Pelantikan Pengurus: 10 Muharam dan Baiat ketika Berperang

Kamis, 27 Juli 2023 bertepatan dengan malam Asyura, para pengurus Pondok Pesantren Wisata An-Nur II “Al-Murtadlo” tengah berkumpul di acara pelantikan. Acara pelantikan tersebut terlaksana saat malam Asyura karena masyayikh berharap para pengurus mendapat keberkahan pada malam tersebut. Di sana mereka menerima pembekalan dari Dr. KH. Fathul Bari, S.S., M.Ag. Beliau berpesan untuk melakukan pengabdian dengan niat membantu pondok pesantren.

Peristiwa pada 10 Muharam

Asyura bertepatan dengan tanggal 10 Muharam pada kalender Hijriyah. Pada hari itu Allah menolong Nabi Musa a.s. dari kejaran Firaun karena sangat kesal dengan kehadirannya. Oleh karena itu, Firaun pun berniat untuk membunuh Nabi Musa a.s. sekaligus umatnya.

Saat mendengar berita tersebut, Nabi Musa pun segera kabur dari tempat tinggalnya bersama dengan semua umatnya. Mereka kabur berjalan kaki, sedangkan Firaun mengejarnya dengan menunggangi kuda. Tertinggal sejauh apa pun, Firaun akan tetap bisa menyusul Nabi Musa a.s. dan umatnya.

Ketika Nabi Musa dan umatnya terhenti di tepi Laut Merah, mereka bingung ingin kabur ke mana lagi. Sedangkan Firaun dan pasukannya sudah terlihat menyusul di belakang. Jika maju, mereka akan tenggelam ke dalam laut. Jika mundur, mereka akan tertangkap oleh Firaun dan pasukannya.

Akhirnya Nabi Musa berdoa kepada Allah sebagaimana dalam surah Al-Qasas ayat 21-22:

خَرَجَ مِنْهَا خَائِفًا يَتَرَقَّبُ ۖ قَالَ رَبِّ نَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ (21) وَلَمَّا تَوَجَّهَ تِلْقَاءَ مَدْيَنَ قَالَ عَسَىٰ رَبِّي أَنْ يَهْدِيَنِي سَوَاءَ السَّبِيلِ (22)

Artinya, “(21) Maka keluarlah Musa dari kota itu dengan rasa takut menunggu-nunggu dengan khawatir, dia berdoa: “Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang zalim itu”. (22) Dan tatkala ia menghadap kejurusan negeri Mad-yan ia berdoa (lagi): “Mudah-mudahan Tuhanku memimpinku ke jalan yang benar”.”

Setelah itu Laut Merah pun dan membukakan jalan untuk Nabi Musa a.s. dan umatnya sehingga dapat lewat tanpa gangguan. Sedangkan saat Firaun menyeberang, tiba-tiba laut itu kembali ke keadaan semula. Firaun dan pasukannya mencoba menyelamatkan diri, tapi itu tidak berhasil. Mereka tenggelam dan termakan oleh Laut Merah.

Pada bulan ini juga Rasulullah saw. menganjurkan umat Islam untuk berpuasa. Rasulullah saw. bersabda,

إِنَّ هَذَا يَوْمُ عَاشُورَاءَ وَلَمْ يُكْتَبْ عَلَيْكُمْ صِيَامُهُ وَأَنَا صَائِمٌ فَمَنْ شَاءَ صَامَ وَمَنْ شَاءَ فَلْيُفْطِرْ

Artinya, “Sesungguhnya hari ini ialah hari Asyura, tidak diwajibkan bagi kalian untuk berpuasa pada hari ini. Aku (Rasulullah saw.) berpuasa pada hari ini, dan bagi kalian yang ingin berpuasa, puasalah dan bagi yang tidak ingin maka silakan.”

Baiat Sama dengan Perang

“Baiat itu sama dengan perang,” ujar Kiai Fathul Bari, pada saat acara pelantikan pengurus. Bedanya jika berperang, maka kita akan melawan musuh yang membawa pedang ataupun panah. Sedangkan Baiat, kita melawan godaan-godaan yang menyebabkan tidak patuh terhadap pemimpin. Lari dari baiat atau lari dari tanggung jawab sama halnya lari dari peperangan. Hukum lari dari medan tempur ialah haram, seperti yang dikatakan oleh Rasulullah saw.,

الفرار من الزحف من كبائر

Artinya, “Lari dari perang termasuk dosa-dosa besar.”

Maka dari itu, daripada mundur dari perang lebih baik mati dalam keadaan syahid. Seperti Imam Al-Mutanabbi,

عش عزيزا أو مت وأنت كريم # بين طعن القنا وخفق البنود

Artinya, “Hiduplah dengan mulia atau mati dalam keadaan mulia (syahid) di antara tusukan tombak dan bendera-bendera yang berkibar.”

(Farkhan Wildana S/Mediatech An-Nur II)

Leave a Comment

Your email address will not be published.Required fields are marked *

© 2026 Mediatech An-Nur II