Takjub Melihat An-Nur II dari Atas

paramotor, Takjub Melihat An-Nur II dari Atas, Pondok Pesantren Wisata An-Nur II Al Murtadlo

“Hahaha.” Gelak tawa warga desa pecah. Siapa sangka ada paramotor yang terjatuh di sawah mereka. Baru beberapa meter saja ke ketinggian, paramotor tersebut jatuh ke sawah dekat Lapangan Senggrong.

Tepatnya pada hari Jumat (29/07/2022), sejak pagi Pak Hadi dan Pak Ali bersiap-siap. Mulai dari mengecek mesin, memasangkan parasut, dan mengecek angin di tempat. Juga menunggu paramotor yang lain datang.

Warga desa yang melewati lapangan terkadang berhenti untuk melihat-lihat. Mereka penasaran alat apa dan untuk apa paramotor yang ada di lapangan itu. Ada juga beberapa warga yang datang karena informasi dari Nyai Hj. Lathifah, pengasuh Pondok Putri An-Nur II.

Warga desa yang berada di sekitar lapangan tak hanya diam. Mereka segera mengambil gambar untuk mengabadikan hal tersebut. Tidak jarang juga yang membuat video. Apalagi paramotor ini baru pertama kalinya di desa mereka.

Kegiatan paramotor ini merupakan salah satu dari kegiatan Hari Bakti TNI AU ke-75. Di hari bakti kali ini TNI AU berkolaborasi dengan Pondok Pesantren An-Nur II “Al-Murtadlo” (Pesantren Wisata).

Sebelumnya pada Hari Kamis, 21 Juli 2022, TNI AU menggelar kegiatan kemasyarakatan. Seperti vaksin dan pengobatan massal. Kegiatan ini merupakan pengenalan terbang paramotor di An-Nur II. Mulai penerbangannya dari Lapangan Senggrong lalu mendarat di depan Aula Ya Qowi.

Setelah sekiranya semua alat siap. Bapak Hadi ingin mencoba terbang. Ia menggunakan jenis paramotor yang memakai roda. Sebelumnya, ada kru yang mengikatkan parasut dan memasang harness, semacam alat pengaman.

Lalu, Pak Hadi menyalakan mesin. Seketika baling-balingnya berputar, membuat paratrike terdorong. Saat berjalannya paratrike ini, parasut akan mengembang ke atas dan menarik paramotor terbang ke atas.

Pak Hadi berhasil terbang dengan selamat. Dari bawah Pak Ali membantu mengarahkan Pak Hadi. Mereka saling terhubung dengan HT (Handy Talkie). Bapak Hadi terbang memutari area persawahan warga dan terbang di atas Pondok An-Nur II.

Selepas melihat-lihat An-Nut II dari atas, Pak Hadi kembali ke lapangan. Saat sesi mendarat ini, Pak Hadi sedikit kesulitan. Namun, landing tetap berjalan mulus karena bantuan arahan Pak Ali. Saat turunnya Pak Hadi, jumlah warga desa yang hadir ke sekitar lapangan meningkat.

Giliran Pak Ali yang menunjukkan performanya. Pak Ali mengikat sebuah spanduk yang bertuliskan “Hari Bakti ke-75 di Pondok Pesantren An-Nur II” untuk membawanya terbang. Pak Ali juga mengikat parasut miliknya. Paramotor miliknya adalah jenis yang mengandalkan kaki.

Pak Ali berdoa sebelum terbang. “Menurut saya, doa merupakan yang terpenting,” paparnya. Saat akan lepas landas, angin berbelok, menyebabkan parasut miring. Sehingga Pak Ali tidak jadi terbang. Akan tetapi, setelah mengetahui arah angin ia kembali mencoba terbang. Lepas landas kedua inilah yang berhasil.

Hanya saja masih belum sepenuhnya sesuai ekspektasi. Masih beberapa meter dari lapangan, sekonyong-konyong mesin mati. Tentunya Pak Ali turun dan terjatuh ke sawah warga. Kejadian ini membuat tawa warga lepas.

Padahal sebelumnya Pak Ali sudah mengecek keadaan mesin. Ketika Pak Hadi terbang juga ada sedikit masalah pada mesinnya. Hal ini membuat Pak Hadi tidak bisa terbang terlalu tinggi, tapi ia masih sempat mendarat dengan selamat.

Sedetik dari jatuhnya Pak Ali, tim paramotor segera menghampirinya. Termasuk Pak Hadi juga. Mereka membantu membawa peralatan paramotor yang ikut jatuh bersama Pak Ali. Untungnya, Pak Ali baik-baik saja.

Menurut Pak Ali, kejadian seperti ini sudah biasa. Pokoknya tidak usah panik. Saat mengalami hal seperti ini kita hanya perlu melakukan dua hal . Satu, harus mencari tempat yang aman. Kedua, wajib mengetahui arah angin. Jika tidak, angin akan membuat pilotnya njulungup, jatuh ke depan dengan keras.

Gara-gara jatuh ke sawah, parasut serta peralatan yang lain basah. Jadi, Pak Ali menjemurnya dahulu sambil mengevaluasi keadaan barusan. Pak Ali tidak bisa menggunakan mesinnya, karena bercampur dengan lumpur dan air.

Kemudian setelah parasut kering, Pak Ali bersiap-siap kembali untuk terbang dan mengibarkan spanduk di atas Pondok An-Nur II. Penerbangan kedua ini berjalan lancar. Mesin berjalan dengan benar. Ini semua hasil dari evaluasi sebelumnya. Akhirnya Pak Ali terbang di atas pondok.

Banyak santriwati yang sudah di depan Aula Ya Qowi, menunggu datangnya paramotor. Sehingga saat Pak Ali berada di atas mereka, mereka berteriak takjub. “Menurut saya, An-Nur II luar biasa.” Kata Pak Hadi.

Saat melihat An-Nur II dari mata elang, Pak Hadi takjub dengan betapa besarnya An-Nur II. “Ternyata An-Nur II luas ya,” ucapnya. Ia juga terpukau karena An-Nur II punya kolam. Terakhir, ia merasa terheran-heran atas banyaknya jemuran di An-Nur II. “Tapi kok banyak jemuran.”

(Ahmad Firman Ghani Maulana/Mediatech)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: