Ahad Legi siang itu( 06/03/22). Mengenakan jubah putih bersih dan imamah hijau, Prof. Dr. Syekh Muhammad Fadhil Al-Jailani Al-Hasani, cucu ke-25 Syekh Abdul Qadir Al-Jailani berjalan santun menuju tempat yang telah disediakan di panggung acara—mengisi inti acara.
Dihantar oleh masyayikh Pondok Pesantren An-Nur II “Al-Murtadlo” (Pesantren Wisata) dan masyayikh lainnya: Dr. H. A. Fahrur Rozi (pengasuh An-Nur 1), Habib Abdurrahman Baraqbah, DLL, seketika kedatangan Syekh Fadhil tersebut mampu menarik atensi dari seluruh sorot mata yang ada.
Menapaki awal kedatangan beliau. Mulai dari santri, wali santri sampai jemaah yang sukarela hadir demi mengikuti kegiatan rutinan Ahad Legi, semuanya serentak membaca selawat, menyambut kedatangan dari salah satu keturunan Rasulullah hari itu.
Salam dan Sapa Syekh Fadhil kepada Jemaah dan Santri An-Nur II
Selepas Syekh Fadhil menempati kursi yang telah disediakan dan diikuti oleh masyayikh yang duduk di belakangnya, acara inti yang dinanti seluruh jemaah tersebut pun dimulai. Beberapa jemaah memajukan posisi duduk dari tempat awalnya—lebih dekat ke arah panggung acara, tempat cucu ke-25 Syekh Abdul Qadir berada.
Ditemani oleh Kiai Fahrur selaku penerjemah bahasa di sebelahnya, beliau, Syekh Fadhil seketika mengucapkan selawat dan salam kepada para jemaah, sekaligus sebagai tanda dimulainya dari rentetan materi tausiah yang akan beliau sampaikan.
Mengawali pembicaraannya, kata beliau, kali inilah pertamanya ia berkunjung ke Indonesia kembali setelah dua tahun terakhirnya sebelum pandemi Corona. Menariknya, pada awal tausiahnya itu, beliau mengaku, Indonesia adalah destinasi negara yang paling dicintainya.
Tak hanya itu, hari ini beliau juga mengaku merasa senang karenakitabnya, Tafsir al-Jailani yang kini tengah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, telah sampai pada tahap percetekan di Markaz Al-Jilani, Jakarta selatan.
“Apa kabar?” tanya Syekh Fadhil menyapa jemaah. Mendengar Syekh asal Turki itu menyapa dengan bahasa Indonesia, sekelebat para jemaah langsung meresponnya dengan tanggap dan sesekali diselingi tawa kagum karena tak menyangka Syekh asal Turki itu berbicara bahasa kesatuan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia).
Mengulik Sedikit Riwayat dari Sosok Tiga Wanita Hebat Islam
“Kali ini, beliau akan membawakan materi tentang wanita salihah,” ucap Kiai Fahrur menerjemahkan ucapan Syekh Fadhil. Pada pembawaan kajiannya tersebut, pertama-tama, Syekh Fadhil menceritakan sedkit kisah dari salah satu wanita yang berpengaruh dalam Islam, Fatimah Az-Zahra, puteri Nabi Muhammad SAW.
Menurut beliau, mengapa Ali bin Abi Thalib dapat menerima julukan “pintu dari segala keilmuan” yang merujuk pada julukan “gudang keilmuan” yang dikhususkan kepada Rasulullah? Bagi beliau, asal mula julukan istimewa tersebut tak lepas dari peran penting sang Perantara utama dari Ali bin Abi Thalib dan N. Muhammad SAW: Fatimah Az-Zahra.
Belum habis mengulas detail kemuliaan sosok agung Fatimah Az-Zahra, Syekh Fadhil terbesit dengan seorang wanita paling penting dalam riwayat hidup Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, Ummul Khoir Fatimah (Sayyidatun Nisa’), ibu Syekh Abdul Qadir.
Tutur beliau, sejak kecil, banyak hal yang dilihat oleh ibu Syekh Abdul Qadir sebagai tanda kemuliaan yang dimilik putranya itu.
Memiliki beragam kemuliaan dan kelebihan sejak kecil, ternyata peran keseharian seorang Ibu dalam kehidupan Syekh Abdul Qadir memiliki posisi yang sangat penting. Kata Syekh Fadhil, ibu Syekh Abdul Qadir selalu menyusui anaknya dengan kondisi memiliki wudu sebagai salah satu faktor utama.
Sebelum menapaki akhir tausiah, pemberian ijazah dan doa, Syekh dari Turki tersebut sempat menanyakan sebuah pertanyaan kepada para jemaah dan para santri. “Siapa tokoh wanita yang menjadi guru dari dua Imam besar umat Islam?”
Menanggapi pertanyaan tersebut, salah seorang santriwati An-Nur II, Afifah segera menjawabnya dengan tepat “Sayidah Nafisah…!” Mendengar jawaban tersebut, Syekh Fadhil segera memangil santri putri itu ke panggung acara, lengkap dengan menanyakan kembali tentang dua Imam yang dimaksud dalam pertanyaan Syekh Fadhil.
Dengan tanggap, Afifah, santri putri An-Nur II itupun dapat menanggapi pertanyaan itu dengan jawaban yang singkat: Imam Syafii dan Imam Ahmad.
“Kesini-kesini,” panggil Syekh Fadhil memekai bahasa Indonesia kepada Afifah yang menyuruhnya ke depan selepas dijawabnya pertanyaan itu, lalu menerima kitab pemberian Syekh Fadhil lengkap dengan tanda tangan beliau. Seluruh jemaah seketika memberikan tepuk tangan yang meriah.
Setelah memberikan hadiah, beliau meneruskan tausiahnyanya tentang sosok Sayidah Nafisah dan sedikit menceritakannya. Bagi beliau, Sayidah nafisah adalah seorang sosok tokoh perempuan yang sangat hebat pada zamannya—selaras dengan persaksian dua imam besar umat muslim pun mengagungkannya pada zamannya: Imam Syafii dan Ahmad.
Terakhir, sebagai pemungkas tausiah, Syekh Fadhil menutupnya dengan pemberian ijazah selawat dan ditutup dengan doa.
Serempak mengangkat tangan, masyayikh dan para jemaah yang hadir pada saat itu kompak mengamini setiap kalimat dari doa beliau dengan khidmat pada saat yang bersamaan dengan dasar satu tujuan: mengarap rida Sang Mahakuasa lewat perantara doa dari kekasih Allah SWT.
(Arif Rahman/Mediatech An-Nur II)