PAHLAWAN TANPA TANDA JASA

PAHLAWAN TANPA TANDA JASA


ONE DAY ONE HADITH

Diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah RA, Rasul ﷺ bersabda :


إِنَّ اللَّهَ لَمْ يَبْعَثْنِي مُعَنِّتًا وَلَا مُتَعَنِّتًا وَلَكِنْ بَعَثَنِي مُعَلِّمًا مُيَسِّرًا


Sesungguhnya Allah tidak mengutusku untuk memberatkan orang lain atau menyakitinya, akan tetapi Allah mengutusku sebagai seorang guru (pengajar) yang memudahkan urusan”. [HR Muslim]

Catatan Alvers

Guru adalah profesi yang sangat mulia, betapa tidak Rasul SAW manusia yang paling agung juga seorang guru sebagaimana hadits utama di atas “Allah mengutusku sebagai guru (seorang pengajar).” Guru digelari sebagai Pahlawan tanpa tanda jasa sebagaimana tercantum dalam Lagu Wajib Nasional yang berjudul “Hymne Guru” karya Sartono berikut : “Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru. Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku. Semua baktimu akan ku-ukir di dalam hatiku. Sebagai prasasti terima kasihku. Tuk pengabdianmu. Engkau sebagai pelita dalam kegelapan. Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan. Engkau patriot pahlawan bangsa Tanpa tanda jasa”.

Rasul SAW sebagai guru yang mengajarkan ajaran Islam tidak pernah memungut biaya dari para sahabat beliau selaku murid. Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh Habib An-Najjar ketika menyifati para Rasul SAW yang diabadikan dalam Al-Quran :


اتَّبِعُوا مَنْ لَا يَسْأَلُكُمْ أَجْرًا وَهُمْ مُهْتَدُونَ


Ikutilah orang yang tiada minta balasan kepadamu dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. [QS Yasin : 21]

Hal ini juga pernah diwasiatkan oleh RKHM Badruddin Anwar Pengasuh pertama PP AN-NUR 2 Malang kepada para santri “Lek mulang ojo arep-arep bayaran. Lek sek arep-arep bayaran anguran dodol lombok” (Kalau mengajar jangan sampai mengharap bayaran. Kalau masih mengharapkan bayaran maka lebih baik jualan cabe saja). Namun demikian bukan berarti guru harus menolak pemberian. Tidak demikian, guru boleh menerima hadiah karena Rasulpun menerima hadiah bahkan melarang kita menolak suatu pemberian. Rasulullah SAW bersabda :


وَلاَ تَرُدُّوا الْهَدِيَّةَ


“janganlah kalian menolak pemberian hadiah. [HR Ahmad]

Sayyidah Aisyah RA berkata :


كَانَ رَسُولُ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – يَقْبَلُ الْهَدِيَّةَ وَيُثِيبُ عَلَيْهَا


“Rasulullah SAW biasa menerima hadiah dan biasa pula membalasnya.” [HR Bukhari]

Setiap menerima hadiah hendaknya kita membalasnya namun jika keadaan tidak memungkinkan maka kita membalasnya dengan doa. Rasul SAW bersabda :


مَن صَنَعَ إِليكُم مَعرُوفًا فَكَافِئُوه ، فَإِن لَم تَجِدُوا مَا تُكَافِئُوا بِهِ فَادعُوا لَهُ حَتَّى تَرَوا أَنَّكُم قَد كَافَأتُمُوهُ


“Siapa yang memberikan kebaikan untuk kalian, maka balaslah. Jika engkau tidak mampu membalasnya, doakanlah ia sampai-sampai engkau yakin telah benar-benar membalasnya.” [HR Abu Daud]

Guru di zaman dahulu mereka hidup dengan segala keterbatasan sebagaimana tergambar dalam lagu yang dinyanyikan oleh Iwan Fals. “Oemar Bakri, Oemar Bakri Empat puluh tahun mengabdi Jadi guru jujur berbakti memang makan hati Oemar Bakri, Oemar Bakri Banyak ciptakan menteri Oemar Bakri Bikin otak orang seperti otak Habibie Tapi mengapa gaji guru Oemar Bakri Seperti dikebiri.”

Lain halnya dengan guru zaman sekarang. Mereka lebih sejahtera karena mendapatkan gaji bulanan bahkan tunjangan sertifikasi. Lantas apakah guru boleh menerimanya? Ya, boleh apalagi jika aktifitas mengajar itu sangat melelahkan dan menyita banyak waktu mulai persiapan, mengajar, mengoreksi ujian dan mengatur ketertiban serta akhlak para murid yang menjadikan guru tersebut tidak lagi punya waktu yang cukup untuk mencari penghasilan lain. Rasulullah SAW bersabda,


إِنَّ أَحَقَّ مَا أَخَذْتُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا كِتَابُ اللَّهِ


“Sesungguhnya yang lebih pantas untuk diambil upah adalah dari pengajaran Al-Qur’an.” [HR Bukhari]

Kendati guru mendapatkan gaji bulanan namun sebenarnya jasanya jauh lebih besar dari apa yang mereka terima. Mengapa demikian? Ya, semestinya guru mendapat bayaran sebesar 60 Juta dari setiap huruf yang diajarkannya. Syeikh Az-Zarnuji menggubah syair :


لَقَدْ حَقَّ أنْ يُهْدَى إلَيْهِ كَرَامَةً :: لِتَعْلِيْمِ حَرْفٍ وَاحِدٍ ألْفُ دِرْهَمٍ


Sungguh guru berhak mendapatkan kemuliaan dari muridnya dari setiap huruf yang diajarkannya berupa uang seribu dirham. (1.000 x Rp.60.000,- = Rp. 60 Juta) [Ta’limul Muta’allim]
Bahkan lebih dari itu, semestinya murid bersedia menjadi budaknya sang guru sebagaimana sayyidina Ali KW pernah berkata :


أَنَا عَبْدُ مَنْ عَلَّمَنِي حَرْفًا وَاحِدًا، إِنْ شَاءَ بَاعَ، وَإِنْ شَاءَ اِسْتَرَقَّ


“Saya adalah budak dari orang yang telah mengajariku satu huruf. Jika ia mau maka ia boleh menjualku, atau tetap menjadikanku sebagai budaknya. [Ta’limul Muta’allim]

Hal tersebut tidaklah mengherankan karena jasa guru amatlah besar dalam kehidupan. Melly Goeslaw menggambarkan dalam syairnya “Guruku tersayang Guru tercinta Tanpamu apa jadinya aku Tak bisa baca tulis Mengerti banyak hal Guruku terimakasihku Nyatanya diriku Kadang buatmu marah Namun segala maaf Kau berikan”. Dalam Qasidah Al-Imam Umar Muhdlar Bin Abdur rahman Assegaf yang dipopulerkan oleh Habib Syeikh disebutkan :


مَنْ أَنَا مَنْ أَنَا مَنْ أَنَا لَوْلَاكُمْ


Aku bukanlah siapa-siapa Aku bukanlah siapa-siapa tanpa bimbingan kalian (para guru).

Syeikh Al-Murtadla Az-Zabidi menukil perkataan ulama :


لَوْلَا الْمُرَبِّي مَا عَرَفْتُ رَبِّي


Seandainya tidak ada guru, niscaya aku tidak mengenal Tuhanku [Kitab Hikmatul Isyraq]

Maka sudah selayaknya para murid hormat kepada guru sebagaimana hormat mereka kepada orang tua. Syeikh Az-Zarnuji berkata :


فَإِنَّ مَنْ عَلَّمَكَ حَرْفًا وَاحِدًا مِمَّا تَحْتَاجُ إِلَيْهِ فِى الدِّيْنِ فَهُوَ أَبُوْكَ فِى الدِّيْنِ


Orang yang telah mengajarimu satu huruf dari masalah agama yang engkau butuhkan maka sesungguhnya dialah bapakmu dalam urusan agama. [Ta’limul Muta’allim]

Maka kiranya tidak berlebihan kalau setiap guru kita nobatkan sebagai “Pahlawan tanda tanda jasa”. Orang bijak mengatakan “Guru memang bukanlah orang hebat, tetapi semua orang hebat itu berkat jasa guru.” Terdapat seorang murid bertanya mengapa guru seakan-akan tidak berharga padahal jasanya luar biasa?. Sang guru menjelaskan : Jika ada seseorang datang kepadamu dan berkata “Di tangan kiriku ada keringat yang telah aku keluarkan untuk menemukan sebongkah berlian yang ada di tangan kananku ini. Tanpa keringat ini, tidak akan ada berlian”, maka siapakah yang mau membeli keringat tersebut dengan harga yang sama dengan harga berlian?. Tentu tidak akan ada. Orang hanya akan membeli berliannya dan mengabaikan keringatnya. Maka biarlah kami, para guru menjadi keringat itu, dan kalianlah yang menjadi berliannya. Sang murid menangis dan berkata : “Wahai guru, betapa mulia hati kalian. Kami tidak akan melupakan kalian, karena dalam setiap permata ilmu kami ada tetesan keringatmu.” [Kanalsembilan net] Wallahu A’lam. Semoga Allah Al-Bari membuka hati kita untuk senantiasa memuliakan guru-guru kita dan mendoakan mereka sampai kapanpun.

Salam Satu Hadits,
Dr. H. Fathul Bari Alvers

NB.
Hak Cipta berupa Karya Ilmiyah ini dilindungi oleh Allah SWT. Mengubah dan menjiplaknya akan terkena hisab di akhirat kelak. Silahkan Share tanpa mengedit artikel ini. Sesungguhnya orang yang copas perkataan orang lain tanpa menisbatkan kepadanya maka ia adalah seorang pencuri atau peng-ghosob dan keduanya adalah tercela [Imam Abdullah Alhaddad]

Pondok Pesantren Wisata
AN-NUR 2 Malang Jatim
Sarana Santri ber-Wisata Rohani Wisata Jasmani
Ayo Mondok! Nggak Mondok Nggak Keren!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: