Pesan TNI Kepada Santri Untuk Negeri

Upacara perayaan Hari Santri Nasional telah genap 3 tahun pada 2018 ini. Seantero warga pesantren tentu mengagendakan seremonial tiap 22 Oktober itu. Tak terkecuali Pesantren Wisata An-Nur II yang jauh hari sudah mencanangkan konsep dengan matang untuk tampil dalam perayaan HSN pada Senin, 22 Oktober 2018.

Seperti tahun sebelumnya, perayaan HSN diikuti oleh jajaran Pengasuh serta keluaga bersama seluruh santri putra yang berbanjar lurus di lapangan pusat An-nur II. Dimulai pada pukul 08.00 WIB, upacara yang dipimpin Ust. Lintar Bayu bersama pasukan ini berhasil membentuk formasi lafal arab “An-Nur II”.

Komando TNI, Pimpin Upacara Santri

Baru tujuh bulan pasca pelantikan, Komando Resort Militer (Korem) Kota Malang berkenan hadir dalam perayaan HSN di Pesantren An-Nur II sebagai tamu istimewa sekaligus Inspektur Upacara HSN pada Senin pagi ini. Beliau adalah Kolonel. Inf. Bagus Suryadi Tayo. Tidak hanya gagah dan tabah berdiri di depan, Danrem 083 Baladhika Jaya itu ternyata juga ramah. Terlihat saat mengawali amanatnya, para santri mendapat sapaan manis ‘Selamat Pagi’ ala Tentara. Seperti ingin mengatakan bahagianya bertemu ‘ulama-santri.

Dengan mengusung tema “Bersamai Santri, Damailah Negeri” dalam amanatnya, maka bersatulah tujuan antara TNI dan Santri. Saat merayakan HUT RI yang ke-73 pada 5 Oktober 2017 kemarin, marak sekali Slogan TNI “Bersama Rakyat, NKRI Hebat dan Profesional”. Ini adalah bukti kesamaan visi-misi antara TNI dan kaum Santri.

“Merayakan Hari Santri Nasional merupakan wujud relasi antara pemerintah dan umat Islam”, ujar beliau di awal amanatnya. Maka dari itu, lanjut beliau, Hari Santri harus dimaknai untuk memperkokoh segenap umat beragama agar saling berkontribusi dalam mewujudkan Indonesia yang bermartabat, sejahtera dan makmur.

Sekarang ini Indonesia sedang dihadapkan dengan berbagai problematika yang harus segera diselesaikan. Kalangan pesantren yang di dalamnya para kiai dan santri, diharapkan dapat mencurahkan energinya untuk menjaga persatuan dan kesatuan di tengah situasi saat ini.

Berkaca kepada sejarah, beliau menyampaikan adanya Hari Santri Nasional diambil dari peristiwa resolusi jihad yang dikeluarkan oleh KH. Hasyim As’ari. “Resolusi ini memantik terjadinya peristiwa heroik pertempuran 10 November 1945, kemudian hari itu kita peringati sebagai hari pahlawan”, ujar beliau dalam amanatnya.“Pada kenyataannya Resolusi Jihad juga menjadi pelebur sekat-sekat di antara kelompok agamis, sosialis, dan kelompok-kelompok yang lain”, lanjutnya.

Tentara merupakan tameng Republik Indonesia. Sedangkan santri adalah benteng dengan ukuran lebih besar. Keduanya sama menjaga hormat serta martabat. “Karena kita semua harus merawat hubungan Vertikal (hablumminallah) dan tali horizontal (hablumminannas)”. Tukas Danrem yang menerima penghormatan berupa kopyah An-Nur dan sorban hijau dari Pondok Pesantren An-Nur II itu.

Untuk mempertegas amanat bangsa ini, Danrem yang juga pernah menjadi Asisten Kostrat itu berpesan sebelum mengakhiri pidatonya. “Saya berpesan kepada semua santri. Bahwa, kita harus tingkatkan keimanan kepada tuhan YME. Juga harus menjaga rasa persatuan dan kesatuan dengan silaturrahmi sehingga tidak gampang terpecah belah, kita tebarkan perdamaian kapanpun, dimanapun, dan kepada siapapun,” t utup kolonel lulusan Akademi Militer tahun 1993 itu.

(Elham/MFIH)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: