annur2.net – Pondok Pesantren Wisata An-Nur II “Al-Murtadlo” mengajak para santri alumni dan wali santri mengamalkan pembacaan Dalailul Khairat. Kegiatan ini berlangsung di kediaman Kiai Syamsul Arifin, M.Pd., pengasuh Pondok Pesantren Tahfiz Putri An-Nur II.
Selasa malam, 10 Februari 2026, area Raudah Almaghfurlah KH. Muhammad Badruddin Anwar, An-Nur II menggelar penutupan sementara Majelis Pembacaan Dalailul Khairat sebelum memasuki bulan Ramadhan.
Dalailul Khairat sendiri berisi bacaan-bacaan selawat kepada Nabi Muhammad saw. Banyak fadilah dan keuntungan membaca selawat, apalagi selawat Dalailul Khairat.
Mengutip keterangan KH. Harun Ismail pada mauizahnya, ada dua cara pengamalan membaca selawat Dalailul Khairat. Mulai yang mudah hingga sedikit rumit.
Pertama, cara yang diambil dari Lirboyo. Membaca Dalailul Khairat setiap hari. Isi dari kitab Dalailul Khairat mengandung bacaan hizib harian. Kemudian jika menganut Lirboyo untuk permulaan pengamalannya tidak perlu berpuasa. Melainkan cukup dengan membaca surah Yasin, Al-Waqiah, dan Al-Mulk. Selain permulaan yang mudah, Lirboyo juga mengamalkan pembacaan hizib hari senin yang kedua terlebih dahulu.
Selanjutnya langsung membaca hizib yang pertama tanpa pembacaan Asmaulhusna (nama-nama baik Allah) dan Asmaunnabi (nama-nama Nabi Muhammad). Tata cara ini agar orang yang baru mengamalkannya dapat istikamah dan tidak merasa keberatan di permulaan.
Kayfiyat kedua, membaca Dalailul Khairat hingga khatam dalam lima hari. Setiap harinya mengkhatamkan Dalailul Khairat beserta hizibnya. Ini yang sering Kiai Harun lakukan.
Bagi beliau membaca Dalailul Khairat penuh dalam satu kali membutuhkan waktu sekitar dua setengah jam. Sebab Kiai Harun masih ada kesibukan dan amalan lainnya, sehingga di hari keenam sudah berbeda lagi.
Sisi Praktis Pengamalan Dalailul Khairat dan Kehebatan Salat Witir
Pembacaan Dalailul Khairat bisa di-ta’jil (percepat sebelum waktunya). Semisal bacaan yang seharusnya untuk esok hari tapi dibaca pada hari itu juga. Seperti halnya Abu Bakar ra., yang melaksanakan salat Witir sebelum tidur bukan pada saat bangun malam.
KH. Harun juga mengungkapkan betapa hebatnya ibadah salat Witir. satu rakaat salat Witir itu lebih baik daripada dua rakaat salat sunah fajar dan lebih baik daripada salat Tahajud dengan beberapa rakaat. “Ojok sok ninggalaken Witir (Jangan sampai meninggalkan salat Witir).” Nasihat beliau.
Imbalan Allah Bagi Pembaca Shalawat
Hakikat Imbalan yang Allah berikan kepada hamba yang berselawat adalah 10 kali lipat dari satu selawatnya kepada Nabi Muhammad saw. Sedangkan di dalam Dalailul Khairat banyak sekali hingga bisa dikatakan lengkap dengan semua macam selawat.
Adapun satu selawat yang apabila dibaca tiga kali itu sama halnya mengkhatamkan satu Dalailul Khairat yaitu selawat Ulul Azmi:
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآدَمَ وَنُوْحٍ وَإِبْرَاهِيْمَ وَمُوْسَى وَعِيْسَى وَمَا بَيْنَهُمْ مِنَ النَّبِيِّيْنَ وَالْمُرْسَلِيْنَ صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلاَمُهُ عَلَيْهِمْ أَجْمَعِيْنَ
Nabi Muhammad saw., bersabda mengenai balasan bagi yang bershalawat kepadanya:
مَن صلى عَلَيَّ واحدةً ، صلى اللهُ عليه بها عَشْرًا
Artinya: “Barang siapa bershalawat kepadaku satu kali, maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali.” (HR. Muslim)
Selain fadilah balasan 10 kali lipat, amalan membaca selawat dapat menutupi atau menamball kekurangan ibadah sunah: salat, puasa, dan sedekah sunah. Sebab dalam amalan membaca selawat terdapat dua zikir. Zikir kepada Allah Swt., dan zikir kepada Nabi Muhammad saw.
Penutupan sementara majelis pembacaan Dalailul Khairat ini menjadi pengingat bahwa amalan selawat tidak berhenti pada sebuah kegiatan bersama, tetapi tetap dapat dilanjutkan secara pribadi dengan penuh keistikamahan. Melalui selawat, seorang hamba tidak hanya menumbuhkan cinta kepada Nabi Muhammad saw., tetapi juga berharap balasan dan rahmat Allah Swt. yang berlipat ganda.
(Abu Raihan Efendi/Mediatech An-Nur II)
