أسعد الناس بشفاعتي يوم القيامة من قال لا إله إلا الله خالصا مخلصا من قلبه. (خ عن أبي هريرة)
“Orang yang paling beruntung dengan syafaatku kelak di hari kiamat ialah orang yang mengucapkan lā ilāha illallāh secara tulus dari dalam hatinya.” (HR. Bukhari dari Abu Hurairah)
***
Orang yang paling bahagia dan beruntung dengan syafaat Nabi Muhammad saw., pada hari kiamat adalah yang mengucapkan laa ilaaha illallaah Muhammad rasullullah. Itu merupakan kalimat dengan derajat paling tinggi di dunia.
Kalimat ini mampu membawa kita masuk ke surga. Bahkan orang yang mualaf pun lalu meninggal bisa masuk surga asalkan sudah mengucapkan kalimat tersebut. Maka pantas kalimat laa ilaaha illallaah Muhammad rasullullah disebut Kunci Surga.
Mengucap lafaz laa ilaaha illallaah Muhammad rasullullah dengan keyakinan hati bukan sekadar ucapan lisan. Kalau sampai hati ragu dengan berpikiran Allah tidak memberikan keinginannya bisa membahayakan. Sebabnya bisa berpikiran bukan Dia Tuhannya. Semestinya kita yakin bahwa Allah telah menentukan semuanya untuk kita.
Imam Al-Baidhowi mengatakan bahwa lafaz sa’ad bermakna sa’iid. Orang tidak akan bahagia dengan syafaat Nabi Muhammad kecuali telah mengesakan Allah. Meyakini Allah Maha Esa adalah salah satu bentuk keimanan. Iman ada di hati. Maka orang yang mengucapkan laa ilaaha illallaah Muhammad rasullullah mestinya sesuai dengan keyakinan hati.
Syafaat Nabi sangat banyak sekali. Bahkan orang yang sudah masuk neraka akan masuk ke surga dengan syafaat beliau. Hanya beliau yang bisa memberikan syafaat. Begitupun orang yang sudah ditakdirkan masuk neraka, kalau mendapatkan syafaat Nabi, akan masuk surga.
Selain itu, syafaat beliau bisa membawa kita ke surga tanpa penghisaban amal. Bayangkan saja ada orang di depan kita membawa semua amal selama hidupnya. Pasti kita akan menunggu sangat lama. Apalagi satu tahun di akhirat sama dengan seribu tahun di dunia. Jika kita mendapatkan syafaat Nabi Muhammad, kita akan melewati jalur khusus untuk masuk surga tanpa pemeriksaan.
Syafaat Nabi Muhammad bisa menaikkan derajat kita. Surga sudah memiliki derajat sendiri-sendiri. Syafaat Nabi bisa menempatkan kita di surga yang memiliki derajat lebih tinggi.
Jadi orang yang paling bahagia adalah orang yang mendapatkan syafaat Nabi Muhamad saw., yaitu orang yang senang mengucapkan La ilaha illa Allah, Muhammadun Rasulullah. Ia akan masuk surga melewati jalur khusus tanpa hisab.
Amal Terbaik: Iman dan Bermanfaat bagi Orang Lain
أفضل الأعمال الإيمان بالله وحده ثم الجهاد ثم حجة مبرورة تفضل سائر الأعمال كما بين مطلع الشمس إلى مغربها. (طب عن ماعز)
“Amal yang paling mulia adalah iman kepada Allah semata, lalu jihad, lalu haji yang mabrur, yang lebih mulia daripada amal-amal lainnya, bagaikan jarak antara tempat terbitnya matahari dan terbenamnya.” (HR. Thabarani dari Ma’iz)
***
Asbabun nuzulnya, suatu hari seorang sahabat bertanya kepada Nabi Muhammad, “Apa amalan yang paling mulia?” Beliau menjawab, “Yaitu iman kepada Allah.” Di antara perbedaan derajat para Nabi tergantung sejauh mana ia tahu dan mengenal Allah Swt. Bukan semata tahu.
Adakalanya orang yang terlihat biasa saja. Dia hanya melakukan pekerjaan sesuai rutinannya. Tapi dia istimewa di mata Allah. Tapi ada orang yang ahli ibadah. Namun dia tidak istimewa di hadapan-Nya. Hal ini tergantung kepada
Setelah iman, amalan yang paling mulia adalah jihad lalu haji yang mabrur. Haji mabrur yaitu yang diterima atau tidak bercampur dengan dosa. Memang terkadang ada orang yang haji hanya ingin mendapatkan gelarnya atau riya’. Tentu ini adalah perkara yang keliru.
Lalu ada pertanyaan, kenapa jihad didahulukan daripada haji padahal haji adalah rukun Islam? Karena kemanfaatan jihad untuk orang banyak. Dengan jihad, bangsa dan negara bisa aman. Orang-orang bisa hidup tenang dari peperangan.
Sedangkan haji hanya bermanfaat bagi diri sendiri. Hal ini sesuai dalam kaidah fikih,
المتعدي أفضل من القاصر
Suatu pekerjaan yang bermanfaat bagi orang lain lebih utama daripada yang bermanfaat untuk diri sendiri. Maka dari itu, jihad lebih didahulukan daripada haji.
Jika amal tersebut dirasa masih berat, kita harus mengetahui kelanjutan kisah hadis ini. Setelah itu, sahabat yang bertanya berkata, “Engkau telah memberitahu sangat banyak, Ya Rasulullah. Saya ingin amal yang mudah-mudah saja.” Lalu Nabi Muhammad menjawab, “Pergilah! Kamu tidak berniat untuk melakukan hal baik.”
Jadi amal yang mulia berporos pada dua hal yaitu iman kepada Allah dan melakukan amal bermanfaat bagi orang lain dan makhluk Allah. Orang yang mampu melakukan keduanya, dialah orang yang paling sempurna agamanya. Terlebih lagi, puncak nikmat di surga adalah ma’rifat billah, melihat Allah secara langsung di sana.
Maka kita patut bangga sebagai umat Islam. Ada banyak cara bahagia baik di dunia maupun di akhirat. Syafaat Nabi Muhammad yang menyebabkan kita bisa masuk surga. Amal mulia yang menjadikan kita sebagai orang yang memiliki agama sempurna. Semoga kita bisa mendapatkan syafaat Nabi dan melakukan segala amal baik secara sempurna. Aamiin.
(Riki Mahendra Nur C./Mediatech An-Nur II)
