Pentingnya Mencari Ilmu

PASAR WAQI’AH

Dalam kehidupan sehari-hari kita melakukan aktivitas selalu didasari dengan ilmu. Entah itu ilmu sosial, ekonomi maupun ilmu agama.

Menuntut ilmu sendiri hukumnya Fardlu ‘ain bagi setiap umat Islam, baik laki-laki maupun perempuan. Seperti yang disabdakan Nabi Muhammad Saw.:

…طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ وَ مُسْلِمَةٍ

“Mencari ilmu itu fardlu bagi setiap muslim dan muslimah…” (H.R. Ibnu Majah).

Ibnu katsir

Diriwayatkan, Katsir bin Qais pernah duduk bersama Abu Darda’ di masjid Damaskus. Lalu datang seorang pria yang lantas berkata, “Wahai Abu Ad Darda’, aku sungguh datang dari kota Rasul (Madinah Nabawiyah) karena ada suatu hadis yang telah sampai padaku, dimana engkau yang meriwayatkannya dari Rasulullah Saw. Aku datang untuk maksud mendapatkan hadis tersebut. Abu Darda’ lantas berkata, sesungguhnya aku pernah mendengar Nabi SAW  bersabda:

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَطْلُبُ فِيهِ عِلْمًا سَلَكَ اللَّهُ بِهِ طَرِيقًا مِنْ طُرُقِ الْجَنَّةِ وَإِنَّ الْمَلاَئِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِى السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِى الأَرْضِ وَالْحِيتَانُ فِى جَوْفِ الْمَاءِ وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلاَ دِرْهَمًا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

“Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya di antara jalan menuju surga. Sesungguhnya malaikat meletakkan sayapnya sebagai tanda ridho pada penuntut ilmu. Dan sesungguhnya orang yang mencari ilmu selalu dinaungi oleh semua mahluk yang ada di dunia ini tak terkecuali burung yang terbang ataupun ikan yang berada di air seperti hadis yang berbunyi.” (H.R. Abu Daud).

Begitulah semangat orang dahulu, menuntut ilmu dengan dilandasi keinginan yang kuat. Ia berangkat jauh-jauh dari Damaskus ke Madinah hanya untuk mendapatkan satu hadis. Padahal  perjalanan antara Damaskus ke Madinah sejauh  2.666 KM dan, pada zaman itu, ditempuh sekitar 536 Jam atau sekitar 23 hari.

Sekilas Kota Damaskus

Damaskus atau Dimasyq, merupakan ibu kota Suriah modern, Damaskus dulunya tunduk di bawah kekuasaan Romawi yang kemudian dibebaskan pada masa khalifah Umar Bin Khattab. Umar Mengirim 30.000 pasukan yang dipimpin oleh sahabat Kholid Bin Walid.

Kota Damaskus sangat berjasa dalam perkembangan keilmuan islam modern. Terdapat banyak ulama yang berperan di dalamnya. Salah satunya Imam Ibn Al-Jazari, ulama yang memperkasai ilmu Tajwid sekaligus pendiri Madrasah Dar Al-Quran. Karyanya “Matan Al-Jazzariyah” menjadi induk dari ilmu Tajwid sampai saat ini.

Yang kedua, Imam Al-Hafizh Al-Dzahabi. Nama aslinya adalah Syams Al-Din Abu Abdillah Muhammad bin Utsman. Ia adalah seorang sejarawan muslim yang menggabungkan ilmu Astronomi dan Ilmu hakikat dalam kitabnya yang berjudul “Siyar A’lam An-Nubala”. Dalam kitabnya itu ia menjelaskan proses pembentukan alam semesta juga menolak teori Nebula yang dikemukakan oleh ilmuwan barat.

Perumpamaan Tholibul ilmi

kembali ke pembahasan, Rasulullah Saw. mengumpamakan pencari ilmu itu bagaikan hujan yang bermanfaat. Seperti halnya dalam hadis yang diriwayatkan Abu Musa:

مَثَلُ مَا بَعَثَنِى اللَّهُ بِهِ مِنَ الْهُدَى وَالْعِلْمِ كَمَثَلِ الْغَيْثِ الْكَثِيرِ أَصَابَ أَرْضًا ،

“Permisalan petunjuk dan ilmu yang Allah mengutusku dengannya adalah bagai ghaits (hujan yang bermanfaat) yang mengenai tanah.”

Beliau melanjutkan,

فَكَانَ مِنْهَا نَقِيَّةٌ قَبِلَتِ الْمَاءَ ، فَأَنْبَتَتِ الْكَلأَ وَالْعُشْبَ الْكَثِيرَ وَكَانَتْ مِنْهَا أَجَادِبُ أَمْسَكَتِ الْمَاءَ ، فَنَفَعَ اللَّهُ بِهَا النَّاسَ ، فَشَرِبُوا وَسَقَوْا وَزَرَعُوا

“Maka ada tanah yang baik, yang bisa menyerap air sehingga menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan rerumputan yang banyak. Di antaranya juga ada tanah yang ajadib (tanah yang bisa menampung air, namun tidak bisa menyerap ke dalamnya), maka dengan genangan air tersebut Allah memberi manfaat untuk banyak orang, sehingga manusia dapat mengambil air minum dari tanah ini. Lalu manusia dapat memberi minum untuk hewan ternaknya, dan manusia dapat mengairi tanah pertaniannya.”

Lebih lanjut, Nabi Muhammad menjelaskan pembagian yang ketiga:

وَأَصَابَتْ مِنْهَا طَائِفَةً أُخْرَى ، إِنَّمَا هِىَ قِيعَانٌ لاَ تُمْسِكُ مَاءً ، وَلاَ تُنْبِتُ كَلأً ، فَذَلِكَ مَثَلُ مَنْ فَقِهَ فِى دِينِ اللَّهِ وَنَفَعَهُ مَا بَعَثَنِى اللَّهُ بِهِ ، فَعَلِمَ وَعَلَّمَ ، وَمَثَلُ مَنْ لَمْ يَرْفَعْ بِذَلِكَ رَأْسًا ، وَلَمْ يَقْبَلْ هُدَى اللَّهِ الَّذِى أُرْسِلْتُ بِهِ

“Jenis tanah ketiga adalah  tanah qi’an (tanah yang tidak bisa menampung dan tidak bisa menyerap air). Inilah permisalan orang yang memahami agama Allah, bermanfaat baginya ajaran yang Allah mengutusku untuk membawanya.” (H.R. Bukhori dan Muslim)

Mencari ilmu tak terbatas oleh usia. Tua pun masih dikenai kewajiban mencari ilmu. Sebab ilmu lah orang akan menjadi mulai seperti ulama Damaskus di atas. Maka, sejatinya ilmu tidak untuk ditunggu, tapi untuk dicari. Wallahu a’lam.

Lebih lengkapnya silahkan ikut pengajian Pasar Waqiah Ramadhan yang digelar ba’da isya di masjid An-Nur II. Dan setiap harinya akan diisi dengan materi berbeda-beda.

*disarikan dari kajian ilmiah Pasar Waqiah Ramadhan oleh Dr. KH. Fathul Bari, S.S., M.Ag.

(Arif/Lingkar Pesantren)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: