Pasar Waqiah: Keutamaan Membaca Selawat serta Salam kepada Nabi

Pada bab terakhir salah satu kitab karangan Syekh Abul Khair Muhammad bin Muhammad bin Muhammad Bin Al-Jazari menjelaskan keutamaan membaca selawat serta salam kepada Nabi. Di awal bab tersebut terdapat hadis Nabi Muhammad saw., riwayat Ibnu Haban yaitu:

ما جلس قوم مجلسا لم يذكروا الله فيه و لم يصلوا على نبيهم صلى الله عليه وسلم, إلا كان عليهم حسرة يوم القيمة, وان دخلوا الجنة للثواب 

“Tidak ada majelis yang tidak berzikir kepada Allah dan tidak mau membaca selawat kepada Nabi kecuali itu majelis obrolan biasa, tongkrongan, dan perkumpulan tidak jelas.”

Orang-orang tersebut akan menyesal di hari kiamat karena tidak pernah berselawat kepada Nabi. Meskipun ada orang yang masuk surga tapi tidak pernah berselawat kepada Nabi, juga akan menyesal. Maka dari itu, berhubungan dengan hal itu orang Jawa akan mengakhiri acara seperti selametan dengan selawat dan menjawabnya.

Selawat juga memiliki keutamaan lainnya. Sesuai pada hadis yang kedua dalam bab tersebut, etika seseorang berselawat pada hari Jumat, selawatnya akan sampai kepada Nabi tanpa adanya perantara. Sedangkan pada hari selain Jumat, perlu perantara untuk selawat tersebut sampai kepada Beliau.

Ada pula hadis ketiga yang mana Nabi mengatakan, “Tidak ada orang yang berselawat dan salam kepadaku kecuali Allah mengembalikan ruhku (Nabi Muhammad).” Maksudnya selagi ada orang yang berselawat kepada Nabi Muhammad, maka beliau tetap hidup di makam beliau. Selain itu, tanah dan sesuatu yang ada di dalamnya tidak akan merusak jasad para nabi dan pembaca Al-Quran.

Dalam hadis keempat, seseorang yang banyak membaca selawat kepada Nabi Muhammad, maka pada hari Jumat akan mendapatkan syafaat. Nabi bersabda, “Orang yang mendapatkan syafaat Nabi di hari Jumat hanya orang yang banyak berselawat kepada Nabi.”

Sedangkan bagi orang yang tidak pernah membaca selawat, sama halnya ia adalah orang yang paling pelit. Sebagaimana sabda Beliau dalam hadis kelima, “Orang yang Bakhil bukan orang yang pelit akan hartanya, melainkan orang yang tidak membaca selawat kepada Nabi ketika mendengar ada yang menyebutkan nama Beliau.”

Maka dari itu, kita harus memperbanyak membaca selawat sebab selawat bisa menyucikan diri kita. Dalam hadis keenam dalam bab tersebut, Beliau bersabda, “Perbanyaklah selawat kepada nabi  karena sesungguhnya selawat itu menyucikan diri kita.”

Perbedaan Keutamaan Memperbanyak Membaca Selawat dan Istigfar

Namun dari penjelasan keutamaan selawat yang keenam ada perbedaan ulama, mana yang lebih baik antara banyak membaca selawat atau membaca istigfar? Dari pertanyaan itu, ada yang berpendapat selawat itu bagaikan parfum dan istigfar bagaikan sabun.

Jadi jika orang itu banyak dosa maka perbanyaklah membaca istigfar karena orang yang banyak dosa seperti orang yang belum mandi/masih kotor. Kalau sudah bersih, perbanyak membaca selawat karena orang yang biasa-biasa saja seperti orang yang bersih maka dia cukup dengan memakai parfum. 

Ada pula yang berkesimpulan lebih baik membaca selawat karena langsung perintah dari Allah seperti sebagaimana firman-Nya:

 إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Artinya, “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (Q.S. Al-Ahzab: 56)

Hadis ketujuh, Nabi mengatakan bahwa jika ada orang yang tidak berselawat ketika mendengar nama Nabi maka dia tidak punya hidung. Kata “hidung” tersebut bukan makna hakikat melainkan sebuah kiasan yang menunjukkan terlihat hina atau tidak mulia. Pada hadis kedelapan, Nabi juga bersabda, “Barang siapa yang membaca selawat satu kali kepadaku ketika mendengar namaku maka Allah akan membalasnya dengan sepuluh rahmat-Nya.”

Ketika membaca selawat, harus menyertakan salam kepada Nabi. Ada pendapat ulama bahwa membaca selawat itu kurang karena perintah Allah adalah membaca selawat dan salam kepada Nabi Muhammad. Begitulah keutamaan selawat sampai-sampai ada yang mendirikan majelis. Apabila ada majelis selawat, malaikat yang bertugas mencari majelis-majelis dengan pembacaan selawat di dalamnya akan menyampaikannya kepada Nabi.

Nabi Bersyukur Mendapatkan Kabar terkait Selawat

Ada cerita suatu ketika Nabi Muhammad bertemu dengan Malaikat Jibril dan menyampaikan kabar gembira dari Allah, “Barang siapa yang berselawat kepada Nabi dia akan mendapatkan rahmat dari Allah.” Mendengar kabar itu, Nabi langsung bersyukur dan sujud. Setelah itu, Beliau bercakap-cakap dengan Malaikat Jibril.

Setelah dialog yang panjang, Malaikat Jibril bertanya, “Wahai Nabi, seandainya seumur hidupku aku gunakan untuk berselawat kepadamu, bagaimana, Nabi?”. Nabi menjawab, “Maka Allah akan mencukupi kebutuhanmu dan mengampuni dosa-dosamu.”

Maka dari itu, kita tidak boleh meragukan keutamaan selawat. Kita harus memperbanyak membacanya dengan harapan bisa mendapatkan hikmah yang ada di dalamnya. Bahkan jika ada masalah, bacalah selawat.

(ABU RAIHAN E./MEDIATECH ANNUR II).

Home
PSB
Search
Galeri
KONTAK