Pesan Kiai: Jumat dan Selawat, Kunci Keberkahan Dunia Akhirat

Pembacaan Maulid Diba'

Santri, akehno moco solawat, luwih-luwih dina Jum’at, ndek dunya ben ketekan hajat. Ndek akhirat oleh syafaat. (Wahai para santri, perbanyaklah membaca selawat, terlebih pada hari Jumat. Agar di dunia segala hajat dikabulkan, dan di akhirat memperoleh syafaat.)”

Pesan yang dikutip langsung dari Dr. KH. Fathul Bari, S.S., M.Ag., selaku pengasuh kepada santri putra Pondok Pesantren Wisata An-Nur II “Al-Murtadlo”, Jumat, 21 Agustus 2026/8 Rabiul Awal 1448 H.

***

annur2.net – Setiap pekan, Allah menghadiahkan satu hari yang penuh keistimewaan dan keberkahan. Hari penuh rahmat itu juga memiliki kedudukan agung di sisi Allah. Seperti halnya Ramadan lebih mulia di antara bulan-bulan yang ada. Rasulullah saw., bersabda:

إنَّ يومَ الجمعةِ سيِّدُ الأيَّامِ ، وأعظمُها عندَ اللهِ ، وَهوَ أعظمُ عندَ اللهِ من يومِ الأضحى ويومِ الفطرِ…

Artinya: “Sesungguhnya hari Jumat adalah penghulu hari-hari dan hari yang paling agung di sisi Allah. Ia lebih agung di sisi Allah daripada hari Iduladha dan Idulfitri…” (HR. Ibnu Majah)

Namun, tidak sedikit yang melewatinya seperti hari-hari pada umumnya, tanpa mempersiapkan diri untuk memperbanyak ibadah . Padahal hari tersebut menyimpan waktu mustajab, dan berbagai keutamaan. Sebagaimana Nabi Muhammad saw., bersabda:

فيهِ ساعةُ لا يُوافقها عبدٌ مسلمٌ وهو قائمٌ يصلّي يسألُ الله شيئا إلا أعطاهُ إياهُ وأشارَ بيدهِ يقللها

Artinya: “Pada hari Jumat terdapat satu waktu. Tidaklah seorang muslim mendapatinya sedang beribadah kepada Allah lalu memohon sesuatu kepada-Nya, melainkan Allah akan mengabulkan permintaannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Beberapa ulama berpendapat mengenai waktu spesifik mustajab pada hari Jumat. Ada dua tempat, pertama, waktu di antara waktu salat Ashar dan Magrib.  Kedua, di saat khatib Jumat duduk di antara dua khutbah.

Amalan Pada Waktu Mustajab Jumat

Salah satu amalan mulia yang dianjurkan untuk menghidupkan hari Jumat adalah memperbanyak selawat kepada Nabi Muhammad ﷺ. Anjuran tersebut secara khusus beliau sampaikan dalam sabdanya:

إنَّ مِن أفضَلِ أيَّامِكم يومَ الجُمُعةِ؛ فأكثِروا عليَّ مِن الصَّلاةِ فيه؛ فإنَّ صَلاتَكم معروضةٌ عليَّ

Artinya: “Sesungguhnya di antara hari-hari kalian yang paling utama adalah hari Jumat. Maka perbanyaklah selawat kepadaku pada hari itu, karena sesungguhnya selawat kalian akan diperlihatkan kepadaku.” (HR. An-Nasa’i)

Keteladanan para sahabat dalam memperbanyak selawat menjadi bukti nyata bagaimana mereka menghayati ajaran nabi. Di antara mereka adalah seorang sahabat yang patut kita teladani, yakni Ubay bin Ka’ab Sayyidul Qurra’. Beliau bergelar Sayyidul Qurra’ (pemimpin para ahli Qur’an) sebab kepiawaiannya dalam membaca dan  menghafal Al-Qur’an. Setiap kali ada wahyu yang turun, beliaulah yang pertama menulis.

Pada suatu kesempatan Nabi Muhammad saw., menjumpainya. Beliau menyampaikan, “Sesungguhnya Allah memerintahkanku untuk membacakan kepadamu: surah Al-Bayyinah.” Lalu Ubay bin Ka’ab bertanya, “Apakah Allah menyebut namaku?” Rasulullah ﷺ menjawab: “Ya.”

Mendengar hal itu, Ubay bin Ka‘ab menangis karena merasa mendapatkan kemuliaan yang luar biasa. Di tengah luasnya langit dan bumi beserta miliaran makhluk-Nya, Allah Yang Mahaagung berkenan menyebut nama seorang hamba. Adakah kemuliaan yang lebih besar daripada itu? 

Selain dikenal sebagai Sayyidul Qurra’ (penghulu para ahli Al-Qur’an), Ubay bin Ka‘ab juga dikenal sebagai sahabat yang memiliki kecintaan mendalam kepada nabi. Kecintaan tersebut tergambar dalam pengakuannya bahwa ia memperbanyak selawat kepada nabi.

Suatu hari ia bertanya kepada nabi, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku banyak berselawat kepadamu. Berapa banyak dari doaku yang harus aku jadikan untuk berselawat kepadamu?” Rasulullah menjawab: “Terserah kepadamu.”

Ubay kemudian bertanya: “Seperempat?” Rasulullah ﷺ menjawab: “Terserah kamu. Jika engkau menambahnya, itu lebih baik bagimu.” Lalu Ubay berkata: “Kalau setengah?” Rasulullah ﷺ menjawab dengan jawaban yang sama. Hingga Ubay berkata: “Kalau aku jadikan seluruh doaku untuk berselawat kepadamu?” Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذًا تُكْفَى هَمَّكَ وَيُغْفَرُ لَكَ ذَنْبُكَ

Artinya: “Jika demikian, maka akan dicukupkan kegelisahanmu dan diampuni dosamu.” (HR. At-Tirmidzi).

Sabda Rasulullah ini menunjukkan besarnya keutamaan selawat. Amalan yang tampak sederhana melalui lisan tersebut dapat menjadi jalan datangnya pertolongan Allah, ketenangan hati, serta ampunan atas dosa. Kehendak dari lafaz هَمّ adalah Allah akan memudahkan semua urusan dunia dan akhirat. 

Pada akhirnya, kemuliaan hari Jumat tidak hanya terletak pada keutamaannya sebagai penghulu hari, tetapi juga pada kesempatan bagi seorang muslim untuk memperbanyak amal saleh dan selawat. Sebab, Jumat yang penuh keberkahan menjadi momentum terbaik untuk menumbuhkan cinta kepada Nabi Muhammad dan mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Penulis: Abu Raihan Efendi/Mediatech An-Nur II

Editor: Ust. M. Abror Suriyanto

Your email address will not be published.

Your email address will not be published.

TERBARU