Terbaru
pemimpin tidak hanya menjadi tauladan, tapi pemimpin juga menjadi cerminan masyarakat

PEMIMPIN CERMINAN RAKYAT

By on 22 Maret, 2018 0 96 Views

ONE DAY ONE HADITH

Diriwayatkan dari Hudzaifah bin Yaman, Rasulullah SAW bersabda:

يَكُونُ بَعْدِي أَئِمَّةٌ لَا يَهْتَدُونَ بِهُدَايَ وَلَا يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِي وَسَيَقُومُ فِيهِمْ رِجَالٌ قُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الشَّيَاطِينِ فِي جُثْمَانِ إِنْسٍ قَالَ قُلْتُ كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنْ أَدْرَكْتُ ذَلِكَ قَالَ تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلْأَمِيرِ وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ وَأُخِذَ مَالُكَ فَاسْمَعْ وَأَطِعْ

“Akan ada sepeninggalku nanti para pemimpin yang tidak berpedoman dengan petunjukku, dan tidak mengambil sunnah dengan sunnahku. Akan muncul (pula) ditengah-tengah kalian orang-orang (di kalangan penguasa) yang hatinya adalah hati syaithan dalam wujud manusia. Aku (Hudzaifah) bertanya: Apa yang harus saya perbuat jika aku mendapatinya? Beliau bersabda: (Hendaknya) kalian mendengar dan taat kepada amir, meskipun dia memukul punggungmu dan merampas hartamu.” [HR Muslim]

Catatan Alvers

Setiap orang menginginkan pemimpin yang adil dan ideal. Jika seorang pemimpin berlaku baik dalam pandangan mereka maka mereka memujinya dan sebaliknya jika seorang pemimpin tidak sesuai dengan harapan maka mereka berbalik menghujatnya. Kebanyakan orang hanya bisa menuntut pemimpin untuk berlaku adil dan ideal, namun mereka lupa bahkan tidak tahu bagaimana mewujudkan impian mereka. Mereka hanya menghujat para pemimpin dan bermimpi menggantinya dengan pemimpin yang adil dan ideal.

Perilaku ini tidak hanya terjadi masa sekarang, bahkan di zaman sayyidina Ali telah terjadi hal yang sama. Abu Bakar At-Tharthusy mengisahkan bahwa suatu saat ubaidah as-salmany (masuk islam sebelum wafat Nabi namun belum sempat bertemu Nabi SAW) berkata kepada sayyidina Ali : “Wahai amirul mukminin, Kenapa rakyat tunduk pada khalifah Abu bakar dan umar sewaktu keduanya menjabat, sementara mereka tidak tunduk padamu dan khalifah ustman?”. Maka sayyidina Ali menjawab :

لأن رعية أبي بكر وعمر كانوا مثلي ومثل عثمان، ورعيتي أنا اليوم مثلك وشبهك!

“Hal ini terjadi karena rakyat abu bakar dan umar seperti aku dan utsman sementara rakyatku sekarang adalah kamu dan orang-orang sepertimu!” [Kitab: Sirajul Muluk]

Begitu pula terjadi pada masa dinasti Bani Umayyah yaitu abdul malik bin marwan. Rakyatnya saat itu banyak menggunjing keburukannya rakyatnya sehingga sang khalifah mengundang dan mengumpulkan para tokoh dan orang-orang yang berpengaruh dari rakyatnya. Dalam pertemuan itu khalifah berkata, “Wahai rakyatku! apakah kalian semua ingin aku menjadi seperti khalifah seperti Abu Bakar dan Umar?.” Mereka pun menjawab, “ya”. Kemudian khalifah berkata lagi,

إذا كنتم تريدون ذلك فكونوا لنا مثل رجال أبي بكر وعمر

“Jika kalian menginginkan hal itu, maka jadilah kalian seperti rakyatnya Abu bakar dan Umar!” [Syarh Riyadh Al-Shalihin]

Inilah kiranya yang sering dilupakan dan diabaikan, bahwa kalau rakyat menginginkan pemimpin yang ideal maka mulailah dengan menjadi rakyat yang ideal. Bukankah Allah swt berfirman :

وَكَذَلِكَ نُوَليِّ بَعْضَ الظالِمِيْنَ بَعْضًا بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ

“Dan demikianlah kami jadikan sebagian orang zalim pemimpin atas sebagian lainnya disebabkan apa yang mereka perbuat.” (QS. Al-An’aam ayat 129).

Ketahuilah bahwa keberadaan pemimpin yang zhalim adalah hukuman dunia bagi rakyatnya yang juga melakukan kezaliman dengan berbagai maksiat. Maka dari itu Ka’ab al-Akhbar mengatakan:

إِنَّ لِكُلِّ زَمَانٍ مَلِكًا يَبْعَثُهُ اللهُ عَلَى نَحْوِ قُلُوبِ أَهْلِهِ، فَإِذَا أَرَادَ صَلَاحَهُمْ بَعَثَ عَلَيْهِمْ مُصْلِحًا، وَإِذَا أَرَادَ هَلَكَتَهُمْ بَعَثَ فِيهِمْ مُتْرَفِيهِمْ

“Sesungguhnya di setiap zaman ada pemimpin yang Allah tunjuk sesuai dengan keadaan hati masyarakatnya. Jika Allah hendak memperbaiki masyarakat ini maka Allah tunjuk pemimpin yang baik. Dan jika Allah hendak membinasakan mereka, Allah tunjuk pemimpin yang zalim.” [Syuabul Iman]
Dan semakna dengan atsar tersebut, dikatakan :

كما تكونون يولى عليكم عمالكم أعمالكم

“Sebagaimana (perilaku) kalian, maka seperti itulah (perilaku) pemimpin yang akan mengatur kalian. (baik-buruknya) Pemimpin kalian itu sesuai dengan amal kalian.” [al-Maqasid al-Hasanah Fimasytahara alal alsinah]

Maka pada hakikatnya pemimpin itu adalah rakyat itu sendiri. Suatu ketika Al-Hasan al-Bashri (21 H – 110 H) mendengar seseorang yang mendoakan celaka kepada pemimpinnya yang dzalim yaitu Hajjaj bin Yusuf As-Tsaqafy (40 H –95 H) yang keji, suka menumpahkan darah. Maka Al-Hasan berkata kepadanya :

لا تفعل إنكم من أنفسكم أتيتم ، إنا نخاف إن عزل الحجاج أو مات أن يستولي عليكم القردة والخنازير

“Jangan kau lakukan hal itu, karena kalian ada diberi (pemimpin) sesuai dengan keadaan diri kalian. Aku khawatir jika Hajjaj lengser atau mati maka yang memimpin kalian berikutnya adalah kera dan babi” [al-Maqasid al-Hasanah]

Islam tidak memberi ruang untuk kudeta dan makar bahkan sekedar mendoakan kejelekan kepada seorang pemimpin. Imam al-Hasan bin Ali al-Barbahari mengatakan:

وإذا رأيت الرجل يدعو على السلطان فاعلم أنه صاحب هوى وإذا سمعت الرجل يدعو للسلطان بالصلاح فاعلم أنه صاحب سنة إن شاء الله

“Jika Anda melihat ada orang yang mendoakan keburukan untuk pemimpin, ketahuilah bahwa dia adalah pengikut hawa nafsu (aqidahnya menyimpang). Dan jika Anda melihat ada orang yang mendoakan kebaikan untuk pemimpin, ketahuilah bahwa dia Ahlus Sunah, insya Allah.” [Syarh as-Sunnah]

Tiada jalan keluar melainkan bersabar atas perilaku buruk penguasa sebagaimana hadits utama di atas dan berdoa kebaikan. Fudhail bin Iyadh mengatakan :

لو كان لي دعوة مستجابة ما جعلتها الا في السلطان

“Andaikan saya memiliki satu doa yang pasti terkabulkan, tidak akan aku ucapkan kecuali untuk mendoakan kebaikan pemimpin.”

إذا جعلتها في نفسي لم تعدني وإذا جعلتها في السلطان صلح فصلح بصلاحه العباد والبلاد فأمرنا أن ندعو لهم بالصلاح ولم نؤمر أن ندعو عليهم وإن جاروا وظلموا لأن جورهم وظلمهم على أنفسهم وصلاحهم لأنفسهم وللمسلمين

“Jika doa itu hanya untuk diriku, tidak akan kembali kepadaku. Namun jika aku panjatkan untuk kebaikan pemimpin, kemudian dia jadi baik, maka masyarakat dan negara akan menjadi baik. Kita diperintahkan untuk mendoakan kebaikan untuk mereka, dan kita tidak diperintahkan untuk mendoakan keburukan bagi mereka, meskipun mereka zalim. Karena kezaliman mereka akan ditanggung mereka sendiri, sementara kebaikan mereka akan kembali untuk mereka dan kaum muslimin.” [Fiqhud Da’wah Fi Shahih Imam Bukhari ]

Wallahu A’lam. Semoga Allah al-Bari membuka hati dan fikiran kita untuk bersabar dan berprilaku baik serta senantiasa mendoakan kebaikan untuk para penguasa.

Salam Satu Hadits,
DR.H.Fathul Bari Badruddin

ONE DAY ONE HADITH
ALVERS
Sistem SPA+
Singkat
Padat
Akurat

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: