Pesantren dan Pendidikan Karakter

Pesantren dan Pendidikan Karakter

“Sepelit-pelitnya orang adalah seseorang yang ketika mendengar namaku ia tidak berselawat,” begitulah Hadis Nabi yang K.H. Ahmad Faruq jelaskan pada Pengajian Rutin Internal Santri yang diselenggarakan di pelataran Masjid Pondok Pesantren An-Nur II “Al-Murtadlo” (Pesantren Wisata) Ahad, 11 November 2020.

Beliau mengingatkan para santri agar senantiasa berselawat kepada Nabi Muhammad, bukan hanya ketika wiridan, “Ketika mendengar namanya pula,” ujar pengasuh dari Pondok Pesantren Nurul Falah Al-Muttaqin. Pada ceramahnya beliau mengatakan, “Berselawatlah pada beliau, kalau bukan karenannya kita tidak akan mengetahui jalan yang benar.”

Beliau juga berkata bahwasanya pesantren adalah tempat yang sangat istimewa, “Dikatakan istimewa mengapa? Karena setiap nafas yang kita hembuskan akan menjadi pahala.” Selain itu pesantren adalah tempat untuk mendidik karakter yang baik.

Sebelum dunia menggembar-gemborkan istilah pendidikan karakter, pondok pesantren telah memasukkan pendidikan karakter dalam mendidik para santri sejak awal berdirinya pesantren.

Pendidikan karakter sangat penting bagi umat manusia. Dengan pendidikan karakter yang baik, santri dapat beribadah pada Allah dan turut mewujudkan firman Allah yang berbunyi, “Dan tidaklah Aku (Allah) menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku.”

Saat santri ingin menjadi seseorang yang baik karakternya ia harus rela bersabar menuntut ilmu di pondok pesantren. Hanya dengan sabar mematuhi peraturan pondok pesantren secara tidak langsung mereka mengamalkan sebagian isi dari Al-Qur’an dan Hadis.

Dialog antara Manusia dan Tuhannya

Dalam ceramahnya Kiai Faruq juga menjelaskan tentang alur kehidupan manusia saat berada di dalam kandungan. Setelah janin berumur empat bulan, Allah meniupkan nyawa untuknya. Tetapi sebelum itu Allah bertanya kepada janin tersebut, “Bukankah Aku (Allah) ini tuhan kalian?” lalu janin itu pun menjawab, “Iya, kami bersaksi bahwa Engakaulah tuhan kami.”

Mengetahui peristiwa itu, iblis menyampaikan keinginannya kepada Allah bahwasanya mereka tidak akan dapat menganggu umat manusia setelah adanya persaksian. Karena itu mereka meminta izin agar diperbolehkan ikut masuk bersama roh yang ditiup. Allah menyetujui hal itu dan masuklah Iblis bersama roh yang ditiup itu.

Cerita tersebut merupakan penyebab mengapa manusia juga memilki sisi buruk. Tetapi ada sebuah perkataan yang menyatakan bahwa, “Sebaik-Baiknya manusia bisa lebih baik dari malaikat, begitu juga sebaliknya.”

Diakhir ceramahnya beliau mengingatkan para santri agar tetap mematuhi peraturan pondok pesantren agar mereka mendapatkan berkah darinya. Berbicara tentang berkah beliau berkata, “Banyak santri di luar sana yang salah menafsirkan tentang berkah, banyak dari mereka menagih berkah tapi tidak patuh terhadap peraturan.”

Karena itu beliau juga memberikan penjelasan bahwasanya berkah itu dapat di peroleh saat santri mentaati kiai di hadapan ataupun di belakangnya, “Kalau mereka telah melakukan itu Insya Allah mereka akan mendapat berkah,” Tutup beliau.

(Ryan Winawan/Mediatech An-Nur II)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: