Penopang Kebahagiaan

bahagia, Penopang Kebahagiaan, Pondok Pesantren Wisata An-Nur II Al Murtadlo

Penopang Kebahagiaan

Hidup bahagia adalah impian lumrah bagi manusia. Sebenarnya bahagia itu sendiri memiliki faktor-faktor yang harus dipenuhi. Maka yang paling utama adalah mencari faktor itu dulu, barulah kebahagiaan akan datang. Baginda Rasul bersabda setidaknya ada empat penopang kebahagiaan. Lalu apa sajakah faktor itu?

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban, Rasulullah SAW bersabda,

أَرْبَعٌ مِنَ السَّعَادَةِ: اَلْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ، وَالْمَسْكَنُ الْوَاسِعُ، وَالْجَارُ الصَّالِحُ، وَالْمَرْكَبُ الْهَنِيُّ

“Ada empat perkara termasuk kebahagiaan; istri yang salihah, tempat tinggal yang lapang, teman atau tetangga yang baik dan kendaraan yang nyaman.” (H.R. Ibnu Hibban).

Hadis ini menurut ulama hadis sudah bernilai sahih, sehingga tidak perlu diragukan lagi. Jadi jika ingin bahagia maka harus mendapatkan empat faktor ini.

Istri Salihah

Istri adalah teman yang setia. Ia terus mendampingi dalam rentang waktu lama. Istri juga menjadi hiasan bagi suaminya. Sehingga istri buruk, baik perilaku maupun tampang, akan membuat si suami malu. Sedangkan istri baik akhlak dan wajahnya, akan benar-benar menjadi hiasan bagi suaminya. Rasulullah bersabda:

الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ . رواه مسلم

“Dunia adalah perhiasan, dan sebaik- baik perhiasan adalah wanita salihah.” (H.R. Muslim).

Akan tetapi wanita seperti apakah yang paling baik? Yakni, ketika melihatnya, membuat terkagum. Ketika bepergian, maka ia akan menjaga dirinya sendiri. Wanita seperti itu pasti bakal membuat suami selalu bahagia. Bagaimana tidak, istri yang selalu membuat hati nyaman pasti bikin bahagia.

Di samping istri menjadi perhiasan bagi suami. Istri juga bisa menjadi musuh. Begitu juga anak. Yang keduanya disebut sebagai ‘musuh dalam selimut’. Maksud dari “musuh” di sini ialah suka mengajak ke dalam maksiat bukan malah beribadah. Keluarga begini harus siap dengan panasnya api neraka nanti di akhirat. Sebab itu, istri salihah harus diprioritaskan.

Apabila istri salihah menjadi faktor kebahagiaan suami, berarti suami yang saleh juga menjadi faktor kebahagiaan istri. Jika si istri kok selalu membuat resah, harap untuk bercermin apakah si suami juga telah sukses membahagiakan istri?

Rumah Lapang

Rumah lapang itu rumah yang bagaimana? Untuk pertanyaan satu ini, kita berkiblat pada rumah baginda Rasul. Rumah Rasulullah sangatlah sederhana, bahkan atapnya dari pelepah kurma. Bisa dibayangkan bagaimana sikap Rasul yang sangat neriman hatinya dengan sabar mensyukuri segala nikmat pemberian Allah.

Rumah Rasul sangatlah kecil bila dibandingkan rumah-rumah orang kini. Berasal dari ucapan salah satu sahabat Nabi, Daud Bin Qais, yakni  “Saya melihat kamar Rasulullah SAW, atapnya terbuat dari pelepah kurma yang terbalut dengan serabut. Saya perkirakan lebar rumah ini, kira kira tiga meter. Saya mengukur luas rumah dari dalam 10 hasta, dan saya kira tingginya 2,5 meter. Saya berdiri di pintu Aisyah dan kudapati kamar ini menghadap Maghribi (Maroko).”

