Keistimewaan Fuqara
Fuqara di zaman nabi ada yang masyhur dengan sebutan Ashhabusshuffah. Mereka adalah 70-80 Fuqarail Muhajirin yang hidup mengikuti Rasulullah dan tinggal dalam sebuah bangunan di timur kamar beliau. Keterangan lain menyebutkan bahwa Ashhabusshuffah sudah terbiasa tidak makan 1-2 hari.
Saat ini mungkin Ashhabusshuffah bisa kita samakan dengan santri-santri yang hidupnya di pesantren menjadi tanggungan pengasuh.
Ashhabusshuffah adalah orang-orang yang kelak akan menemani Rasulullah di hari kiamat. Dalam kitab al-Arba’una fi at-Tashawwuf karangan Imam Abdurrahman as-Sulami ada sebuah hadis:
عن ابنِ عباسٍ رضي اللهُ عنهما قالَ: وقفَ رسولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يوماً على أصحابِ الصُّفةِ فرأَى فقرَهم وجهدَهم وطيبَ قلوبِهم، فقالَ: «أبشِروا يا أصحابَ الصُّفةِ، مَن بقيَ مِن أُمتي على النعتِ الذي أَنتم عليهِ راضياً بما فيه فإنَّه مِن رُفقائِي يومَ القيامةِ».
Dari Ibnu Abbas Ra: “Suatu hari Rasulullah keluar melihat kefakiran, semangat ibadah dan kesucian hati Ashhabusshuffah. Lalu beliau bersabda ‘Bergembiralah kalian (Ashhabusshuffah). Barang siapa dari umatku yang sifatnya sama dengan kalian, maka mereka akan menemaniku di hari kiamat.’”
Dari hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas di atas bisa kita ambil kesimpulan bahwa Ashhabusshuffah dan orang yang sifatnya sama dengan mereka kelak akan menemani Rasulullah di hari kiamat.
Fuqara dan Telaga Rasulullah
Rasulullah memiliki sebuah telaga yang luasnya membentang sepanjang Aden hingga Oman. Warnanya lebih putih dari susu, dan rasanya lebih manis dari madu. Kelak umat beliau akan meminumnya dan mereka tidak akan pernah lagi merasakan dahaga. Namun, Rasulullah menjelaskan bahwa yang pertama kali mencapainya adalah Sho’alikul Muhajirin.
Mereka adalah orang-orang yang pakaiannya compang-camping, rambutnya kusut dan berantakan-seandainya mereka bertamu ke istana jelas sekali bahwa yang mereka terima adalah penolakan. Mereka tidak pernah merasakan kenikmatan duniawi, mereka diberi hal-hal yang tidak layak bagi mereka, diberi sesuatu yang tidak bermanfaat bagi mereka.
Seperti keterangan yang tercantum dalam kitab al-Arba’una fi at-Tashawwuf:
عن أبي سلمة عن ثوبان رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: حوضي ما بين عدن إلى عمان شرابه أبيض من اللبن وأحلى من العسل من شرب منه شربة لا يظمأ بعدها أبدا وأول من يرده صعاليك المهاجرين قلنا ومن هم يا رسول الله قال الدنس الثياب الشعث الرؤوس الذين لا تفتح لهم أبواب السدد ولا يزوجون المنعمات الذين يعطون ما عليهم ولا يعطون ما لهم وليأتين أقوام فيقولون أنا فلان بن فلان ولأقولن إنكم بدلتم بعدي.
Dari Abi Salamah dari Tsauban Ra.: Rasulullah saw bersabda, “Telagaku membentang sepanjang Aden hingga Oman. Warnanya lebih putih daripada susu. Rasanya lebih manis daripada madu. Barang siapa meminumnya, maka ia tidak akan merasakan dahaga selamanya. Orang yang pertama kali meminumnya adalah Sho’alikul Muhajirin.”
Para sahabat bertanya, “Siapa mereka wahai Rasul?”
Rasulullah menjawab, “Mereka adalah orang yang pakaiannya compang-camping, rambutnya kusut dan berantakan, mereka tidak dibukakan pintu tatkala bertamu. Mereka tidak merasakan nikmat duniawi, diberi hal-hal yang tidak layak bagi mereka. kelak akan datang suatu kaum yang berkata ‘Ini adalah leluhur saya.’” Tetapi kelakuannya jauh berbeda.
Semoga kita mendapatkan keberkahan dari hadis nabi sehingga kita merasa cukup akan dunia dan merasa kurang dalam hal ibadah dan keilmuan.
(Muhammad Abror S/Mediatech)