Penyesalan Orang-Orang Musyrik di Akhirat
Musyawarah Tafsir Jalalain Q.S. Ash-Shaaffat: 22-39 bersama IMAP (Ittihadul Mutakhorrijin Al-Falah Ploso) Malang Raya
Ayat tersebut menceritakan, Allah Swt., memerintahkan malaikat untuk mengumpulkan orang-orang yang zalim terhadap diri mereka sendiri karena musyrik. Perbuatan musyrik membuat mereka tersesat dari jalan kebenaran yaitu mengesakan Allah Swt. Tak hanya itu, teman-teman karib mereka alias setan-setan dan sesembahan yang mereka sembah (berhala) juga turut malaikat kumpulkan. Malaikat pun menggiring mereka ke neraka.
Sebelum sampai di neraka, Allah memberhentikan mereka di Ash-Shirat. Di sana mereka akan mendapat pertanyaan-pertanyaan mengenai semua perbuatan dan perkataan mereka selama di dunia. Pertanyaan tersebut, “Kenapa kalian tidak tolong-menolong?” [Q.S. Ash-Shaffat: 25] Sewaktu di dunia mereka saling menolong satu sama lain. Tetapi setelah malaikat menggiring mereka ke neraka, mereka tidak menolong sesamanya.
Mereka pun tidak bisa menjawab karena penuh dengan kehinaan. Kemudian mereka saling mencela, membantah, dan menyalahkan. Mereka yang menjadi pengikut pembesarnya (berhala) berkata, “Sesungguhnya kalianlah yang datang kepada kami dari kanan.” [Q.S. Ash-Shaffat: 28] Mereka menyalahkan Tuhan yang mereka sembah selama di dunia. Maksudnya, seharusnya berhala-berhala yang telah mereka sembah membawanya kepada kebenaran. Nyatanya mereka telah tersesat hingga masuk ke dalam neraka.
Sedangkan pemimpin atau Tuhan selain Allah yang mereka sembah menyalahkan pengikutnya, “Sebenarnya kalianlah yang tidak beriman.” Tuhan palsu itu juga berkata bahwa seandainya manusia-manusia tersebut beriman, mereka tidak akan mengikutinya. Padahal, sesembahan mereka tidak memaksa mereka untuk mengabdi kepadanya.
Dengan itu, Allah memutuskan azab kepada mereka semua, sebagaimana dalam surah As-Sajdah ayat 13, “Sesungguhnya Aku akan penuhi neraka Jahanam dengan jin dan manusia bersama-sama.” Atas keputusan Allah tersebut, berhala-berhala itu pun mengatakan bahwa mereka telah menyesatkan para pengikutnya dan mengakui dirinya adalah orang yang sesat.
Kesamaan Manusia dan Jin
Dari penjelasan tersebut, seolah-olah manusia dan jin memiliki derajat yang sama. Tentunya, keduanya sama-sama mukalaf yang menyembah kepada Allah, meski tidak semua. Sebagaimana firman Allah,
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” [Q.S. Az-Zariyat: 56]
Di sisi lain, ungkapan dalam surah As-Sajdah ayat 13 tersebut merupakan penekanan bagi orang-orang yang mendapatkan ajaran dari Nabi Muhammad. Layaknya anak kecil, seseorang mengajarkan sesuatu dengan penekanan supaya ajaran tersebut mudah masuk ke hati anak itu.
Setelah itu, Allah pun berfirman, “(Maka sesungguhnya mereka pada hari itu) pada hari kiamat (bersama-sama dalam azab) karena mereka bersekutu dalam kesesatan.” [Q.S. Ash-Shaffat: 33] Azab itu merupakan pembalasan dari Allah kepada orang-orang seperti mereka. Padahal sewaktu di dunia, Nabi Muhammad saw., dan nabi-nabi lainnya telah mengajarkan kalimat Tauhid “Laa Ilaaha Illallaah” kepada mereka. Namun, mereka menyombongkan diri dan tidak mengikutinya.
Mereka berkata dengan sombong, “Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan sesembahan-sesembahan kami karena seorang penyair gila?” Penyair gila yang mereka maksud adalah Nabi Muhammad. Padahal ajaran kalimat Tauhid adalah yang benar. Allah berfirman, “Sebenarnya dia Muhammad telah datang membawa kebenaran dan membenarkan rasul-rasul.” [Q.S. Ash-Shaaffat: 37] Maka dari itu, mereka akan merasakan azab yang pedih Allah sebab perbuatan mereka sendiri.
Definisi “Penyair Gila”
Adanya sebutan “penyair gila” karena pada zaman Jahiliyyah, syair itu termasuk hal yang buruk. Alasannya sebab syair atau syiiran seperti itu menimbulkan kata-kata yang aneh. Dalam syair, penyair harus menyamakan jumlah suku kata dengan nada yang ada. Akhirnya, ketika ada kalimat yang kekurangan kata, penyair menambahkan kata lian yang cocok. Begitu juga ketika terlalu banyak kata, penyair menguranginya. Oleh karena itu, orang zaman Jahiliyyah menganggap syair sebagai hal yang aneh karena dua alasan tersebut.
Anggapan mereka juga membuat Nabi Muhammad mendapatkan julukan “penyair gila” tersebut. Untuk menyampaikan ajaran agama Islam, Nabi Muhammad mendapatkan wahyu berupa Al-Quran yang susunan kalimatnya seperti syair. Bedanya, “syair” yang Beliau sampaikan merupakan wahyu dari Allah, sedangkan yang orang Jahiliyyah anggap aneh adalah syair buatan manusia.
Selain itu, syair juga dapat menghipnotis pendengarnya. Syair yang memiliki lantunan indah serta isi yang bermakna sehingga dapat membuat pendengar mengikuti apa yang penyair sampaikan. Begitu juga pandangan orang-orang kafir kepada Nabi Muhammad.
Meskipun begitu, syair yang orang Jahiliyyah anggap buruk ialah syair tanpa adanya aturan. Syair seperti ini pastinya membuat pendengar membencinya. Namun setelah zaman Nabi Muhammad, kaidah syair muncul. Banyak para penyair yang membuat syair dengan indah seperti nazam dan kasidah. Selain itu, adanya syair yang teratur dapat membuat pendengar mudah menghafalnya.
(Riki Mahendra Nur C./Mediatech An-Nur II)