌ بِدَيْنِهِ حَتَّى يُقْضَى عَنْهُ

“Jiwa seorang mukmin itu terkatung-katung sebab utangnya sampai utangnya dilunasi.”

Jadi urusan utang tidak hanya berhenti di dunia saja, bahkan akan terbawa sampai di akhirat. Karena utang tidak akan bisa lepas dari kita hingga utang itu telah di lunasi.

Di zaman rasul ada sebuah kisah dari Jabir bin Abdillah. Ketika ayahnya terbunuh di medan perang atau mati syahid, Jabir meminta kepada orang-orang yang pernah diutangi oleh ayahnya untuk membebaskan seluruh utang ayahnya, tapi mereka menolak karena itu hak mereka dan itu sudah menjadi tanggung jawab ayahnya yang harus diselesaikan. Mengapa demikian? Padahal ayah dari Jabir bin Abdillah mati syahid. Rasulullah pernah bersabda:

يُغْفَرُ لِلشَّهِيدِ كُلُّ ذَنْبٍ إِلاَّ الدَّيْنَ

“Semua dosa orang yang mati syahid akan diampuni kecuali utang.” (HR. Muslim).

Dan untuk mengatasi masalah utang-piutang ada 5 langkah jitu.

1. Betobat kepada Allah kalau memang telah membuat janji-janji palsu.

2. Niat dan bersungguh-sungguh untuk melunasi semua utang-utangnya.

3. Ketika memang memiliki utang yang banyak maka kita membuat daftar siapa saja yang telah kita utangi dan jumlah nominalnya, dan juga diberi target pelunasan utangnya kapan.

4. Kita menabung dan menunda kesenangan-kesenangan yang membuat kita boros.

5. Dan kalau uang sudah terkumpul mulai untuk melunasi utang yang jumlah nominalnya terendah dan hindari menunda-nunda pembayaran utang, karena itu adalah salah satu kezaliman yang menimbulkan dosa.

Itu adalah solusi untuk masalah utang piutang dan jangan lupa untuk berdoa. Ada satu doa yang pernah diajarkan oleh rasul kepada Ali bin Abi Thalib agar dimudahkan untuk melunasi utang yaitu:

اللَّهُمَّ اكْفِنِي بِحَلالِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِي بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ

Dengan membaca doa tersebut, insyallah oleh Allah akan dipermudahkan untuk melunasi semua utang dan jangan lupa selalu membaca surah Al-Waqiah sebanyak-banyaknya agar lebih dipermudah. Bahkan kalau bisa kitalah yang mengutangi bukan lagi yang berutang, karena berkah dari membaca surah Al-Waqiah. Tapi ingat, jangan sampai niat baik kita malah merugikan diri kita.

(Abdil/Lingkar Pesantren)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: