Sabtu, 13 Desember 2025
Dr. KH. Fathul Bari, S.S., M.Ag.
annur2.net – Akhir-akhir ini banyak beredar pidato Gubernur Jawa Barat H. Dedi Mulyadi, S.H., atau Kang Dedi Mulyadi (KDM) di banyak platform sosial media. Ia mengutarakan 350 tahun Belanda menjajah Indonesia gunung masih utuh, sungai masih jernih, bahkan meninggalkan perkebunan yang terbentang luas dan bangunan yang kokoh.
Namun setelah 80 tahun Indonesia merdeka, gunung gundul, penebangan hutan terjadi secara liar, penambangan ilegal merajalela, banyak bangunan yang gampang roboh, dan jalan-jalan mudah rusak. Dengan tegas, KDM berkata, “Pertanyaannya adalah, siapa yang menjajah itu?” (TikTok/Zona Mahasiswa)
Bisa kita lihat dengan jelas, terutama bencana yang terjadi di Provinsi Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat awal Desember. Banjir besar yang merusak ribuan rumah dan fasilitas dan menelan ribuan korban jiwa. (katadata.co.id dan cnbcindonesia.com) Terlebih lagi banjir itu bukan (hanya) air yang keruh, melainkan ribuan gelondongan kayu yang sudah rapi bahkan bernomor. Hal ini tambah merusak apapun yang banjir lewati.
Di sini, kita akan bukan membahas bencana tersebut lebih dalam, tetapi mengambil hikmah dari musibah yang terjadi tersebut.
Bencana, Alarm Peringatan Kesalahan Kita
Bencana datang bukan sekadar hukum alam. Termasuk banjir ini. Memang benar pelajaran di sekolah mengatakan bahwa banjir terjadi akibat membuang sampah sembarangan, penebangan hutan secara liar, dan sebagainya. Namun, bencana ini menjadi pertanda adanya kesalahan pada kita. Kalaupun pun bukan kita yang bersalah, berarti ada orang lain yang melakukan kesalahan sehingga kita mendapatkan imbasnya.
Allah berfirman dalam surah Al-Anfal ayat 25:
وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً ۖ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
“Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.”
Pernah mendengar cerita semut yang mengganggu manusia? Ada satu semut itu tiba-tiba datang ke tangan seseorang yang sedang makan. Oleh karena merasa terganggu, orang tersebut pun membunuh semut itu. Kemudian orang itu mencari sarangnya lalu menyiramnya dengan air.
Dalam cerita itu hanya satu semut yang mengganggu. Tetapi semut-semut lain bahkan rumahnya terkena guyur oleh orang tersebut. Begitu juga banjir ini, hanya oknum yang melakukan penebangan hutan liar dan penambangan ilegal, tetapi ribuan warga dan rumahnya terkena dampaknya. Artinya, bencana tidak akan menimpa pelaku saja, melainkan orang-orang di sekitarnya juga.
Bencana juga bisa datang sebab maksiat. Banjir tidak hanya datang karena membuang sampah sembarangan, penebangan liar, atau penambangan ilegal. Bencana datang karena banyak dosa dan kemaksiatan. Sebagaimana dalam surah Al-Syura ayat 30:
وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).”
Beserta Tafsir Jalalain ayat tersebut:
}فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ{ أَيْ كَسَبْتُمْ مِنْ الذُّنُوب
“(Maka adalah karena perbuatan tangan kalian sendiri) artinya, sebab dosa-dosa yang telah kalian lakukan sendiri.”
Selain itu, bencana juga muncul karena kita melalaikan kewajiban. Semestinya ketika kita melakukan kebaikan, jangan melakukannya sendiri. Ajak orang-orang di sekitar kita untuk melaksanakan ibadah dan amal baik juga.
Selama ini kita hanya menjadi patung. Ada penebangan hutan liar, penambangan ilegal, bahkan sekadar membuang sampah sembarangan, kita hanya diam saja. Seharusnya kita mengingatkan mereka supaya tidak melakukan hal itu. Sehingga kita bersama-sama melakukan kebaikan sampai ke surga. Almaghfurlah KH. MuhammadBadruddin Anwar pernah dawuh, “Lek awakmu ingin mlebu suwargo, jak en koncomu (Jika kamu ingin masuk surga, ajak temanmu).”
Husnudzon kepada Allah dan Bencana yang Menimpa
Meski banyak bencana yang menimpa akhir-akhir ini, selain banjir juga terdapat erupsi Semeru sehingga beberapa daerah di Jawa Timur tertutupi abu vulkanik, kita harus tetap berprasangka baik kepada Allah. Bencana bisa berupa azab, ujian, bahkan kasih sayang Allah kepada kita dan makhluk lainnya. Hanya perlu melihat bagaimana kita menyikapinya.
Bencana menyebabkan banyak harta hilang, rumah rusak, hewan ternak hilang, dan sebagainya. Berarti ini merupakan ujian. Ketika melihat orang lain mendapatkan bencana, kita harus husnuzhan bahwa Allah mencintainya. Tanda kecintaan Allah yaitu mengurangi dosa melalui bencana yang ditimpakan. Tetapi ketika tertimpa bencana, kita ber-husnuzhan kalau itu adalah ujian bahkan azab. Berarti kita harus introspeksi diri dan bertobat.
Tobat adalah satu-satunya jalan agar kita terhindar dari bencana. Dulu ada dua hal yang bisa menghindarkan kita dari bencana, sebagaimana Sayyidina Ibnu Abbas berkata:
قال ابن عباس : كان فيهم أمانان النبي صلى الله عليه وسلم والاستغفار فذهب النبي صلى الله عليه وسلم وبقي الاستغفار
“Ibn Abbas berkata: Di antara mereka ada dua hal, yaitu keamanan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan istigfar. Namun Nabi saw., pergi, dan yang tersisa hanyalah istigfar.” (HR. Turmudzi)
Maka hendaknya kita senantiasa beristigfar dan meminta ampunan kepada Allah. Iman kita akan meningkat sehingga kecintaan Allah pula meninggi.
Jadi kita harus menjadikan bencana yang terjadi akhir-akhir sebagai pengingat untuk Introspeksi diri. Apakah kita memiliki kesalahan? Kalau ada segera bertobat. Selain itu, senantiasa amar makruf nahi munkar. Tentunya tidak ada yang ingin mendapatkan ujian berupa bencana tetapi bukan kita yang melakukan kesalahannya. Tetap husnudzan karena setiap hal yang Allah berikan ada hikmahnya.
(Riki Mahendra Nur C./Mediatech An-Nur II)
