Korelasi Kebaikan dengan Manusia
Pandangan Orang Lain terhadap Kebaikan Manusia
Dalam segi sifat, setiap manusia dipandang berbeda-beda bagi insan lainnya. Ada yang menganggapnya baik dan ada pula yang jahat. Namun, meski kelihatannya orang baik, ada kemungkinan dia memiliki keburukan di dalam dirinya. Begitu juga sebaliknya. Pun mereka juga akan mendapatkan balasan yang setimpal nantinya.
Dalam kitab al-Arba’una fi at-Tashawwuf hadis ke-11 tertera:
قَالَ ابْنُ عُمَر رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَشَدُّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ يَرَى النَّاسُ فِيهِ خَيْرًا وَلَا خَيْرَ فِيهِ.
Abdullah bin Umar Ra. berkata bahwa Rasulullah saw bersabda, “Orang paling berat siksanya di hari kiamat yaitu orang yang baik di pandangan orang lain tetapi tidak ada kebaikan sama sekali di dalam dirinya.”
Terkadang ada orang yang melakukan ibadah karena pujian orang lain. Padahal orang yang memujinya pasti akan mati. Akhirnya tidak ada yang memujinya lagi sebagai orang yang giat ibadah. Oleh karena itu, dalam beribadah mestinya dengan niat karena Allah, bukan manusia lain.
Ibaratnya ada seseorang yang meninggal dunia tapi tidak ada yang menziarahinya sebab orang lain menganggapnya bukan orang baik. Akan tetapi ia tenang di dalam kuburnya karena ada amal baik yang ia sembunyikan dari orang lain.
Sedangkan orang kedua yang meninggal dunia, banyak yang menziarahinya. Bahkan sampai ribuan sebab orang lain menganggapnya baik. Namun ia mendapatkan balasan buruk di alam kuburnya. Ia mendapat siksa karena selama di dunia ia beramal baik tanpa keikhlasan.
Kita mesti lebih memilih menjadi orang yang pertama, orang yang tidak baik di mata manusia lain, tapi di dalamnya terdapat banyak kebaikan.
Empat Perkara, Tanda Kebaikan Dunia-Akhirat
Selain itu, ada empat perkara yang apabila ada seseorang yang memperolehnya berarti ia telah mendapat kebaikan dunia dan akhirat dari Allah Swt. Keterangan ini terdapat dalam kitab al-Arba’una fi at-Tashawwuf hadis ke-12:
عَنِ ابْنِ عَبَّاس رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَرْبَعُ مَنْ أُعْطِيَهُنَّ فَقَدْ أُعْطِيَ خَيْرَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ قَلْبًا شَاكِرًا وَلِسَانًا ذَاكِرًا وَنَفْسًا عَلَى الْبَلَاءِ صَابِرًا وَثِقَةً بِمَا تَكْفُلُ اللهُ.
Dari Abdullah bin Abbas Ra., Rasulullah SAW bersabda, “Seseorang yang mendapat empat perkara ini maka ia telah memperoleh kebaikan dunia dan akhirat: hati yang selalu bersyukur, lisan yang senantiasa berzikir, mempunyai jiwa yang selalu bersabar saat datang musibah, dan percaya terhadap apa yang telah Allah jamin.”
Hati yang senantiasa bersyukur kepada Allah akan membuat orang tersebut hidup tenang. Apalagi Allah akan memberi tambahan nikmat bagi orang yang bersyukur dan mengazab orang-orang yang kufur. Sebagaimana tercantum dalam surah Ibrahim ayat 7:
…لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
Artinya, “… Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”
Maka dari itu, orang yang baik sebelum mendapat balasan di akhirat telah menerima ketenangan dalam hidupnya di dunia.
Selain itu, mulut juga mesti berzikir baik dengan selawat maupun zikir-zikir lainnya. Begitu juga ketika terkena musibah, manusia harus senantiasa berzikir kepada Allah agar selalu tenang. Mungkin awalnya sulit untuk berzikir. Tapi kalau sudah terbiasa pasti mudah.
Ketiga, jiwa harus sabar ketika tertimpa musibah. Namun kebanyakan orang sudah merasa panik sebelum terkena musibah. Hal itu karena kurangnya berzikir kepada Allah. Padahal menyembunyikan musibah diri dari orang lain memiliki keutamaan yang luar biasa.
Terakhir percaya terhadap jaminan yang Allah berikan. Sebagaimana dalam surah Hud ayat 6,
وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا
Artinya, “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya.”
Beberapa ulama juga mengatakan, “Allah berani membelah mulut berarti berani memberi makan.” Maksudnya sebagai makhluk Allah tidak perlu khawatir, selagi masih bisa makan berarti rezeki kita masih ada. Yang perlu kiat khawatirkan adalah ketika anak tidak mau belajar terutama mempelajari agama Islam.
Gus Baha’ pernah mengatakan, “Orang lain itu bukan otoritasku. Yang menjadi otoritasku adalah bagaimana mendidik anak agar mau meneruskan sujud kepada Allah. Jika tidak ada yang meneruskan sujud kita siapa lagi kalau bukan anak. Jika ada orangtua yang memprioritaskan membesarkan anak agar menemaninya, berarti mereka orangtua yang kapitalis, egois.”
(Riki Mahendra Nur C/Mediatech An-Nur II)
