Perang Badar: Kemenangan yang Tidak Masuk Akal

Perang Badar: Kemenangan yang Tidak Masuk Akal

Pena sejarah pernah menuliskan peristiwa perang yang tidak masuk akal. Pihak yang menang mengerahkan 313 tentara dan musuhnya mengeluarkan seribu pasukan. Perang terbesar pertama umat muslim, Perang Badar.

Pada masa jahiliah, orang-orang banyak yang kontra dengan eksistensinya. Buka hanya dengan terang-terangan kaum kafir Quraisy menolak, tapi juga kaum muslimin agar melepas ke-Islamannya.

Menghina, menyiksa, dan memboikot sudah pernah mereka lakukan kepada umat muslim agar menyerah dan menghilang. Tentunya, Islam tidak bisa diam saja. Mereka memberikan perlawanan kepada kaum kafir Quraisy, hingga berdampak ke peperangan.

Salah satu peperangan yang bersejarah dalam Islam adalah Perang Badar. Secara logika, seharusnya kaum kafir Quraisy menang dengan seribu pasukan. Namun nyatanya, Muslimin yang menang dengan 313 tentara. Ini menunjukkan kebesaran Allah SWT.

Perang ini menunjukkan keberanian sahabat dalam menegakkan Islam melihat jumlah pasukan sebanyak itu, mereka tetap berdiri di medan pertempuran, berjuang untuk agamanya. Keberanian dan keyakinan mereka merupakan senjata paling mematikan selama perang berlangsung.

Perang ini terjadi ketika 17 Ramadan 2 Hijriah atau 13 Maret 624 Masehi. Bertempatkan di Badar, Madinah. Oleh karenanya, perang ini bernama Perang Badar, karena terjadi di Badar.

Latar Belakang Insiden Perang Badar

Sejak awal, kaum kafir Quraisy memang ingin membuat Nabi SAW dan para pengikutnya menyerah untuk menyebarkan Islam. Mereka tidak suka dengan ajaran Islam yang mengganggu adat buruk mereka.

Maka, berbagai inisiatif buruk mereka pakai untuk menyiksa umat muslim. Lebih-lebih ketika istri Nabi, Siti Khadijah dan pamannya Abu Thalib meninggal dunia, kekejaman mereka meningkat. Mereka bahkan sampai merencanakan untuk membunuh Nabi.

Umat beliau pun begitu. Mereka menyiksa umat muslim dan merampas hartanya di Makkah agar melepas agamanya dan kembali ke ajaran jahiliah. Akhirnya, Allah memerintahkan Nabi untuk hijrah ke Madinah yang lebih terbuka dengan Islam.

Sayangnya cerita kebengisan kaum kafir Quraisy masih belum selesai. Kurz bin Habbab, memimpin kaum Quraisy untuk memprovokasi kaum musyrik lainnya yang ada di Madinah.

Islam tidak tinggal diam. Nabi mendapat informasi kafilah dagang di bawah pimpinan Abu Sufyan akan melewati rute Madinah. Ini membuat kaum muslimin berpikir untuk mengambil hak-hak mereka berupa harta mereka yang kaum Quraisy jarah.

Ternyata rencana untuk menyerang kelompok perniagaan Abu Sufyan terbongkar. Ia pun segera meminta bantuan kepada paman sekaligus musuh Nabi, Abu Jahal. Datanglah Abu Jahal dengan membawa seribu pasukannya.

Abu Sufyan hanya memberikan misi untuk para pedagang sehingga ketika para pedagang sudah melarikan diri, Abu Jahal bisa kembali. Akan tetapi, Abu Jahal bersikap sombong dan percaya diri bahwa kemenangan sudah di depan mata.

“Kami tidak akan kembali sebelum minum arak sampai puas, menyembelih kambing dan mendengar para biduan menyanyi dan menari,” jawaban Abu Jahal tatkala Abu Sufyan menyuruhnya untuk mundur. Sayangnya, kepercayaan diri ini berakhir dengan kekalahan.

Umat muslimin menang dengan luar biasa. Peperangan yang tidak memungkinkan untuk muslimin menang. Lantaran kaum kafir Quraisy mendominasi dari segi senjata, kendaraan, dan jumlah. Namun, dengan kuasa Allah, umat muslim berhasil menang.

(Ahmad Firman Ghani Maulana/Mediatech)

Your email address will not be published.

Your email address will not be published.

TERBARU