Perihal Perintah Salat

Perihal Perintah Salat

Salat merupakan ibadah wajib bagi setiap orang muslim, mulai anak kecil hingga tua dalam keadaan sehat maupun sakit. Salat telah ada sejak zaman sebelum Nabi Muhammad shallallahu alaihi wassallam  dengan dalil firman Allah Subhanahu wataala dalam surah Al-Baqarah ayat 125 sebagai berikut:

وَإِذْ جَعَلْنَا الْبَيْتَ مَثَابَةً لِلنَّاسِ وَأَمْنًا وَاتَّخِذُوا مِنْ مَقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى ۖ وَعَهِدْنَا إِلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ أَنْ طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْعَاكِفِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ


Artinya: “Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat salat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang tawaf, yang iktikaf, yang rukuk dan yang sujud”.”

Dalam ayat di atas menjelaskan bahwa pada zaman nabi Ibrahim dan Nabi Ismail telah ada perintah salat. Tetapi tidak ada penjelasan yang pasti tentang tata cara salat, waktu salat, dan ketentuan yang lainnya. Hal yang sudah pasti dalam beribadah salat sebelum zaman nabi Muhammad adalah terdapat rukuk dan sujud di dalamnya.

Perintah Salat Lima Waktu

Sebelum terdapat perintah salat lima waktu Nabi telah mendapat wahyu pertama dari Allah  merupakan salat seperti yang sudah terdapat dalam hadis Nabi riwayat Ahmad dan Ad-Daraquthni sebagai berikut:

أن جبريل أتاه في أول ما أوحي إليه فعلمه الوضوء والصلاة

Artinya, “Jibril datang kepada Rasul ketika menyampaikan wahyu pertama dan mengajarkan Rasul wudhu’ dan salat,” (HR. Ahmad dan Ad-Daraquthni).

Pada saat itu salat yang wajib ada dua yaitu dua rakaat ketika subuh dan dua rakaat malam (Qiyamul lail). Perintah ini tidak terkhusus pada Nabi saja melainkan kepada seluruh umat Islam pada zaman itu. Sesudah terjadinya peristiwa Isra Mikraj salat yang wajib adalah salat lima waktu yaitu pada waktu Subuh, Duhur, Asar, Magrib, dan Isya.

Dalam peristiwa tersebut Nabi mengalami dua kali perjalana yaitu Isra’ dan MI’raj. Isra’ adalah perjalanan Nabi dari Masjid Al-Haram ke Masjid Al-Aqsa. Sedangkan Mikraj adalah perjalanan Nabi dari Masjid Al-Aqsa ke Sidratul Muntaha.

Pada peristiwa tersebut Nabi bersama Malaikat Jibril menemui para nabi-nabi terdahulu, hingga bertemu dengan Allah SWT.. Dalam pertemuan Nabi Muhammad dengan Allah Beliau mendapat perintah untuk melaksanakan salat lima puluh waktu. Oleh karena sifat Nabi yang sangat luhur, Beliau menerima begitu saja tanpa adanya negosiasi.

Ketika Nabi Muhammad kembali Beliau bertemu Nabi Musa as. dan meminta beliau bernegosiasi lagi. Umat Nabi Muhammad tidak akan kuat melaksanakan salat 50 rakaat. ”Aku telah belajar dari pengalaman umat manusia sebelum kamu. Aku pernah mengurusi Bani Israil yang sangat rumit. Kembalilah kepada Tuhanmu dan mitalah keringanan untuk umatmu,” ucap Nabi Musa as.

kemudian Nabi kembali ke Allah untuk meminta keringanan sesuai saran dari nabi Musa as. Sehingga negosiasi Nabi Muhammad dengan Allah berhenti dalam perintah salat lima waktu saja. Tetapi dengan rahmat Allah, Allah tetap memberi ganjaran yang sama dengan melakukan salat lima puluh waktu.

(ABU RAIHAN EFENDI/MEDIATECH ANNUR II)

Artikel Terbaru

Leave a Comment

Your email address will not be published.Required fields are marked *

@2026 | Yayasan Pondok Pesantren An-Nur II “Al-Murtadlo”Zeldrex