Jika berkiblat rumah Nabi, apakah rumah rata-rata orang Indonesia sudah termasuk lapang? Sudah, tentunya. Namun hatilah yang menentukan luas dan sempitnya sebuah rumah. Nabi memilki hati yang lapang sehingga rumahnya sudah beliau anggap luas. Namun bagaimana dengan hati orang-orang serakah? Bahkan jika memiliki rumah ratusan hektar, pasti hanya dianggap gubuk tengah sawah bagi mereka. Maka penentu rumah lapang bukan dari meter, tapi dari hati.

Apabila hati sudah senang, بيتي جنِّتي (rumahku surgaku) adalah ungkapan yang keluar ketika melihat-lihat sekeliling rumah. Kalau rumah roboh harus gimana? Tetap bersyukur adalah jawabannya. Bersyukur bahwa pernah memiliki rumah daripada tidak pernah punya. Jadi penopang kebahagiaan sesungguhnya adalah hati.

Tetangga baik

الجار قبل الدار (ingin bangun rumah harus kenal dulu). Kenapa? Karena jika sudah bangun rumah dan ternyata berada di kawasan banyak maling, susah. Maka berpikir dulu kalau ingin membangun rumah. Jika mendapat tetangga baik hati mesti bahagia. Sebab tetangga baik, berarti juga dermawan. Kalau sudah dermawan, bisa dibayangkan berapa banyak rizeki mendatangi rumah, dari tetangga.

Sedangkan jika mendapat tetangga yang buruk, setiap hari bakal dapat masalah. Sebab setiap kesalahan akan menjadikan bahan gosipan. Mata memang selalu memandang apa yang kita perbuat, tapi mulut selalu membicarakan keburukan saja dengan mengabaikan kebaikan tersembunyi. Maka dari itu, Nabi Daud AS berdoa kepada Allah dari tetangga yang buruk. Doanya yakni,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ مَالٍ يَكُونُ عَلَيَّ فِتْنَةً ، وَمِنْ وَلَدٍ يَكُونُ عَلَيَّ وَبَالا ، وَمِنِ امْرَأَةِ السَّوْءِ ، تُقَرِّبُ الشَّيْبَ قَبْلَ الْمَشِيبُ ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ جَارِ سَوْءٍ ، تَرْعَانِي عَيْنَاهُ ، وَتَسْمَعُنِي أُذُنَاهُ ، إِنْ رَأَى حَسَنَةً دَفَنَهَا ، وَإِنْ رَأَى سَيِّئَةً أَذَاعَهَا

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari harta yang menjadi fitnah, dari anak yang menjadi bencana, dari istri buruk yang mendekatkan uban sebelum datangnya waktu beruban. Dan aku berlindung kepada-Mu dari tetangga buruk yang matanya mengawasiku dan kedua telinganya mendengarku, yang jika melihat kebaikan ia sembunyikan dan jika melihat keburukan ia sebarkan.”

Istri sudah salihah, rumah sudah lapang tapi tetangga buruk. Hidup bahagia akan menjadi mimpi. Namun jika tetangga juga sudah baik, hidup bakalan senang.

Kendaraan yang nyaman

Kendaraan yang nyaman, yaitu kendaraan yang tidak mogokan, yang tidak liar dan aman. Maksudnya kendaraan itu kalau mengarahkan ke kanan beloknya ke kanan, mengarahkan ke kiri beloknya ke kiri. Sehingga jika ingin bepergian kemanapun terasa nyaman, tentram dan selamat.

Seseorang yang mendapat ke empat hal tadi akan selalu bahagia. Selalu bahagia baik di dunia maupun di akhirat. Akan tetapi sangatlah celaka orang yang mendapat kebalikan empat itu. Istri buruk, rumah sempit, tetangga jahat dan kendaraan yang jelek. Kehidupannya pasti sangat bermasalah. Jika imannya tidak kuat, maka di akhirat akan masuk neraka. Maka, hati-hati dalam memilih agar terus selamat hingga memperoleh kebahagiaan.   

*disarikan dari kajian ilmiah Pasar Waqiah Ramadan oleh Dr. KH. Fathul Bari S.S., M.Ag. (17/04/2021)

(Ahmad Firman Ghani Maulana/Lingkar Pesantren)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: