Kajian Tafsir: Penghibur Nabi ketika Amul Huzni

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Mahasuci Allah, yang memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa yang telah kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Q.S. Al-Isra:1)

***

Surat Al-Isra, tergolong surat Makiyyah (diturunkan di kota Makkah) kecuali delapan ayat. Sesuai dengan namanya, surat ini mengisahkan perjalanan isra Nabi Muhammad saw., sebuah perjalanan malam dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa yang penuh dengan keajaiban. Peristiwa itu terjadi di tahun yang bernama Amul Huzni, tahun penuh duka bagi Nabi karena wafatnya Khadijah dan Abu Thalib.

Mengapa Allah Memulai dengan Lafazسُبْحَانَ?

Pembukaan surat Al-Isra menggunakan lafaz سُبْحَانَ Karena setiap orang Arab ketika mengetahui sesuatu yang ajaib maupun luar biasa, secara spontan mengucapkan lafaz tersebut. Maka kejadian isra Nabi merupakan suatu hal yang istimewa. Bayangkan, Nabi menempuh  jarak sejauh 1.200 kilometer dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa dalam satu malam dan pada zaman itu belum ada transportasi yang sekencang saat ini.

Pada Al-Qur’an Allah menjelaskan bahwa perjalanan isra Nabi Muhammad sangatlah sebentar dengan lafaz لَيْلًا, dalam ilmu nahwu lafaz tersebut memiliki makna sebentar karena berupa nakirah. Ada ulama’ yang menafsiri seberapa cepatnya perjalanan isra Nabi yaitu sebelum tempat tidur Nabi Muhammad dingin.

 Orang Pertama yang Memercayai Isra

Ketika kabar isra Nabi Muhammad meluas banyak orang yang tidak memercayainya. Namun berbeda dengan Abu Bakar. Ketika ada orang yang bertanya kepadanya, “Apakah kamu percaya dengan isra Nabi?” Kemudian Abu Bakar balik bertanya. “Kamu mendapat kabar tersebut dari mana?” Kemudian Abu Bakar menambahkan, “Jika kabar tersebut dari Nabi Muhammad maka Aku memercayainya, meski tidak masuk akal.”

Abu Bakar beriman tidak menggunakan akal, melainkan dengan hati. Jika seseorang beriman menggunakan akal dia akan selalu ragu. Sebab kejadian tersebut Abu Bakar mendapat gelar Ash-Shiddiq.

Peristiwa isra mengingatkan kita bahwa Allah Maha Penyayang dan Maha Pengasih terhadap hamba-hambanya. Di tengah kesedihan, Allah memberikan hiburan dan kemuliaan kepada Nabi Muhammad saw. Peristiwa tersebut juga mengajarkan kepada kita bahwa iman tidak berdasarkan logika, melainkan keyakinan yang tulus.

(ABU RAIHAN EFENDI/MEDIATECH ANNUR II)

Home
PSB
Search
Galeri
KONTAK