Pandangan Santri dan Strategi Kepala Kamar

Santri, Pandangan Santri dan Strategi Kepala Kamar, Pondok Pesantren Wisata An-Nur II Al Murtadlo

Kebahagiaan memenuhi perasaan para santri baru. Mereka berkenalan dengan teman baru yang berasal dari wilayah berbeda. Permainan yang menyenangkan mempererat tali persaudaraan mereka, baik di kamar maupun di sekolah. Ta’ilma (Taaruf Ila Al-Ma’had) juga turut memperkenalkan mereka kepada Pondok Pesantren An-Nur II “Al-Murtadlo” (Pesantren Wisata).

Muhammad Farhan Hamdani, santri baru asal Balikpapan, Kalimantan Timur, yang berada di kamar 16 Billah 3 mengaku betah di pondok ini. “(Di pondok ini) enak,” ucapnya sambil tersenyum. Bahkan karena adanya banyak teman baru, ia malu untuk saling berinteraksi. Namun setelah beberapa hari di pondok, ia menjadi terbiasa. Ia juga sudah bermain bersama seperti kejar-kejaran, bottle flip, dan permainan lainnya.

Di balik kebahagiaan itu, Farhan memiliki tujuan yang mulia. Di pondok pesantren, dia ingin belajar dan memiliki banyak teman. “(Tujuan saya untuk) belajar, mengaji, dan mencari teman (baru),” jelasnya. Ia sampai ke Pondok An-Nur II dibarengi keinginan dirinya sendiri dan didukung oleh orang tuanya.

Dua teman kembarnya juga mengalami hal serupa, Muhammad Rafa Fajril Isral dan Muhammad Rafi Fajril Isral asal Bontang, Kalimantan Timur. Rafa mengatakan bahwa Pondok An-Nur II ini sangat indah. “Pondoknya asri. (Pohonnya) rindang,” ungkap Rafa. “Ada tempat wisata buat healing,” tambah Rafi.

Strategi Membimbing Santri

Kenyamanan para santri di pondok pesantren tidak lepas dari bagaimana ustaz atau kepala kamar menggembleng mereka. Sebagai salah satu pengurus, Ustaz Muhammad Iqro’uddin, kepala kamar kelas D Billah 3 memiliki trik tersendiri untuk mengasuh anak buahnya. Terlebih lagi rata-rata tempat tinggal anak buahnya berasal dari luar Jawa yang membuatnya lebih telaten. “(Mereka) masih adaptasi. Masih belum terbiasa dengan lingkungan pesantren,” ucap Ustaz Iqro.

Perbedaan daerah asal para santri menyebabkan karakter mereka berbeda pula. . Dengan itu, Ustaz Iqro menyikapi mereka sesuai dengan karakter masing-masing. “Jadi ada cara tersendiri tergantung karakter mereka,” ungkapnya. Ia berkata bahwa jika ada santri yang berkarakter keras, maka hatinya diluluhkan dulu supaya bisa menerima arahan yang diberikan. Selain itu, jika ada santri yang boros, maka diajari supaya lebih hemat dengan dijatah uangnya perhari.

Bahkan ada santri yang mempunyai penyakit bawaan sehingga harus menyiapkan obat dari rumah santri tersebut. “Takutnya obat di sini tidak cocok,” jelas Ustaz asal Singosari itu. Jika ada yang sakit pun, Ustaz Iqro bersedia mengantarnya ke IKS (Instalasi Kesehatan Santri) yang tak jauh dari lokasi kamar.

Setelah tinggal beberapa hari di pondok, rata-rata santri sudah betah. “Rata-rata sudah kerasan. Kemarin dapat dua hari masih menangis,” jelas Ustaz Iqro. Bahkan, Ustaz Uqoibi, koordinator ustaz di Billah 3 berencana untuk mengadakan perlombaan bagi para santri saat libur sekolah menyambut hari raya Idul Adha. “Selain itu, ada juga pembacaan selawat bersama,” tambah Ustaz Iqro. Hal ini bertujuan supaya santri dapat menyegarkan pikirannya atau refreshing.

(Riki Mahendra Nur Cahyo/Mediatech An-Nur II)

1 Comment

  1. Ustadz muhammad faiz nur falahi kepala kamar billa 2 no 7 juga baik sering berkomunikasi dengan saya melalui wa tentang perkembangan adek saya di pondok.dan ustadz nya sabar…the best annur 2.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: