annur2.net – “Ahad Legi kali ini, akan menyampaikan ceramah dan untaian hikmah adalah Al-Ustaz Sholmed, dan beliau sudah hadir di tengah-tengah kita.” Tutur Dr. KH. Fathul Bari, S.S., M.Ag., dalam sambutan Pengajian Ahad Legi, 13 Juli 2025. Ini merupakan kali kedua Ustaz Sholeh Mahmoed Nasution atau Ustaz Sholmed menyampaikan tausiyah di Pondok Pesantren Wisata An-Nur II “Al-Murtadlo”
Kedatangan Ustaz Sholmed sekaligus mengantarkan dua putranya mondok di An-Nur II. Oleh karena itu, Kiai Fathul Bari selaku pengasuh Pondok Pesantren An-Nur II mengungkapkan, “Dan ini juga mohon doanya. Mudah-mudahan dua putra yang dipondokkan di An-Nur II diberi kerasan oleh Allah Swt. Termasuk ibunya kerasan, ayahnya juga kerasan berjauhan dengan anaknya.”
Ustaz Sholmed Berkata, Memondokkan Anak adalah Keputusan Sulit
Ustaz Sholmed mengungkapkan bahwa memondokkan anak adalah keputusan yang sulit. Namun keputusan harus orangtua dan anak terima. “Mudah-mudahan keputusan yang diambil bapak ibu semua dengan memondokkan anaknya di Pondok Pesantren An-Nur II “Al-Murtadlo” Malang ini, semoga menjadi keputusan yang berkah dan dimuliakan oleh Allah Swt.” Tutur Ustaz Sholmed kepada para hadirin.
Santri di pondok pesantren bagaikan perjalanan para nabi, rasul dan para wali. Keputusan ini sulit tapi mereka harus menempuhnya. “Segetir apapun, sesulit apapun, sepahit apapun, perjalanan itu haus ditempuh dengan rasa syukur, dengan rasa sabar.” Pesan beliau untuk para santri.
Selain itu, keputusan para orangtua memondokkan anaknya tidak lepas dari kehendak Allah. Oleh karena, mereka mencari dan mengambil keputusan-keputusan yang terbaik dari harapan orangtua. “Tinggal bagaimana cara kita mengambil, mencari, dan menjemput keputusan-keputusan dari apa yang kita minta dan harapkan kepada Allah Swt.” Ungkap Ustaz Sholmed.
Kiat-Kiat Ayah Imam Ghozali Berikhtiar untuk Anaknya
Bersambung dengan itu, ada kisah dari ayah Imam Abu Hamid bin Muhammad bin Muhammad Al-Ghozali. Ayah Imam Ghozali adalah orang biasa, bukan seorang ulama. Tapi beliau memiliki cara untuk mendidik Imam Ghozali hingga menjadi ulama yang sangat hebat.
Pertama, ayah Imam Ghozali berikhtiar memberikan makanan terbaik untuk anaknya. “Makanan yang terbaik itu halalan thoyyiban. Walau cuma tempe, kalau didapat dari halal, dan thoyyiban memang, maka tempe itu bisa menghasilkan anak-anak keju.” Ungkap Ustaz Sholmed. Maksudnya, meskipun anak makan tempe asalkan halal dan tayib, ia bisa sukses karena jalannya yang tepat.
Ustaz Sholmed mengatakan, tidak perlu cemas jika anak tidak bisa menjadi orang sukses dan berderajat tinggi hanya karena makan makanan ringan. Padahal penekanan pada makanan adalah halalan thoyyiban. Bahkan sebagaimana sebelumnya, ayah Imam Ghozali melakukan hal ini.
Allah juga telah memberikan perintah di dalam surah Al-Baqarah ayat 168,
يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا
“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi.” (QS. Al-Baqarah: 168)
Ada seorang profesor dari Jepang bernama Tokeji Furukawa. Ia meneliti dan menemukan bahwa aliran darah dari makanan dan makanan di dalam tubuh manusia dapat memengaruhi sifat. “Jauh sebelum Tokeji ini ngomong, Nabi sudah ngomong.” Ungkap Ustaz Sholmed. Nabi sudah menyampaikan sejak 1400 tahun lalu.
Ustaz Sholmed mengungkapkan bahwa makanan dan minuman mampu memengaruhi psokologi, sifat, dan sikap. Tiga hal itu memengaruhi pergaulan. Terakhir, pergaulan mampu memengaruhi keadaan dan kesuksesan. Selain itu,
Pengaruh Makanan dan Minuman Terhadap Tubuh, Pahala, dan Dosa
Kedua, pengaruh makanan terhadap pahala dan dosa. “Bahkan urusan makan itu bisa mempengaruhi pahala dan dosa.” Tutur Ustaz Sholmed. Beliau bercerita tentang seseorang yang mengadu kepada Nabi Muhammad saw., karena memiliki banyak dosa.
Namun, ketika bertanya apa dosanya, orang itu tidak mau menjawab. Nabi pun berkata, “Bagaimana engkau tidak mau memberi jawaban dan merasa malu tapi ketika kau melakukan, kau tidak takut kepada Allah yang melihat dirimu saat berbuat dosa.” Setelah itu, orang itu pun pergi tanpa mengatakan dosanya.
Tak lama, Malaikat Jibril menghampiri Nabi. Malaikat Jibril menyampaikan bahwa Allah telah mengampuni dosa orang tersebut. Sebabnya orang tersebut selalu membawakan makanan setiap pulang bekerja. Hal itu membuat anaknya senang.
“Kegembiraan anaknya itu membuat Allah menghapuskan dosa-dosanya.” Terang Ustaz Sholmed dengan nada tegas. Beliau pun menyarankan ketika menjenguk anak di pondok, supaya membawa makanan agar membahagiakan anaknya bahkan teman-teman anaknya.
Ayah Imam Ghozali termasuk orang yang mencintai majelis ilmu. Hubungannya, ketika datang ke majelis ilmu akan memandang Ketika mengaji akan melihat para masyayikh dan ulama hingga di dalam hati terbesit untuk mendoakan anaknya.
“Bayangkan setiap Ahad Legi datang doa ngomong begitu selama bertahun-tahun anaknya mondok di sini, masa tidak diijabah? Saya mah nggak yakin.” Tegas Ustaz Sholmed.
Tidak hanya di majelis ilmu, saat salat tahajud pun begitu. Orangtua senantiasa mendoakan anaknya agar Allah membimbing anak mereka menjadi orang saleh-salihah, sukses, kaya, dan berbakti kepada orangtua. “Sebab kaya saja belum tentu membahagiakan orangtua.” Ungkap Ustaz Sholmed.
Qada dan Qadar Berlaku terhadap Keputusan
Ketiga, keberlakuan qada dan qadar. Adakalanya sesuai dengan keinginan dan adakalanya tidak. “Yakinlah setiap kalau tidak sesuai pilihan kita, berarti bisa jadi itu pilihan Allah, dan pilihan Allah itu yang terbaik.” Jelas Ustaz Sholmed.
Maka dari itu, supaya anak menjadi orang sukses ada tiga langkah yang merupakan jalan para nabi dan wali. Pertama, makan makanan halal. Kedua, duduk di majelis ilmu karena bisa melihat banyak keberkahan, kemuliaan, dan kebaikan hamba yang baik. Akhirnya, orangtua pasti berharap anaknya akan menjadi orang seperti mereka. Ketiga, qada dan qadar berlaku yang menentukan terwujudnya keinginan atau tidak. Tetapi, pilihan Allah adalah yang terbaik.
(Riki Mahendra Nur C./Mediatech An-Nur II)
