Istilah “susah” merupakan hal lumrah yang sering kita temui di masyarakat kita. Tentunya sudah menjadi menu keseharian. Namun, tidak ada bosan-bosannya kita berkelit dalam urusan-urusan yang menyulitkan atau menyusahkan diri sendiri. Dan hebatnya yang merasa susah adalah yang menciptakan kesusahan juga mereka, itulah manusia.
Di era seperti ini siapa yang tidak susah ketika berurusan dengan duniawi? Pastinya semua orang merasakan hal yang sama. karena urusan duniawi tidak ada habisnya jika kita terlalu berambisi dengannya. Sehingga terkadang kita lupa bahwa dunia ini adalah fase kehidupan yang sifatnya sementara. Dan masih ada kehidupan yang kekal, yakni kehidupan di akhirat kelak.
*Disibukkan Duniawi*
Orang yang terlalu sibuk dengan urusan dunia, ia akan rugi dengan sendirinya. Kenapa sedemikian? Karena ketika mereka terlalu memikirkan persolalan dunia, tidak ada hal yang bertambah kecuali bertambahnya kesusahan atau kesulitan. Artinya, semakin ia memikirkan dunia ia akan terbebani oleh problematika dunia itu sendiri. Dari sini lah kesusahan muncul dan terus bertambah.
“Wong susah iku, neng dunyo soro, neng akhirat yo soro. (orang susah itu, ketika di dunia dia akan merasa tidak tenang, begitupun di akhirat).” Begitulah kutipan yang disampaikan oleh Kiai Ahmad Zainuddin Badruddin, saat menyampaikan pengajian kitab Al-Mawaidh fi Al-Ahadits Al-Qudsiyah.
Hal tersebut sudah banyak terbukti, contoh sederhana orang yang memiliki utang. Di dalam hidupnya ia akan merasakan tidak nyaman. Ia akan merasa bahwa di sekitarnya selalu ada Debt Collector, orang yang menagih utang. Hingga yang sering terjadi ketika ada ketukan pintu di rumahnya, ia akan merasakan cemas (ketakutan). Padahal belum tentu yang datang itu adalah penagih utang, bisa saja sanak saudara atau lainnya yang hendak silaturahmi.
Rasa cemas, tidak nyaman itu adalah hal wajar yang terjadi kepada orang-orang yang mengalami susah. Tak jarang terjadi di kalangan masyarakat banyak kasus orang yang susah berujung nahas. Misalnya ada seseorang yang susah masalah cinta. Suatu saat si Fulan putus cinta, lalu ia merasa susah hati hingga berujung frustrasi. Dan pada akhirnya ia gantung diri. Hal itulah sisi negatif ketika terlalu sibuk berurusan dengan duniawi. Bahkan mengagung-agungkan dunia dibandingkan mengagungkan Tuhannya.
Karena hidup itu hanya sesaat. Dalam kesesaatan itulah seharusnya manusia memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya. Tidak harus berlebih berurusan dengan dunia. Sebagai manusia sehendaknya menciptakan rasa enjoy. Rasa yang seharusnya dapat menikmati serta mensyukuri apa yang telah diberikan oleh Allah SWT.
*Galau dengan Urusan Dunia*
Sering kita menemui orang-orang yang banyak berpikir soal dunia. Bingung dengan apa yang akan terjadi besok. Bahkan bingung mau makan apa besok. Padahal, Allah menciptakan makhluk-Nya pasti memiliki tanggung jawab untuk menghidupinya juga. Allah menciptakan mulut pun, pasti sudah ada jatah untuk mulut itu sendiri. Begitupun dengan makhluk yang lain.
Kita bingung dengan urusan dunia berarti secara tidak langsung kita ragu dengan yang menciptakannya. Terkadang kita lupa dengan Al-Malik, Sang Mahamemiliki. Padahal Allah tidak sedikitpun melupakan hambanya. Sering terjadi pula kita menyiakan kesempatan yang ada. Dan ketika kesempatan itu hilang kita akan mencarinya. Atau bahkan merasa bahwa Allah tidak adil dengan kita.
Hal itu lah yang membuat hati kita selalu merasakan susah atau bingung. Bahkan manusia lebih takut kepada sesama manusia dibandingkan kepada Tuhannya. Serta merasa takut saat mendapat amarah dari orang lain, dan merasa aman ketika mendapat murka dari-Nya.
Begitulah manusia selalu dibingungkan dengan dunia. Sehingga selalu merasakan kesusahan. Seperti susah itu tidak ada ujungnya. Padahal ketika kita mau mencari jalan keluar dari kesusahan, jawabannya adalah tenang. Menanamkan rasa tenang. Dan selalu berbaik sangka kepada Allah dan keadaan. Serta memperbanyak ibadah dibandingkan berurusan dengan duniawi belaka.
*Kiai Badruddin pun Tenang*
Suatu hari di saat Kiai Badruddin, pengasuh Pondok Pesantren An-Nur II Al-Murtadlo, baru saja membeli mobil. Beliau bersama sopir andalannya, Cak Musa’i pergi ke Surabaya. Di tenggah perjalanan mobil yang beliau tumpangi tiba-tiba ditubruk oleh sepeda motor dari arah belakang. Kemudian beliau dan Cak Musa’i keluar untuk mengecek kerusakan. Sewajarnya manusia Cak Musa’i pun merasa tidak terima atas perlakuan pesepeda motor tersebut. Dan ingin meminta pertanggung jawaban. Namun oleh Kiai Bad ditanggapi dengan santai, “ Layo i, sopo wong sing gelem apes? (Lha iya I, siapa orang yang mau mendapat musibah?).”
Begitu santai beliau menyikapi persoalan dunia. Tidak dibuat susah oleh beliau. Selalu ditangani dengan hati lapang dan condong menyerahkan apapun kepada Allah SWT. Berbeda dengan kita, pasti sebaliknya. Karena hakikatnya manusia dipenuhi dengan sifat kurang dan emosi dalam menghadapai masalah.
Oleh karena itu sebagai manusia, mulai sejak saat ini harus dihindari kebiasaan terlalu sibuk dengan dunia. Terlalu berangan-angan, tanpa bertindak. Atau bergantung kepada duniawi. Karena hal-hal itulah faktor kesusahan terjadi. Dan Allah telah mengatakan bahwasannya, barang siapa yang hatinya susah maka akan diberi keprihatianan.
(Hanif Azzam/Lingkar Pesantren)